30 Oktober 2012

Menikah Denganmu 23


 Menikah Denganmu 21

“Aku tak ingin pulang. Aku akan tetap di sini.” - Awan.

Tumblr_m2qzy8z9361r3acaho1_400_large
weheartit.com


Mata kami bertatapan sangat lama. Mata Awan yang selama ini menatapku dengan cara yang sama. Sama seperti pertama kali aku mengenalnya. Pertama kali menjadi tetangganya. Mengisi rumah kosong di samping rumahnya. Wajah kecil yang dulu aku lihat sekarang menjadi wajah yang sangat dewasa. Aku ragu dengan perasaannya bahkan dengan perasaanku sendiri.

Mengapa semua ini terjadi padaku. Apakah cinta harus serumit ini pada setiap manusia? Apakah cinta memang penuh air mata. Aku sama sekali tak mengerti arti perjalanan cintaku. Aku bahkan mulai bertanya-tanya akankah ada laki-laki lain yang muncul dalam kehidupanku selain Awan dan Rama? Jangan katakan ada laki-laki ketiga yang akan menjadi jodohku. Dua saja sudah serumit ini.

Aku menarik tangan Awan. Membawanya ke dalam kamarku kembali. Mengunci kamar terburu-buru.

“Jangan bilang kamu akan memperkosaku.”

“Awan!”

“Aku mau pulang, sini kuncinya.”

“Cium aku dulu.”

“Tidak!”

“Awan!”

“Clarissya, aku tak akan mempertaruhkan pernikahan kita untuk permainan bodohmu. Kalau kamu butuh waktu kamu bisa habiskan seberapa banyak yang kamu mau. Aku yakin kamu akan menyadari perasaanku tulus. Tak ada yang aku sembunyikan.”

“Aku mau keyakinan itu sekarang.”

“Tidak dengan cara seperti ini, Sya.”

“Aku maunya seperti ini.”

“Jangan egois dong. Kamu harus memikirkan perasaanku juga.”

“Memangnya kamu selama ini tidak egois? Kamu memutuskan sendiri jalan yang harus aku pilih. Kamu sendiri yang memintaku kembali pada Rama. Tapi aku tak pernah bisa kembali. Cinta antara kami berdua telah retak. Seberapa keras pun kami mencoba memperbaikinya, retakannya tak akan pernah hilang. Aku tak mau hidup dengan cara seperti itu.”

“Aku juga tak bisa membiarkanmu dengan egois memutuskan sesuatu hanya dengan menciumku.”

“Memangnya salah aku butuh keyakinan?”

“Tapi bukan dengan cara seperti itu. Kamu sedang mempertaruhkan pernikahan kita. Pernikahan kita. Menurutmu itu sesuatu yang tidak berharga? Cobalah untuk menghargai sesuatu.”

Tumblr_mcm4navk6n1rzvbhuo1_500_large
weheartit.com

“Aku sedang menghargainya, Wan. Kalau aku tak menghargainya pasti sekarang aku pasti sudah memintamu untuk menceraikanku.”

“Tidak! Aku tidak akan pernah melakukan itu.”

“Sekarang buktikan, Wan. Buktikan kalau aku harus mempertahankan pernikahan kita.”

“Tidak dengan satu ciuman pun. Butuh banyak bukti, Sya. Semuanya akan aku buktikan jika kamu tidak mengakhirinya.”

Aku mendorong Awan ke dinding dan memegangi wajahnya. Mendekatkan bibirku ke bibirnya. Tapi lagi-lagi Awan mendorongku. Tenaganya jauh kuat dariku. Aku sama sekali tak bisa meraihnya.

“Kamu curang, mentang-mentang tenagamu lebih kuat terus aku tak bisa menciummu?”

“Aku tidak akan menciummu untuk membuktikan sesuatu yang telah aku buktikan sejak lama. Kamu sendiri juga yang bilang akan belajar untuk mencintaiku. Jangan bohong lagi, Sya.”

“Itu sebelum aku tahu kamu lebih suka melihatku bersama Rama dibandingkan mempertahankanku sebagai istrimu.”

“Iya, aku tahu, aku salah karena berbohong padamu. Aku hanya takut kamu yang memintaku untuk meninggalkanku. Aku belum siap untuk melihatmu memilih Rama. Makanya aku lebih baik merelakanmu, Sya. Aku hanya ingin kamu bahagia.”
47424_526531407376288_235269599_n_large
weheartit.com
“Itu yang ada di kepalamu. Padahal aku saat itu sangat berharap kamu mempertahankanku. Aku ingin kamu dengan egoisnya memintaku untuk tetap menjadi istrimu karena kamu sangat mencintaiku.” Aku berteriak dengan berurai air mata. Aku melepaskan semua yang ada di dalam hatiku dengan keras. Aku ingin Awan mendengarnya.

“Sebenarnya kamu tidak perlu melakukan apa-apa untuk membuktikan perasaanmu padaku, Sya. Kamu sendiri sudah menjawabnya. Kamu lebih menginginkanku dibandingkan Rama.”

“Kapan aku bilang begitu?”

“Beberapa detik yang lalu.”

“Aku tidak bilang begitu.”

“Kamu ingin menjadi istriku kan? Tidak ingin jadi milik orang lain?”

Awan tersenyum sambil membelai pipiku.

“Aku tidak bilang apa-apa.”

Aku menolak tangannya dan berbalik membelakanginya.

“Pulanglah, mungkin kamu benar, seharusnya aku berpikir saja dibandingkan mengukur perasaanku dengan sebuah ciuman.”

“Aku tak ingin pulang. Aku akan tetap di sini.”

Related Posts

Menikah Denganmu 23
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).