9 Oktober 2012

Menikah Denganmu 5

Menikah Denganmu 1
Menikah Denganmu 2
Menikah Denganmu 3
Menikah Denganmu 4
Pernikahan berbeda dengan persahabatan Wan. - Clarissya.

Lpkumidgzdq_large
Semakin lama aku perhatikan, cincin di jari manisku itu terlihat semakin indah. Diana pasti iri setengah mati dan menginginkan cincin yang lebih indah dari ini. Bagaimana mungkin Rama memberikan cincin yang lain sedangkan dia telah melamar sepupuku itu.

“Apa yang kamu pikirkan?” Awan menatapku yang masih memperhatikan cincin yang sekarang aku kenakan.

“Terima kasih karena tak pernah menyerah menjadi sahabatku.”

“Bukan, sekarang aku calon suamimu.”

Aku mengalihkan pandanganku. Mengarah padanya.

“Kita benar-benar akan menikah?”

“Kenapa tidak?”

“Kita sudah terlalu jauh Wan. Kamu sendiri yang bilang pernikahan bukan mainan. Cincin ini juga bukan mainan. Harganya pasti mahal.”

“Sudah terlanjur, tak mungkin lagi mundur. Orang tuaku setuju, begitu juga orang tuamu.”

“Pernikahan berbeda dengan persahabatan Wan.”

“Apa bedanya? Terlihat sama saja. Dua-duanya ada kamu.”

Aku tersenyum dan membenamkan kepalaku ke dadanya. Sejak dulu aku suka tidur di kamar ini. Dalam pelukan Awan. Terasa hangat dan damai. Sembilan belas tahun dia masih sama seperti yang dulu. Tidak pernah memperlakukanku kurang ajar. Menjagaku hingga terlelap ke dalam mimpi.

“Kita menikah atau tidak pun kamu akan selalu ke sini, tidur di kamar ini. Masuk lewat jendela. Pulang lewat jendela. Lebih baik kita menikah dan tinggal bersamaku.”

“Sampai kapan?”

“Sampai kamu bosan menjadi sahabatku.”

“Aku tak akan pernah bosan Wan. Kamu sahabat terbaikku sejak dulu. Masih akan terus menjadi yang terbaik. Selamanya.”

404171_10151226100795891_1427543337_n_large
“Apa rencana kita?”

“Kamu sendiri yang bilang kita harus menikah, menikahlah denganku.”

“Yakin?”

“Kita tak ada pilihan, kecuali kamu ingin membuat keluargamu malu. Persahabatan kita nantinya tak akan bisa diteruskan lagi. Orang tuaku akan membencimu.”

“Tapi tidak kamu kan Sya.”

“Menurutmu?”

Awan tak menyahut.

“Rencanaku sebenarnya begini, kita menikah untuk beberapa lama. Nanti pada saat semuanya mereda, kita bercerai dan menikah dengan orang yang kita cintai.”

Zayn_50701badddf2b329bc00276d_large
“Kamu masih ingin mencari orang lain untuk dicintai? Sudah ada aku di sini.”

“Aku menginginkan seorang lelaki Awan.”

“Buatmu aku bukan seorang lelaki?”

“Bagaimana ya? Maksudku le-la-ki.”

“Aku lelaki, Sya.”

“Kamu beda, Wan.”

“Apa bedanya?”

Aku sulit menjelaskannya. Maksudku Awan adalah jenis lelaki yang tidak terpikirkan olehku untuk kucintai. Bukan jenis lelaki yang akan membuatku jatuh cinta.

“Maksudmu apa, Sya?”

“Sudahlah jangan dipikirkan.”

“Kamu pikir aku tidak normal?”

“Selama ini memang aku tak pernah melihatmu dengan perempuan lain selain denganku, tapi bukan berarti kamu gay kan?”

“Kalau memang aku gay bagaimana?”

“Tak ada masalah buatku. Toh pernikahan kita buat pura-pura. Malah lebih baik kalau kamu gay.”

“Lebih baik bagaimana?”

“Akhirnya sekarang aku mengerti mengapa kamu tidak memperlakukanku seperti lelaki lain ingin memperlakukanku.”

Aku mendongak saat mengatakan itu. Tatapan kami bertemu. Awan bergerak sedikit dan mengecup bibirku. Napasnya sedemikian dekat. Bibirnya yang basah masih berada di antara belahan bibirku. Tangannya meraih belakang kepalaku, membuat ciuman itu semakin dalam. Detak jantungku rasanya hampir berhenti saat Awan menarik bibirnya.

“Sekarang menurutmu aku jenis lelaki yang mana?”
“Kamu bukan gay?” aku menutup bibirku.

“Kamu lupa delapan belas tahun yang lalu siapa yang menciummu untuk pertama kali dalam hidupmu?”

Ingatanku bergerak ke sebuah taman. Rambutku waktu itu tak sepanjang sekarang. Awan juga tak setinggi dirinya yang saat ini. Kami masih begitu kecil. Aku baru enam tahun dan Awan sembilan. Ibunya sibuk membuat video di taman itu. Merekam semuanya termasuk saat Awan menciumku untuk pertama kalinya. Ciuman pertamaku. Mengapa aku bisa melupakan itu semua?

“Sekarang kamu ingat?”

Aku menutup bibirku dan segera bangkit dari ranjang. Bagaimana mungkin aku mempercayakan diriku untuk menikah dengan Awan. Belum menikah saja dia sudah berani menciumku. Kalau kami menikah apa yang akan dia lakukan padaku? Malam pertama?

“Kamu melihatku seperti itu?”

“Aku lelaki normal, Sya.”

“Bagaimana mungkin?”

“Bukannya seharusnya memang begitu?”

“Aku tidak yakin kita akan menikah, karena aku akan mengatakannya dengan sejujurnya pada orang tuaku. Aku tak akan menikah denganmu, Wan.”

“Kamu akan bilang kamu yang memintaku untuk menikah denganmu demi membalas rasa sakit hatimu pada Rama dan Diana? Tak akan ada yang percaya.”

“Orang tuaku akan mendengarkan apa yang akan kukatakan. Selama ini aku tak pernah bohong.”

“Selama ini itu berakhir kemarin, Sya.”

Aku terdiam dan berjalan ke arah jendela. Berdiri beberapa detik sebelum meloncat pulang.

Related Posts

Menikah Denganmu 5
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).