27 Oktober 2012

Menikah Denganmu 20




Mataku basah saat melihat Rama terbaring di ranjang dengan wajah sendunya. Bagaimana pun juga dialah lelaki yang aku cintai selama 7 tahun ini. Meskipun semua pengkhianatan yang dia lakukan tak akan pernah mengubah kenyataan bahwa aku pernah mencintainya. Mencintainya dengan begitu dalam. Diana duduk di kursi di dekat ranjang. Matanya juga basah. Dia langsung menyambutku dan memelukku erat.

"Maafkan aku, Sya. Aku tak pernah menyangka semuanya akan seperti ini. Aku tak mau membuat Rama tersiksa lagi. Tolong kembalilah padanya. Aku rela dan tak akan mengganggu hubunganmu dengannya lagi."

Aku menggigit bibirku. Sekarang dua jalan terbentang menyambutku.

"Kalian telah menikah, seharusnya kalian menjaga pernikahan itu Diana. Bukannya membuatnya porak-poranda seperti ini."

"Aku yang bersalah, semuanya salahku. Aku yang egois dan menginginkan Rama menjadi milikku, padahal dia telah memilihmu. Sejak pertama dia telah memilihmu hingga sekarang."

Semua anggota keluargaku menatapku dengan isyarat penantian. Apakah mereka juga menginginkan aku kembali dengan Rama? Tapi janji pernikahanku dengan Awan masih mengikatku. Tidak mungkin bagiku untuk memutuskan semuanya. Ikrar suci yang membuat kami menjadi satu bagian.

"Selamatkan nyawa anak kami, Sya. Dia tak bisa hidup tanpamu." Ibu Rama menatapku dengan penuh harap.

"Aku butuh udara segar, aku keluar sebentar." Awan meninggalkanku dalam kebingungan.

Aku yang tak kalah bingung hanya bisa membiarkan Awan pergi. Aku tahu hatinya pasti terluka sekarang. Tujuh tahun dia menunggu dan baru beberapa hari bahagia itu ia miliki, semua orang ingin merenggutnya. Diana melepas pelukannya dan menggenggam tanganku. Seperti dulu yang selalu dia lakukan.

"Clarissya telah menikah dengan Awan, tidak mungkin pernikahan itu diputuskan begitu saja."

"Kalian tidak perlu bersandiwara lagi, pernikahan itu tak lebih dari pura-pura bukan? Kalian merencanakannya agar Diana bisa menikah dengan Rama. Supaya kami tidak marah pada Diana. Seharusnya Rama menikah denganmu. Kita akan membuat pernikahan yang sesungguhnya." Ayah mendesakku hingga titik terakhir.

"Ayah, Awan mencintai Clarissya dan Clarissya tidak akan memutuskan pernikahan kami."

"Nyawa Rama taruhannya, Sya. Apakah kamu begitu egois dan melupakan siapa yang begitu mencintaimu sampai-sampai dia tak bisa hidup tanpamu."

"Rama yang egois. Dia seharusnya tidak melakukan hal yang seperti ini."

"Kalau kamu tak bisa menerima penjelasan dari kami, setidaknya dengarlah apa yang ingin Rama katakan."

Diana memberikan ponsel Rama.

"Duduklah di sampingnya dan lakukan saja apa yang menurutmu hal yang paling baik. Semuanya ada di tanganmu, Sya." Diana membawaku ke kursi satu-satunya yang ada di samping ranjang.

Satu persatu semua orang meninggalkan ruangan itu. Tinggal aku dan Rama. Rama yang masih bernapas tapi belum juga bangun. Aku menghapus air mataku dan mulai memutar video yang ada di ponsel Rama. Sepertinya dia merekam dirinya sebelum melakukan tindakan bunuh diri ini.

"Sya, aku bingung harus bagaimana. Aku tak tahu lagi mana yang benar dan salah. Aku begitu hilang kendali tanpamu. Aku pikir aku bisa melupakanmu setelah menikahi Diana. Tapi aku tak bisa. Hatiku begitu sakit saat melihatmu meninggalkanku hari itu. Aku tak bisa membayangkan bagaimana rasanya. Aku juga sakit hati melihat kamu menikah dengan Awan. Melihat wajahmu yang tersenyum di samping laki-laki lain. Harusnya aku yang menyarungkan cincin pernikahan di jarimu. Tujuh tahun begitu cepat berlalu saat aku berada di sampingmu. Sekarang, aku harus menerima kamu milik orang lain. Orang lain yang lebih baik dariku. Tapi aku tahu kalian tak pernah menjalin hubungan lebih dari sahabat. Selama ini kamu sendiri yang bilang, jika Awan adalah laki-laki terakhir yang ada di dunia ini kamu tetap tak akan bisa mencintainya. Karena dia sudah seperti saudaramu. Hari ini kamu harus mencabut semua ucapanmu itu. Aku melihat caramu menatapnya. Sama seperti caramu menatapku tujuh tahun yang lalu. Saat pertama kali kita bertemu. Apakah memang kita akan berakhir seperti ini, Sya? Jika memang begitu, lebih baik aku meninggalkan semuanya. Aku tersiksa setiap bangun dari tidur dan menyadari bukan kamu yang akan berada di sampingku. Bukan kamu orang yang setiap pagi akan aku cium dan setiap akan tidur aku cium kembali untuk kesekian kalinya. Jika saja aku diberikan kesempatan untuk memutar waktu, aku ingin menikahimu pada hari pertama aku menyadari aku telah jatuh cinta padamu. Tapi waktu tak bisa aku mundurkan ke masa itu. Sekarang, dunia ini tak lagi sama terlihat bagiku. Lebih baik aku mati, Sya. Bukan karena aku tak mencintaimu lagi, tapi karena mencintaimu sekarang begitu menyakitkan."


Aku tak bisa meneruskan tontonan ini lebih lama. Semakin lama Awan yang akan semakin tersiksa. Aku meletakkan ponsel itu di atas meja dan berlari keluar. Tak peduli dengan panggilan ayah dan bunda yang melihatku berlalu. Aku harus menemukan Awan. Aku berkeliling dan menemukan sosok itu sedang ada di taman. Duduk dengan wajah tenangnya, seperti biasa. Aku berlari menuju ke arahnya.

"Kenapa kamu meninggalkanku di sana sendirian?"

"Rencana kita berhasil kan?"

"Rencana apa?"

"Sekarang Diana telah mengembalikan orang yang kamu cintai seutuhnya dan tak akan mengganggu rumah tangga kalian lagi."

"Maksudmu apa, Wan?"

"Bukannya kamu yang meminta aku untuk bersandiwara bersamamu? Menikahimu supaya kamu mendapatkan Rama kembali."

"Sejak kapan aku memintamu untuk menikahiku agar Rama kembali padaku?"

"Aku mendengar permintaanmu seperti itu, bahwa kamu hanya ingin menggunakan pernikahan kita agar Rama menjadi milikmu kembali."

"Aku tidak mengerti."

"Tugasku sudah selesai bukan? Kembalilah padanya. Milikilah cinta sejatimu, Sya. Aku turut bahagia kamu mendapatkannya kembali."

"Selama ini kamu bersandiwara? Kamu tidak pernah mencintaiku?"

"Sya, buka matamu lebar-lebar. Lihat dengan benar siapa yang kamu cintai dan mencintaimu begitu dalam."

"Kita suami istri, Wan. Kamu tak bisa melakukan ini padaku setelah semuanya terjadi. Apa yang terjadi di hotel itu bukan sandiwara. Kita telah melakukannya."

"Aku sejak awal telah memintamu untuk tidak terburu-buru, tapi kamu yang menginginkannya."

"Apakah kamu tak pernah menginginkanku?"

"Sya, anggap saja semua yang telah terjadi sebagai upahku karena telah membuatmu kembali pada Rama."

"Kamu bilang itu upah? Kamu meniduriku dan kamu bilang itu upah? Kamu pikir aku perempuan macam apa?"

"Aku tidak menidurimu, Sya. Kamu yang meniduriku lebih dulu. Aku lelaki normal dan aku tak bisa menolakmu."

Aku tak sanggup lagi berdiri di depan Awan terlalu lama. Dia bersandiwara? Bagian mana, di bagian mana yang sandiwara dan bagian mana yang tidak? Apakah semuanya sandiwara? Bagaimana dia melakukannya? Tidak mungkin ini terjadi padaku. Aku berlari meninggalkannya dengan tersedu-sedu. Aku hanya bisa kembali ke kamar Rama dan duduk di sampingnya. Tak menjawab satu pertanyaan pun yang keluar dari bibir keluargaku apalagi Diana. Aku hanya ingin menangis dan menghapus semua ingatan yang awalnya aku pikir adalah indah, ternyata tak pernah ada. Tak ada kebahagiaan yang nyata di sana. Semuanya semu.

Related Posts

Menikah Denganmu 20
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).