Langsung ke konten utama

Kulminasi (Bagian 1)


Pukul 12.00 WIB.

Gambar dari sini.

Aku membayangkan wajah Ben yang sedikit kecewa. Entah berapa kali aku telah mengecewakannya. Dia berdiri membelakangiku sambil menghisap rokoknya. Aku merapatkan jaketku. Butiran air yang membasahi bumi masih terus berjatuhan dari langit. Payung yang kupegang dengan tangan kanan seakan tak mampu melindungiku lebih lama lagi. Hujan begitu kuat akhir-akhir ini. Aku masih tak bergerak dari tempatku semula. Ben masih terus membelakangiku. Entah rokok keberapa yang dia hisap. Dia terus menggantinya dengan yang baru ketika rokok itu semakin memendek. Payung yang dia pegang dengan tangan lainnya tak lebih rapuh dari payungku.

Semuanya terasa begitu gelap di bawah guyuran air hujan ini. Kelam. Seperti payung yang kami pegangi masing-masing. Aku bisa merasakan telapak tanganku semakin dingin. Sama halnya dengan hatiku yang bertahun-tahun Ben coba untuk menghangatkannya. Kali ini aku menyimpan kedua tanganku di dada. Bersama gagang payung yang semakin erat aku pegangi. Aku tak mungkin lagi memperbaiki hubungan ini dengan menyentuh bahu Ben dan berharap dia memaafkan karena aku tak bisa mencintainya.

Gambar dari sini.

Mobil-mobil yang berlalu-lalang tak membuat Ben berlalu dari tempat ini. Apakah aku harus meninggalkannya di sini? Sendiri? Kecamuk di dalam hatiku semakin membuatku resah. Tiang-tiang lampu tegak menunggu kami. Mantra apalagi yang akan aku katakan? Ben telah lelah, aku juga lelah. Lelah yang sama. Dia lelah mencintaiku dan aku lelah mencoba untuk mencintai hatinya. Tapi bukan hati itu yang bisa menghangatkan hatiku sendiri. Hatiku tetap beku. Meskipun hati yang ada di hadapanku begitu baik. Dia marah. Dia hanya bisa menunjukkan dengan memperlihatkan punggungnya dan menyembunyikan wajahnya sendiri.

“Ben, kamu bisa sakit kalau terus berada di sini.”

Aku memanggilnya dengan suara keras. Berusaha mengalahkan derasnya hujan. Ben masih tak menyahut. Aku rasa kalimatku memang keliru. Ben tak peduli dengan tubuhnya karena aku tahu, hatinya menanggung rasa yang lebih menyakitkan dibandingkan dengan apa pun yang ada di dunia ini. Aku mengepalkan tanganku yang ingin meraihnya. Apa pun yang aku coba untuk menenangkannya tak lebih akan melukai dirinya lebih dalam lagi.

“Apakah kamu yakin Jenna?” Ben setengah berteriak padaku.

“Aku tak tahu, Ben.”

“Bagaimana mungkin kamu melakukan sesuatu yang kamu sendiri tidak yakin apa yang akan kamu hadapi di sana?”

Air mata hampir jatuh membasahi pipiku yang memang telah basah karena percikan air hujan. Aku tak akan pernah bisa menjelaskan semua alasan yang membuatku melakukan hal terbodoh di dunia. Meninggalkan laki-laki terbaik yang pernah aku temui dan beruntungnya lagi dia sangat mencintaiku.

“Aku tak tahu, Ben.” Aku mengulang jawaban yang sama membuatku semakin bodoh di mata Ben.

“Apakah kamu memang sangat mencintainya?”

“Sejak pertama kali aku jatuh cinta padanya, sejak saat itu pula aku lupa caranya jatuh cinta lagi.”

“Kita akan menikah Jenna, tega sekali kamu melakukan ini padaku?”

Gambar dari sini.

“Aku tidak mengatakan aku akan menikahi orang lain, Ben. Aku hanya ingin berada di tempat yang harusnya aku datangi tiga tahun yang lalu.”

“Aku tahu kamu berharap untuk bertemu dengannya, Jenna.”

“Apakah aku salah berharap bertemu dengan seseorang yang aku cintai? Kamu tak bisa menahanku di sini, Ben.”

“Kalau nanti kamu bertemu dengannya, bagaimana denganku?”

“Aku tak tahu, Ben.”

“Selalu jawaban yang paling aman yang akan kamu pilih. Tak bisakah sekali saja kamu meyakinkan kedudukan hubungan kita yang sebenarnya. Posisiku sebenarnya di bagian mana hidupmu, Jenna?”

Ben memutar tubuhnya. Aku bertatapan dengan matanya yang basah. Aku membuat seorang lelaki yang selama ini aku kenal sebagai lelaki yang tangguh dan tak akan meneteskan air mata, menangis di hadapanku. Aku maju beberapa langkah ke arahnya dan meraih tangannya.

Bersambung...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana. Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukanny

4 Kerugian Bisnis di Oriflame

Banyak sekali kerugian yang bisa kita dapatkan ketika kita memulai sebuah bisnis, terutama Oriflame. Selama ini banyak dari kita yang memikirkan keuntungan dari bisnis Oriflame tanpa tahu bahwa banyak sekali kerugian tersembunyi yang bisa kita alami saat memulai bisnis di Oriflame. Oriflame memang banyak sekali yang telah membuat orang lain sukses secara finansial. Saya sendiri juga merasakan keuntungan dari bisnis Oriflame ini, sebab setiap bulannya saya selalu mendapatkan keuntungan berupa bonus yang ditransfer ke rekening saya. Sehingga saya dapat mengatakan bahwa karier saya sekarang di Oriflame, itu sebabnya saya akan lebih banyak menuliskan tentang bisnis Oriflame di blog ini dibandingkan menulis review untuk brand lain. Oriflame membayar saya lebih banyak dibandingkan brand mana pun. Dibayar bukan karena memuji ya tapi karena saya jualan produknya. Hahahaha... Sudah tahu kerugian apa yang kita dapatkan saat memulai bisnis di Oriflame? Berikut saya jabarkan satu perrs

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan.  Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya. Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Terma