28 Oktober 2012

Menikah Denganmu 21




Aku memegangi tangan Rama yang masih koma. Berharap dia bangun dan mempertanggungjawabkan semua perbuatannya. Dia tak bisa seenaknya egois begini. Menikahi Diana tapi tetap menginginkanku. Aku tak bisa melupakan semua yang telah dia lakukan di belakangku. Aku juga tak bisa membuang ingatanku tentang Awan. Semua yang telah terjadi bukan mimpi. Aku tak mau itu semu. Harusnya semua itu nyata. Apakah memang Awan selama ini tak hanya bersandiwara di depan keluargaku? Bahkan di hadapanku. Bagaimana mungkin dia memperlakukanku seperti itu tanpa perasaan apa-apa? Aku melihat tepat di matanya. Ada aku di sana. Dia hanya melihatku. Tak mungkin dia bersandiwara dengan mempermainkan kepercayaanku.

“Clarissya..” sebuah suara yang masih sangat lemah terdengar menyapaku. Suara Rama.

“Iya?” Aku menggenggam tangannya lebih erat lagi.

“Jangan tinggalkan aku lagi, aku tak bisa hidup tanpamu, Sya.”

“Aku di sini, Rama. Aku tak akan meninggalkanmu.”

Jika memang ini takdirku. Aku harus menggenggamnya lebih erat lagi. Aku tak akan melepaskan Rama untuk kesekian kalinya. Tak akan ada yang bisa memisahkan kami lagi. Kecuali Tuhan.

“Maafkan aku selama ini banyak salah sama kamu, Sya.”

“Aku sudah memaafkanmu kok. Istirahatlah. Aku akan memanggil dokter.”

“Jangan pergi, tetaplah di sini.”

Rama menahan tanganku. Aku urung berdiri. Kembali ke kursi yang tadi aku duduki. Tetap memegangi tangannya dan mencoba untuk tersenyum.

“Jangan pernah tinggalkan aku lagi, Sya. Aku tersiksa melihatmu bersama orang lain.”

“Tapi kita sudah menikahi orang lain, Ram. Ini bukan permainan.”

“Aku telah bicara dengan Diana, dia sudah mengikhlaskan semuanya, Awan pun pasti rela kita kembali bersama.”

“Aku benar-benar bingung, Ram. Bagaimana mungkin kita menyakiti perasaan mereka demi kebahagiaan kita sendiri?”

“Bukankah kebahagiaan memang egois?”

“Kalau memang kebahagiaan itu egois aku pasti sudah meninggalkanmu sekarang, Ram.”

“Kamu ingin meninggalkanku? Demi siapa?”

“Demi Awan dan Diana, mereka juga pantas bahagia dan aku rasa aku lebih menginginkan Awan daripada menginginkanmu.”

“Kamu menginginkan Awan? Bukannya kalian selama ini hanya bersandiwara?”

“Aku mencintainya. Aku baru mengerti sekarang. Aku benar-benar mencintainya.”

Aku bangkit dari kursi dan meninggalkan Rama. Tak perduli dengan panggilannya berkali-kali. Aku menginginkan Awan sekarang. Semua yang sudah dia ambil tak bisa dia kembalikan. Dia telah mengambil hatiku yangpenuh cinta dan membawanya bersama kenangan yang pernah ada.

***

Aku menemukan Awan di dalam kamarnya. Memeluk seseorang yang sangat aku kenal. Diana. Sekarang dia ingin menghancurkan hubunganku dengan Awan? Begitukah yang dia inginkan? Membuat aku hancur berkeping-keping tanpa sisa? Apakah Awan bersekongkol bersamanya? Hanya berniat membuat hidupku kacau? Aku tak mungkin kembali pada Rama. Aku tak bisa menerima dirinya lagi. Sekarang orang yang aku inginkan pun tak nampak seperti sebelumnya. Dia bukanlah Awan yang selama ini aku kenal. Aku tak berbentuk. Rupaku lenyap ditelan udara.

“Clarissya?” Awan menyapaku dan sama sekali tak melepaskan pelukannya.

“Aku hanya ingin mengambil barang-barangku. Maaf kalau mengganggu.”

Aku menyambar tasku dan berlalu. Tak sanggup melihat Awan memeluk perempuan lain. Pelukan itu hanya milikku.

“Apakah Rama sudah sadar?” Diana bertanya dengan suara bergetar.

“Iya dia sudah sadar. Aku meninggalkannya di sana sendirian.”

“Sendirian?” Diana terbelalak.

“Maaf Diana, aku tak bisa menerima Rama kembali. Meskipun itu akan membuat dia patah hati dan ingin bunuh diri lagi.”

“Benarkah?” suara Diana terdengar gembira.

“Iya, aku benar-benar tak bisa menerimanya.”

“Aku sebenarnya datang ke sini untuk meminta Awan menjelaskan padamu kalau aku tak bisa berpisah dari Rama. Aku sangat mencintainya. Aku tahu dia selalu menyayangimu. Tapi aku harap seiring berjalannya waktu dia akan benar-benar menerimaku sebagai istrinya.”

“Temuilah dia, dia pasti ingin ditemani.”

Aku menanggapinya dengan dingin sambil mengemasi pakaianku. Diana langsung meninggalkan kami.

“Apakah kamu benar-benar akan pulang?”

Awan memelukku dari belakang.

“Jangan sentuh aku.”

“Sya, dengar penjelasanku lebih dulu.”

“Sudah cukup yang aku lihat dan aku dengar. Aku butuh ketenangan dan ketenangan yang aku butuhkan tidak ada di sini.”

“Kamu tidak hanya datang untuk mengambil barangmu kan? Kamu datang karena ingin mendengar penjelasanku. Jangan bohong.”

“Aku sudah tahu semuanya. Kamu tak perlu membohongiku lagi.”

“Tidak kamu salah, aku berbohong padamu di rumah sakit karena aku tak mau kamu memilihku dan meninggalkan Rama.”

“Aku meninggalkan Rama bukan karena kamu.”

“Sya, aku mencintaimu sejak kecil. Aku melamarmu bukan karena aku ingin ikut dengan sandiwaramu. Aku benar-benar mencintaimu.”

“Jangan sentuh aku, aku mau pulang.”

Aku menenteng tasku dan melepaskan diriku dari dirinya.

“Kamu masih istriku, Sya.”

Aku menarik cincin pernikahan kami dari jari manisku dan melemparkannya ke dada Awan. Aku benci sekali padanya. Bisa-bisanya dia membohongiku demi Rama. Sekarang, dia mengatakan mencintaiku? Mana yang benar? Omong kosong!

Related Posts

Menikah Denganmu 21
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).