Langsung ke konten utama

Kulminasi (Bagian 2)



Gambar dari sini.

“Aku lelah berbohong, Ben. Aku lelah.”

“Aku tidak pernah berhenti berharap padamu, Jenna.”

“Kamu lelaki yang baik, kamu akan jatuh cinta lagi kalau aku tak ada di sini.”

“Kamu berniat untuk menetap di sana bersama dia?”

“Bukan bersamanya, Ben. Kamu lupa aku meninggalkan keluargaku di sana? Orang tuaku, saudara-saudaraku. Aku mungkin tak bisa meninggalkannya untuk kedua kalinya. Mereka harus tahu aku masih ada di dunia ini.”

Gambar dari sini.

“Aku mencintaimu Jenna.”

“Aku tahu dan kamu tak perlu mengulangnya karena aku sangat tahu itu.”

Aku merasa beban yang selama ini aku simpan sendiri telah diturunkan dari punggungku. Ben telah tahu tentang perasaanku dan aku tak perlu berpura-pura mencintainya hingga akhir hidupku.

“Aku ingin kita menikah, Jenna.”

“Bagian itu aku juga tahu, Ben.”

“Kalau kamu sudah tahu mengapa kamu masih melakukan hal ini?”

“Aku tak bisa berhutang janji dengan seseorang. Aku harus ke sana. Mendatangi tempat itu dan menyelesaikan janjiku.”

“Bagaimana dengan pernikahan kita? Aku tak mungkin menikah tanpa pengantin Jenna.”

Gambar dari sini.

“Ben, bukankah lebih baik aku menyelesaikan semuanya saat kita belum diikat dalam pernikahan. Setidaknya aku tak ingin melakukan sesuatu yang membuatku menyesal seumur hidup.”

“Kamu menyesal akan menikah denganku, Jenna?”

“Bukan itu maksudku.”

Aku menghela napasku panjang. Bagaimana aku harus membuatmu mengerti Ben?

“Terdengar seperti itu bagiku. Tapi kita masih bisa membatalkan semuanya jika itu yang kamu mau.”

“Aku bingung, Ben. Berikan aku waktu. Jangan buat aku sebagai orang yang jahat di sini.”

“Seharusnya sejak awal kamu telah mengatakan semuanya, Jenna. Tiga tahun dan kamu baru mengatakannya sekarang. Ketika pernikahan sudah di depan mata.”


“Aku terus mengalami mimpi mendatangi tempat itu, Ben. Semuanya terlihat sebagai mimpi buruk. Aku tak ingin terkurung dalam mimpi buruk ini. Kamu mau melihatku tersiksa terus? Hanya karena janji yang belum kutepati aku mengalami mimpi yang sama berulang selama tiga tahun? Apa kamu tahu bagaimana rasanya?”

“Kamu juga tak pernah tahu rasanya ketika seseorang yang aku cintai menghancurkan hatiku begitu saja. Tidak berpikirkah kamu bagaimana sakitnya itu?”

“Baik Ben. Kamu korban di sini. Sekarang jelaskan padaku apakah kita harus menikah dengan keadaan seperti ini? Saling membenci?”

“Aku tak pernah membencimu Jenna.”

“Mulai hari ini, belajarlah untuk membenciku, Ben. Karena aku tidak akan menjadi pengantinmu.”

Gambar dari sini.

Tatapan mata kami begitu lama. Menusuk hingga ke ulu hati. Mungkin ini tatapan yang terakhir aku dapatkan dari Ben.  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana. Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukanny

4 Kerugian Bisnis di Oriflame

Banyak sekali kerugian yang bisa kita dapatkan ketika kita memulai sebuah bisnis, terutama Oriflame. Selama ini banyak dari kita yang memikirkan keuntungan dari bisnis Oriflame tanpa tahu bahwa banyak sekali kerugian tersembunyi yang bisa kita alami saat memulai bisnis di Oriflame. Oriflame memang banyak sekali yang telah membuat orang lain sukses secara finansial. Saya sendiri juga merasakan keuntungan dari bisnis Oriflame ini, sebab setiap bulannya saya selalu mendapatkan keuntungan berupa bonus yang ditransfer ke rekening saya. Sehingga saya dapat mengatakan bahwa karier saya sekarang di Oriflame, itu sebabnya saya akan lebih banyak menuliskan tentang bisnis Oriflame di blog ini dibandingkan menulis review untuk brand lain. Oriflame membayar saya lebih banyak dibandingkan brand mana pun. Dibayar bukan karena memuji ya tapi karena saya jualan produknya. Hahahaha... Sudah tahu kerugian apa yang kita dapatkan saat memulai bisnis di Oriflame? Berikut saya jabarkan satu perrs

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan.  Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya. Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Terma