25 Oktober 2012

Menikah Denganmu 19


524989_372712372808513_1630086261_n_large



Awan memeriksa sebentar ponselnya. Kemudian mematikannya. Aku di dapur. Mencari bahan-bahan yang bisa aku jadikan sarapan kami pagi ini. Sebenarnya aku lebih senang bergulung bersama Awan. Tapi perut kami keroncongan. Ada sereal dan susu di dalam kulkas. Aku segera menuangnya ke dalam mangkok.

“Kita makan ini semangkuk berdua bagaimana?” Aku bertanya sambil tersenyum menggodanya.

Padahal sejak kecil kami selalu berbagi makanan di dalam mangkuk atau piring yang sama. Minum di gelas yang sama. Sekarang rasanya tak lagi seperti dulu. Seakan ada sesuatu yang membuat segalanya jadi istimewa. Sangat. Awan memelukku dari belakang.

“Jalan hidup terkadang sangat mencengangkan.”

Pic2_large

“Kamu mau bicara apa, Wan?”

“Tujuh tahun aku menunggu kamu dan Rama berpisah. Selama itu pula aku harus bersabar. Mendengar semua ceritamu tentangnya. Ekspresi wajahmu saat tertawa karena dia.”

“Bisakah jangan bahas dia?” selera makanku hilang seketika.

“Aku hanya belum percaya sepenuhnya kalau hari ini kamu benar-benar milikku.”

“Aku bisa pulang kalau begitu, rumahku dekat kok.”

“Jangan marah dong, Sya.”

“Aku mau pulang.”

“Jangan.”

1293153802059_f_large

“Lepaskan, aku mau pulang. Kamu menyebalkan.”

“Suka ngambek nih.”

“Biar!”

“Sya...”

“Awan!”

Awan mengangkatku ke bahunya dan membawaku ke kamar beserta semangkuk sereal yang telah diisi susu. Aku tak berontak karena aku memang masih ingin di sisinya. Bagaimana mungkin aku meminta pulang ke rumah sedangkan semua orang menganggapku telah mengganggu rumah tangga Rama dan Diana?

Tumblr_mcb7mxcx7y1qjuevro1_500_large

Awan mendudukkanku di ranjang. Mulai menyendok sereal di dalam mangkuk dan mendekatkan sendok ke mulutku. Rama selama ini tak pernah memperlakukanku seperti ini. Awan begitu berbeda. Walaupun sebenarnya dia sudah sering menyuapiku. Sekarang dia suamiku, itu bedanya.

“Ayo dimakan, tadi katanya lapar?”

“Suapinnya jangan pakai sendok.”

“Pakai apa dong, Sya?”

Aku menunjuk bibirku sebagai isyarat meminta Awan menyuapiku dengan bibirnya. Belum sempat dia menunjukkan wajah mesumnya, ketukan di pintu depan mengagetkan kami. Suara orang-orang yang sangat aku kenal mendengung di pintu. Aku dan Awan bergegas keluar. Menemukan wajah yang belum ingin aku temui. Keluargaku, lengkap di sana, kecuali Diana dan Rama.

“Ada apa, Yah?” Aku melihat wajah ayah yang paling cemas.

“Rama, dia koma. Jenguklah dia.” Suara ayah yang berat membuat hatiku luluh.

“Tadi malam dia meminum terlalu banyak obat penenang, hingga sekarang dia masih koma,” bunda menambah penjelasan ayah.

Mataku bertemu dengan mata Awan. Suamiku itu mengangguk mengizinkan.

“Kami berangkat duluan ya, kalian menyusul saja,” Jaka, abangku, mengakhiri obrolan pagi itu.

44502_443542192349910_1508587237_n_large

Awan menggenggam tanganku erat. Aku jatuh ke pelukannya. Di dadanya air mataku tumpah. Ada Rama? Mengapa kamu meminum obat penenang? Tak bisakah semuanya dibicarakan dengan kepala yang dingin. Bukankah semua ini terjadi karena keteledoranmu sendiri? Apakah harus ditambah dengan keteledoranmu yang lain?

Sumber gambar: weheartit.com

Related Posts

Menikah Denganmu 19
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).