Langsung ke konten utama

Kulminasi (Bagian 3)



Sulit bagiku untuk menjelaskan duduk perkara hatiku pada Ben. Dia sendiri akan sangat sakit mendengarnya. Luka yang kubuat semakin dalam di hatinya. Sejak awal aku tak ingin melakukan ini. Aku telah mencoba belajar untuk membalas perasaan cintanya padaku. Bahkan aku terus memaksa diriku sendiri untuk memberikan kesempatan padanya menjadi suamiku. Tapi bukankah pernikahan bukan main-main? Ini soal sekali dalam seumur hidup dan untuk selamanya.

“Kamu tahu aku masih membuka kesempatan bagimu untuk menjadi istriku jika kamu membatalkan niatmu untuk menemuinya.”

“Ben, carilah orang lain. Perempuan lain. Pasti ada yang bisa kamu cintai dan tentunya balik mencintaimu.”

“Jenna, ini tak semudah membalikkan telapak tangan.”

“Aku tahu, begitu pula perasaan yang aku simpan selama ini. Tak semudah itu melupakan dirinya.”

“Aku mengerti sakitnya Jenna. Tak bisakah kita obati luka ini bersama-sama.”

“Ben, kamu laki-laki terbaik yang pernah aku temui dan tentunya sangat bodoh meninggalkanmu seperti ini. Melanggar janjiku untuk menjadi istrimu. Aku pergi bukan karena aku orang yang mau ingkar janji. Aku sekarang sedang mencoba menepati janji yang pernah aku buat sendiri.”

“Begini saja. Aku akan menunggumu kembali. Tepatilah janjimu padanya lalu pulanglah ke sini, tepati janjimu padaku. Bukan karena aku mencintaimu dan ingin selamanya bersamamu. Tepati janjimu. Itu saja. Aku akan menunggu sampai kamu kembali, Jenna.”

“Ben, kamu tak perlu melakukan ini.”

“Bukankah cinta itu memang bodoh, Jenna. Kamu kembali menemui orang yang kamu cintai demi sebuah janji bodoh dan aku dengan bodohnya akan menunggumu di sini, sampai kamu kembali.”

Aku meremas gagang payung yang kupegangi sejak tadi dengan tanganku yang semakin mendingin. Melihat Ben mengeringkan air matanya dan mengukir senyum di wajahnya. Hatinya yang lembut yang kulukai sangat dalam masih mau menungguku. Apakah memang cinta sebodoh itu, Ben? Atau kita yang bodoh karena cinta? Tanganku masih menggenggam tangannya erat.

“Berjanjilah padaku Jenna.”

“Janji apa, Ben? Kamu tahu aku bukanlah orang yang bisa dipegang janjinya. Aku selalu punya banyak alasan untuk mangkir.”

“Berjanjilah dengan dirimu sendiri bahwa kamu akan kembali untuk menemui lelaki yang menginginkan dirimu yang menjadi perempuan terakhir di dalam hidupmu.”

Kali ini air mataku yang jatuh. Seandainya aku bisa menerawang ke dalam dada Ben pastilah aku bisa melihat sebentuk hati yang putih bersih di sana. Hati yang tak akan pernah kehabisan cintanya untukku.

“Berjanjilah...”

Gambar dari sini.


Di bawah derasnya hujan aku hanya mampu menganggukkan kepalaku. Beberapa detik kemudian Ben menarikku ke dadanya. Membenamkan kepalaku di sana. Payungku terlepas dan aku tak mampu berkata-kata lagi. Janji itu telah dibuat. Aku tak bisa mengingkarinya lagi.  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana. Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukanny

4 Kerugian Bisnis di Oriflame

Banyak sekali kerugian yang bisa kita dapatkan ketika kita memulai sebuah bisnis, terutama Oriflame. Selama ini banyak dari kita yang memikirkan keuntungan dari bisnis Oriflame tanpa tahu bahwa banyak sekali kerugian tersembunyi yang bisa kita alami saat memulai bisnis di Oriflame. Oriflame memang banyak sekali yang telah membuat orang lain sukses secara finansial. Saya sendiri juga merasakan keuntungan dari bisnis Oriflame ini, sebab setiap bulannya saya selalu mendapatkan keuntungan berupa bonus yang ditransfer ke rekening saya. Sehingga saya dapat mengatakan bahwa karier saya sekarang di Oriflame, itu sebabnya saya akan lebih banyak menuliskan tentang bisnis Oriflame di blog ini dibandingkan menulis review untuk brand lain. Oriflame membayar saya lebih banyak dibandingkan brand mana pun. Dibayar bukan karena memuji ya tapi karena saya jualan produknya. Hahahaha... Sudah tahu kerugian apa yang kita dapatkan saat memulai bisnis di Oriflame? Berikut saya jabarkan satu perrs

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan.  Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya. Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Terma