29 Oktober 2012

Menikah Denganmu 22


 Menikah Denganmu 21

“Cium aku.” - Clarissya.

Tumblr_mc91jdwkpp1qb83glo1_1280_large
weheartit.com


Aku berharap semua ini hanyalah mimpi. Mimpi. Berharap aku segera terbangun. Menemukan diriku masih kecil dan berlari menuju jendela kamar Awan. Memanjat tangga yang telah disediakannya di sana. Bermain bersamanya di dalam kamar. Berdua tanpa gangguan siapa pun. Semua kenangan manis itu harusnya bisa aku kembalikan. Aku rindu. Ingin menyentuh jemari Awan yang mungil. Dia yang dulunya lebih kecil dariku. Sekarang dia sangat tinggi. Dadanya yang bidang. Tak pernah terbayangkan akan melihat dirinya sebagai seseorang yang bukan Awan yang aku kenal belasan tahun yang lalu.

Dia yang menciumku untuk pertama kali. Dia yang melamarku untuk pertama kali dalam hidupku. Bahkan kekasihku yang telah tujuh tahun menjalin hubungan asmara denganku pun tak mampu melakukannya. Dia yang satu-satunya selalu ada untukku dan aku tak pernah menyadarinya hingga hari pernikahanku tiba.

“Kamu tidak apa-apa cucuku?”

Nenek muncul di depan kamarku. Wajahnya yang semakin menua mengingatkanku bahwa aku bukan anak kecil lagi. Anak kecil yang sama sekali tak memikirkan soal pernikahan dan percintaan. Sekarang begitu banyak hal yang tak bisa aku kendalikan. Padahal aku berharap bisa mengendalikan semuanya. Setidaknya apa yang aku inginkan bukan seperti ini.

“Katakan sama Nenek, ada apa?”

Nenek masuk dan duduk di pinggir ranjangku. Aku yang tadinya mengemasi barang-barangku ke lemari berhenti dan ikut duduk bersama nenek. Wanita tua yang begitu sayang padaku. Tak pernah kuragukan kasih sayang nenek. Senyumnya yang membuat aku tenang. Keriput di wajahnya yang semakin bertambah. Sentuhan tangannya yang tak lagi selembut dulu. Rambutnya yang semakin memutih.

“Dulu, waktu Nenek menikah, apakah begitu banyak masalah terjadi?”

“Mau dengar ceritanya? Atau mau dengar cerita tentang ayah dan bundamu?”

“Mana saja yang menurut nenek paling sesuai.”

“Bundamu dulu hampir gagal menikah dengan ayahmu.”

“Kok bisa?”

Tumblr_mc0cczdfnh1ri88qxo1_500_large
weheartit.com

“Tiba-tiba ayahmu ragu dengan perasaan bundamu padanya. Dia bilang ingin menunda pernikahan.”

“Terus?”

“Padahal undangan sudah disebar. Semua persiapan sudah matang. Tapi ayahmu memaksa untuk membatalkan.”

“Apakah ayah tidak mencintai bunda?”

“Dia sangat mencintai bundamu, tapi dia tidak yakin bundamu memiliki perasaan yang sama padanya. Dia takut cintanya hanya bertepuk sebelah tangan.”

“Walaupun bunda sudah setuju untuk menikah dengannya?”

“Itulah rumitnya perasaan, kita tidak bisa mengukur sesuatunya dengan cara yang sama. Selalu saja penilaian setiap orang berbeda. Seperti kita yang beranggapan bahwa bundamu pasti mencintai ayahmu karena dia mau menerima pernikahannya.”

“Bagaimana bunda membuat ayah yakin?”

“Coba tebak?”

“Jangan bilang dia melakukan hal bodoh seperti Rama, karena itu tidak akan membuat orang bertekuk lutut. Kalau Clarissya sih langsung mundur. Cinta tak bisa dipaksa dengan cara apa pun.”

“Dia melamar ayahmu. Di depan banyak orang, di tempat kerja ayahmu. Bertekuk lutut di hadapannya.”

“Melamar?”
8131558855_a283684bfe_b_large
weheartit.com

“Dia bilang jika lamaran itu ditolak dia akan menikahi orang lain. Karena pernikahannya tetap harus dijalankan meskipun berbeda pengantin. Tak mungkin lagi membatalkannya.”

“Bunda melakukan itu?”

“Terkadang cinta memang tak bisa ditebak arahnya. Nenek yakin kamu punya cara sendiri untuk meyakinkan perasaanmu sendiri. Setidaknya membuat Awan meyakinkanmu.”

“Awan bicara apa? Nenek mengarang cerita tentang bunda melamar ayah kan?”

“Untuk apa berbohong? Nenek sudah tua, Clarissya. Kamu cucu nenek. Tidak mungkin nenek berbohong.”

“Entahlah, Clarissya rasa saat ini ketenangan lebih penting.”

Nenek mengecup dahiku dan meninggalkanku sendirian. Saat aku menunduk aku melihat sepasang kaki muncul di depan pintu kamarku. Kepalaku terangkat. Awan berdiri di sana dengan tangan menyilang di dadanya. Terlihat begitu indah.

Normal_7699502270_0564d9030f_b_large
weheartit.com


“Seharusnya istriku sedang masak di dapur, bukannya malah pulang ke kamar lamanya dan mengemasi pakaiannya.”

“Mau apa kamu ke sini?”

“Aku masih berstatus suamimu.”

“Aku tahu itu.”

“Berhentilah bersikap kekanak-kanakkan. Aku sayang kamu Clarissya. Rasanya aneh tidak melihatmu untuk sehari saja.”

“Seharusnya kamu mengerti bagaimana kacaunya pikiranku sekarang.”

“Kamu bisa cerita padaku masalahnya.”

“Masalahnya itu kamu, Wan. Kamu masalah dari semua ini.”

Awan bergerak mendekatiku dan berlutut. Menyodorkan cincin pernikahan yang tadi aku lempar.

“Kembalilah padaku, Sya. Jangan lakukan ini padaku. Aku terlalu mencintaimu. Tak mungkin aku hidup tanpamu. Sehari ini saja begitu aneh tak melihatmu tersenyum.”

“Aku ingin berpikir, lebih baik tinggalkan aku sendiri.”

“Sya...”

“Wan, pulanglah. Biarkan aku di sini beberapa hari.”

“Sampai kapan?”

“Aku belum tahu.”

“Setidaknya kenakan cincin ini lagi agar aku tenang. Agar kamu ingat padaku.”

“Aku akan memakainya.”

“Biar aku yang memakaikannya.”

Jari manisku segera dilingkari cincin berlian itu. Awan menatap mataku dengan tatapan sendunya. Matanya lebih banyak berkata daripada bibirnya. Perlahan dia bangkit dan berjalan keluar dari kamarku. Berdiri di depan pintu masih menatapku. Aku bersiap menutup pintu dengan pelan. Mata kamii bertemu sedemikian lama.

“Aku ingin memintamu melakukan sesuatu padaku. Untuk meyakinkan perasaanku sendiri. Jika setelah itu aku tak merasakan apa-apa, aku serius, kita harus mengakhiri pernikahan ini. Apakah kamu bersedia, Wan?”

“Pernikahan kita taruhannya?”

“Iya. Itupun kalau kamu mau.”

“Tapi aku tak ingin mengakhiri pernikahan kita. Aku mencintaimu Clarissya.”

“Cinta tak bisa dipaksakan, Wan.”

“Kamu juga mencintaiku. Kembalilah padaku.”

“Apakah kamu akan melakukannya atau tidak?”

“Apa itu?”

“Cium aku.”

The-lucky-one_large

Related Posts

Menikah Denganmu 22
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).