6 Oktober 2012

Menikah Denganmu 2



Dia tak melamarmu? - pertanyaan yang terus mengganggu Clarissya.

582228_252390834878282_2048039637_n_large

Meja makan saksi bisu pertengkaran penuh air mata kami. Dia mengatakan akan menikahi gadis lain kemudian meninggalkanku. Pada hari yang sama pula dia mengatakan akan meninggalkan gadis itu lalu menikahiku jika memang aku menginginkan hubungan yang serius selama tujuh tahun ini. Apakah selama tujuh tahun ini dia tak sadar satu hal bahwa aku terus mencintainya. Mencintainya dengan gila? Sampai tak mendengarkan kata-kata Awan tentang lelaki yang sesungguhnya. Bahwa Rama tak bisa dipercaya?

1268014508471183_large

“Bagaimana kalau begitu saja? Kita menikah dan aku akan menjelaskannya pada gadis itu?”

Rama mengulang pernyataannya. Aku yang tak percaya mengeringkan air mataku. Kali ini aku tak perlu menangisi apa yang akan terjadi selanjutnya. Rama bukanlah lelaki yang pantas untuk aku nikahi. Tujuh tahun ini aku telah mencintainya dengan membabi-buta, tak seharusnya begitu. Dia tak pantas aku cintai. Sama sekali. Tisu terakhir sudah aku buang ke lantai. Aku menyambar tasku. Ingin segera pergi.

“Clarissya, jangan pergi! Bukankah kita akan menikah?”

“Tidak, aku tak ingin menikah denganmu. Nikahi saja orang lain.”

Kunci mobilku sudah aku genggam. Rama mengejarku. Menghentikan langkahku dengan menarik lengan kiriku. Belum sempat aku keluar dari rumahnya.

“Aku salah, selama tujuh tahun ini memang aku salah, aku belum cukup dewasa untuk menyimpulkan perasaan kita yang sesungguhnya. Bahkan aku tak yakin dengan hubungan kita sebenarnya.”

“Bagaimana dengan pernikahan kita.”

“Tidak akan pernah terjadi.”

“Jangan main-main Sya.”

“Kamu yang jangan main-main. Jangan main-main lagi dengan perasaan perempuan. Cukup aku yang kamu permainkan selama ini. Jangan ada yang lainnya.”

Aku menghentakkan lenganku. Bebas dari Rama. Langkahku semakin menjauh darinya. Tak akan ada lagi Rama kedua yang akan aku bangun di dalam kehidupanku. Usai semuanya. Aku tak ingin memulai sesuatu yang baru. Patah hati satu kali sudah cukup menyakitkan. Dua kali, hatiku bisa hancur.

Tangisanku tak lagi terdengar. Tapi bencana lain siap menungguku, di meja makan yang lain. Ah! Mengapa semuanya harus terjadi di meja makan? Kali ini bedanya hanya sedikit. Kemarin hanya aku berdua dengan Rama. Sekarang lebih banyak manusia di depanku. Kedua orang tuaku. Sepupu-sepupu. Nenek. Saudara laki-lakiku tiga orang. Abang tepatnya. Aku anak bungsu dari empat bersaudara. Semua mata menatapku.

“Sudah saatnya, Sya.”


543312_432696246751851_1502650041_n_large

Suara bunda menguatkan bencana yang menghantamku. Aku tak menyahut. Abang-abangku menunggu. Ayah mengangkat alisnya meminta jawabanku.

“Tentu saja Clarissya akan menikah. Memang sudah saatnya. Dua puluh empat tahun usia yang cukup matang untuk memulai pernikahan. Kehidupan yang baru bersama seorang lelaki yang kita cintai.”

“Kamu baik-baik saja Sya?”

Tumblr_m9uvotaiip1qlzvnlo1_500_large
Saudara sepupuku berbisik perlahan, Diana. Aku memaksakan diri untuk tersenyum. Dia bisa membaca bahwa aku sedang mengalami guncangan hebat minggu ini. Dua hari ini tepatnya. Aku tak bisa berbohong padanya. Kami sudah seperti saudara kembar. Usia kami yang sama membuatku banyak berbagi cerita perempuan tentangnya. Hal-hal yang tak akan aku bagi dengan sahabatku.

“Aku baik-baik saja.”

“Minggu depan kita adakan pesta sebelum menentukan tanggal pernikahanmu Sya.” Ayah seakan menutup sidang sore itu dengan kalimatnya yang diiringi senyuman.

“Memangnya Ayah tahu aku akan menikah dengan siapa?”

“Bukankah selama tujuh tahun ini kamu hanya bersama Rama? Apakah ada orang lain?” Bunda mengerutkan keningnya.

Tumblr_mbgd2l5jaq1qju13ao1_500_large
“Dia melamarmu kan? Abang kemarin lihat dia mampir ke toko emas. Membeli sebuah perhiasan dengan kotak kecil merah. Dia belum memberikannya?” Abang tertuaku, Jaka, mengerutkan dahinya.

“Jadi karena itu semua ini terjadi? Karena semuanya mengira Rama telah melamarku?”

“Dia tak melamarmu?”

Aku mengunci mulutku rapat-rapat. Aku tak tahu harus berkata apa. Semua saudaraku menikah sebelum usianya dua puluh empat tahun. Orang tuaku memang sedikit memaksa menikah saat usia produktif, kata mereka.

Tumblr_mbgd2kfklw1qm59ufo1_400_large
“Dia tak melamarmu?” Awan mengulang pertanyaan yang sama dengan yang aku dengar di rumah. Di meja makan. Di hadapan seluruh anggota keluargaku. Bagaimana aku menjelaskannya pada mereka. Bahwa kisah cintaku tak seindah yang pernah mereka jalani. Bahwa bunda tak pernah sekali pun bertemu dengan lelaki sejenis Rama dalam kehidupannya. Dia hanya bertemu ayah, kemudian menikah. Begitu saja. Masalah memang ada, tapi bukan masalah seperti yang ada dalam kehidupanku sekarang.

“Aku tak tahu apa sebenarnya dia melamarku atau tidak.”

“Tidak tahu bagaimana?”

“Dia memintaku untuk mengatakan pada perempuan yang akan dia nikahi bahwa hubungan yang kami jalani tujuh tahun ini bukan sesuatu yang serius.”

“Dia bilang begitu? Rama?”

W223993599_large

“Iya, Rama yang itu, Rama yang sejak SMA kelas tiga jadi pacarku. Puas?”

Awan tertawa melihatku yang kesal setengah mati.
“Mungkin aku harusnya tak menceritakan ini padamu.”

“Memangnya kamu mau cerita sama siapa lagi? Diana? Dia akan membocorkan semuanya dan membuatmu malu di depan keluargamu.”

“Diana tak akan melakukan hal itu. Dia sepupu terbaikku.”

“Selama ini memang dia sepupu terbaikmu tapi kamu tak pernah tahu bahwa dia telah menikungmu dari belakang.”

Img_7084_large

“Apa maksudmu?”

“Coba jawab sekali lagi, Rama melamarmu atau tidak?”

“Dia mengatakan kalau aku ingin menikah dengannya dia akan membatalkan pernikahannya dengan perempuan itu.”

“Perempuan itu? Dia tak mengatakan siapa namanya? Setidaknya memperlihatkan fotonya padamu?”

“Aku hanya penasaran bagaimana mungkin dia menyimpan perempuan lain rapat-rapat di belakangku.”

“Itu dia masalahnya, sekarang, kamu jawab dengan jujur, kamu ingin menikah dengan Rama atau tidak?”

“Aku sudah meninggalkannya, dia pikir bisa semudah itu mempermainkanku?”

Img01467_large
“Bukan Rama yang salah sebenarnya. Dia bingung untuk memilih.”

“Memilih apa? Selama ini tak ada yang salah denganku.”

“Bukan kamu juga yang salah Clarissya, tapi Diana yang tak menginginkan Rama kamu miliki.”

“Diana?”

“Dialah perempuan itu. Perempuan yang tersimpan rapat selama tujuh tahun ini. Kamu tak pernah tahu karena kamu tak melihatnya dari sisi yang seharusnya. Kamu menganggap bahwa hal yang biasa sepupumu sesekali jalan dengan pacarmu. Bahkan dengan izinmu. Sepengetahuanmu.”

Kali ini aku menangis. Begitu bodohnya.

“Dari mana kamu tahu semua ini?”

“Clarissya, sudah berapa lama aku berada di sini? Menjadi tetanggamu?”

“Kamu teman baikku tapi tak pernah mengatakannya padaku?”

Tumblr_mbgbnigfec1r60zwwo1_500_large

“Karena aku teman baikmu, aku tak ingin menghancurkan kebahagiaanmu. Apalagi Diana keluargamu. Apakah aku bisa menceritakannya? Apa kamu akan percaya?”

“Tidak, aku sama sekali tak percaya, Diana tak akan melakukan hal seperti itu padaku.”

“Lihat, kamu tak percaya padaku kan?”

“Tidak mungkin Diana melakukannya Wan. Dia seperti saudaraku sendiri.”

“Berpikirlah yang jernih Clarissya. Kamu akan melihat kenyataannya dalam waktu dekat. Memangnya Rama memintamu berbicara tentang hubungan kalian tidak serius itu pada siapa?”

“Menurutmu pada siapa?”

“Keluargamu Sya, dia ingin kamu tidak menghancurkan hubungan dua keluarga gara-gara pernikahannya dengan Diana.”

“Aku tak tahu yang mana yang benar Wan. Kamu bisa saja bohong!”

“Untuk apa?”

“Mana aku tahu! Aku mau pulang!”

Tumblr_mbgc0xdjzu1qixogso1_500_large

Related Posts

Menikah Denganmu 2
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).