Surat Untuk Takita 2



Dear Takita.
Setelah membaca surat kedua yang Takita tulis Kak Hani juga pegnen cerita soal ibu Kak Hani. Panggilannya Umak. Sebenarnya kakak lebih dekat sama Nekuwan (nenek) dibandingkan sama Umak. Dulu waktu Kak Hani lahir, perekonomian keluarga masih belum stabil dan Nekuwan serta Nekaki berbaik hati untuk merawat Kak Hani dan kakak sulung.

Kakak tak banyak menghabiskan waktu bersama Umak. Tapi setiap waktu yang pernah kami lewati seperti kepingan mozaik yang apabila hari ini digabung menjadi satu menunjukkan betapa Umak sangat sayang dengan Kak Hani. Kakak bukanlah seperti anak lain yang membuat prestasi di sekolah untuk orang tuanya, bukan pula anak yang akan banyak membantu di rumah.


Sejak dulu Kak Hani hanya lebih peduli dengan latihan menulis. Setiap hari tidak belajar. Sekolah hanya sekadar naik kelas dan menyukai Bahasa Indonesia apabila ada pelajaran mengarang. Beda dengan adik dan kakak sulung, mereka selalu berprestasi di sekolah. Tapi Umak selalu mengunjungi Kak Hani di rumah Nekuwan. Tak membedakan Kak Hani dengan anak yang lain.

Saat menyelesaikan bangku SMP, Kak Hani juga disekolahkan di sekolah negeri yang baik. Umak tahu Kak Hani sangat menyukai pelajaran bahasa sehingga memilih SMA Negeri 1 Pemangkat. Waktu itu jurusan bahasa tidak semua sekolah menyediakannya. Kasih sayang Umak membuat dia memberikan kepercayaan penuh bagi Kak Hani sekolah di Kota Pemangkat yang dipisahkan dengan lautan dari Jawai, kampung Kakak.

Begitu juga ketika Kakak memutuskan kuliah, Umak merestui asalkan Kakak masuk universitas negeri. Universitas Tanjungpura. Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, pilihan Kakak. Karena kakak ingin belajar Bahasa Indonesia lebih intensif lagi.

Sekarang meskipun terpisah jarak dan waktu dari Umak. Kakak bisa merasakan dia sangat menyayangi Kak Hani. Semua kepercayaan yang dia berikan pada Kak Hani untuk menentukan jalan hidup kakak sendiri adalah anugerah yang terbesar. Mungkin bagi sebagian orang Umak bukanlah orang yang perhatian. Padahal Umak bukan tidak perhatian atau tidak mau tahu. Dia hanya percaya dengan anaknya. Apa pun pilihan yang Kak Hani ambil.

Tak banyak yang bisa Kak Hani lakukan selain ingin membahagiakan dirinya saat Umak pensiun nanti. Tinggal di Kota Pontianak, berkumpul bersama. Menua bersama Abah dan menikmati kehidupannya dengan tenang. Membawanya ke tempat yang tak pernah dia kunjungi sebelumnya dan membuat dia tersenyum setiap hari.

Ini cerita tentang Umak Kak Hani. Umak yang menyayangi dengan penuh kepercayaan terhadap semua anaknya. Itulah yang membuat Kakak sangat sayang sama Umak Kak Hani di mana pun dia berada saat ini.

Sekian surat Kak Hani buat Takita kali ini ya!
Share:

Posting Komentar

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).

Designed by OddThemes | Distributed by Blogger Themes