10 Oktober 2012

Menikah Denganmu 6


“Clarissya tak ingin menikah dengan Awan.” - Clarissya, 
tak ingin bohong lagi.

Berkumpul di ruang keluarga seperti ini rasanya bukan pilihan yang menarik akhir-akhir ini. Bahkan saat makan malam dan sarapan aku selalu menghindar. Bangun lebih pagi. Berlari keliling halaman hingga acara keluarga itu berakhir. Mengingat-ingat kapan terakhir kalinya aku dan Diana menghabiskan pagi bersama.

Tumblr_mbmzy949lb1rdyzd4o1_500_large
Aku masih ingat pertama kali Diana datang ke rumahku. Dia kehilangan orang tuanya saat usianya masih belia. Satu-satunya keluarga yang mau menerimanya hanya keluargaku. Dia terlihat sangat rapuh dan selalu menggenggam tanganku ketika kami bersama. Bahkan kami tidur di kamar yang sama hingga akhirnya aku memilih untuk mengambil kamar di tingkat paling atas rumah kami. Diana terlihat sangat menyukai kamarku.

Banyak hal yang kami bagi bersama. Bunda juga selalu mengingatkanku untuk mengalah padanya karena Diana tak punya siapa-siapa selain kami. Dia mudah menangis. Aku tak ingin melihat Bunda kesal padaku karena membuat Diana sedih. Abang-abangku juga semua harus memperhatikannya lebih dulu, berbeda dengan masa-masa dulu. Aku serasa seorang putri hingga akhirnya kaki Diana melangkah masuk ke rumah kami.

4682597565_93cc732e83_z_large
Jujur, aku sama sekali tidak marah dengan keadaan yang berbeda dengan dulu. Aku membesar. Kemanjaan bukan sesuatu yang baik untuk dipelihara. Semua memang berubah. Tapi tidak buat Awan. Dia tak pernah berminat untuk bersahabat dengan Diana. Dia selalu ada di sana untukku. Mengulurkan tangannya hanya padaku.

“Clarissya?” Bunda menyadarkan lamunanku yang semakin dalam.

“Jadi?” Ayah ikut-ikut membuat jiwaku kembali.

“Ada sesuatu yang ingin Clarissya sampaikan. Clarissya harap ini tidak akan menjadi masalah besar.”

Aku menarik napasku dalam-dalam. Mataku terbentur pada wajah Diana. Wajah yang merasa menang karena telah memiliki Rama. Seandainya dia tahu aku sekarang sedih bukan karena kehilangan lelaki yang mengkhianati cintaku selama tujuh tahun ini. Aku sedih karena tidak bisa melihatnya lebih awal. Tak menyadari salah langkah. Salah mencintai. Bahkan salah mengira warna yang dimiliki Diana sesungguhnya.

Qfgxn4unyri_large

“Clarissya tak ingin menikah dengan Awan.” Aku akhirnya berhasil mengeluarkan kalimat yang selama ini aku simpan.

Diana tersenyum penuh kemenangan. Rama mengangkat alisnya.

“Kamu bicara apa cucuku?” nenek mendekatiku. Membelai rambut panjangku.

Jantungku berdetak kencang. Takut dengan keadaan yang bisa jadi akan berubah 180 derajat setelah semua orang mengetahui bahwa aku berbohong. Bukan hanya aku, bahkan Awan ikut membohongi keluargaku. Apa yang akan terjadi pada kami?

“Aku tidak mengira kamu akan benar-benar mengatakannya, Sya.” Awan muncul di depan pintu ruang keluarga.

“Aku sudah mengatakannya, sekarang kamu mau apa?” Aku tak mampu menahan rasa marah yang masih melandaku setelah dia menciumku.

Usjtzt5p31k_large

“Kalian bertengkar?” Ayah menebak.

“Pasti kalian cemas sekali dengan pernikahan ini ya?” Jaka, abang tertuaku, tersenyum.

“Itu namanya demam sebelum pernikahan, bukan masalah yang besar.” Indra, abang keduaku, ikut-ikutan sok tahu.

“Kami akan mengurus semuanya. Kalian senang-senang saja.” Bunda menyelipkan kunci mobil di tangan kananku.

“Nenek masih kuat kok untuk mengurus dua pernikahan sekaligus.” Nenek menaik-turunkan alisnya.

“Kamu boleh berkata apa saja Clarissya, tapi jangan bilang kamu tidak akan menikah dengan Awan. Sejak kecil kalian sudah saling mencintai. Tak akan ada sesuatu yang mengalahkan cinta kalian berdua.” Ricky, abang ketigaku membuat kesimpulan yang sama sekali tak pernah aku pikirkan.

Awan menggenggam tanganku dengan senyuman aneh. Diana menggigit bibirnya. Apalagi saat Awan mendaratkan ciuman di tangan kiriku. Rama menarik napas panjang melihat kebahagiaan kami. Kebahagiaan kami? Setidaknya itulah yang orang lain lihat.

“Kamu melakukan sesuatu kan?” aku mencurigai Awan.

“Aku melakukan banyak hal, asal kamu tahu, untuk menikah denganmu.”

Aku menarik tanganku yang masih dipegang olehnya. Menyatakan perang. Awan mengejar langkahku keluar. Ikut naik ke mobil yang aku nyalakan. Kami meninggalkan kediaman keluargaku. Aku harus bicara banyak hal dengan Awan.

“Apa yang kamu lakukan? Sekarang jujur padaku.” Aku menunggu jawabannya.

“Aku hanya memperlihatkan video rekaman ciuman pertama kita. Membuat Rama dan Diana iri setengah mati.”

581428_332296656869756_538442052_n_large

“Tapi itu tidak mungkin membuat mereka tidak peduli dengan ucapanku.”

“Aku menambahkan sedikit cerita bahwa kamu akan membatalkan pernikahan kita.”

“Kamu bohong lagi? Mereka keluargaku, Wan.”

“Aku tidak bohong Clarissya.”

“Tentu saja itu bohong. Kita memang tidak akan menikah.”

“Kita akan menikah, kamu berniat membatalkannya beberapa hari yang lalu.”

“Kamu mengacaukan hidupku, Wan.”

“Mengacaukan bagaimana?”

“Menikah itu bukan kayak punya mobil, bisa gonta-ganti atau bisa diperbaiki kalau rusak.”

“Siapa yang main-main Sya. Aku serius ingin menikah denganmu.”

Kakiku menekan rem karena kaget mendengar ucapan Awan.

“Hentikan omong koosngmu, Wan.”

“Ini bukan omong kosong. Aku ingin menikahimu karena aku ingat dengan janji kita dulu.”

“Janji apa?”

Awan mengambil ponsel yang ada di saku celananya. Memperlihatkan sesuatu padaku. Aku hampir tak percaya dia menyimpan ini.

960e70bbef2510391ab8a0ebe149c600_large

Related Posts

Menikah Denganmu 6
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).