24 Oktober 2012

Menikah Denganmu 18

Tumblr_mc9a3mxswi1qcg1nwo1_400_large




“Lebih penting kamu Clarissya.” - Awan.

Tumblr_lwgbzpgk8a1r6e0nvo1_500_large
Pagi-pagi sekali aku sudah bangun. Melihat wajah Awan sepagi ini dalam cahaya yang remang-remang membuat suasana hatiku sedikit tenang. Aku tidak takut dengan apa yang harus aku hadapi hari ini. Aku tidak peduli sandiwara apalagi yang akan diceritakan Diana. Entah cara apa lagi yang akan dia lakukan untuk membuatku tidak bahagia. Mengapa sedemikian dalam kebenciannya padaku. Padahal selama ini aku selalu berusaha baik padanya.

“Pagi.” Awan menyapaku dengan suara parau.

424579_409062955823208_1181490691_n_large
Aku mencoba tersenyum. Pelukan Awan semakin erat. Pagi ini memang sangat dingin. Hujan terdengar berlarian di atas atap. Semakin lama semakin nyaring bunyinya. Awan pasti semakin enggan untuk bangun.

“Kamu ingat terakhir kalinya kita bermain hujan bersama?” Awan membuka matanya lebih lebar. Pertanyaannya masih diiringi suara yang parau.

“Kapan?”

“Kamu benar-benar lupa?”

“Kamu masih ingat?”

“Bagaimana aku lupa wajahmu waktu itu?”

“Memangnya kenapa dengan wajahku?”

“Kamu benar-benar malu saat bajumu basah dan dadamu terlihat nyata bentuknya.”

“Pantas saja kamu mengingatnya, itu ingatan mesummu yang lain.”

“Aku baru sadar kita tak bisa selamanya bermain seperti itu bersama.”

Tumblr_mathgtglij1runt8fo1_500_large

“Hujan-hujanan permainan untuk anak-anak, ketika aku sadar aku bukan anak-anak lagi, aku harus berhenti bermain denganmu bukan?”

“Tapi seharusnya kita bisa bermain permainan yang lain.”

“Seperti apa?”

“Banyak sih sekarang yang bisa kita mainkan.”

“Bukan sekarang Awan.”

“Aku ingin bermain denganmu sekarang.”

Awan memelukku erat. Menekan kepalaku ke dadanya yang bidang dan hangat.

Tumblr_mbbhqtvcx41rhrb9ko1_500_large

“Ini namanya permainan apa?”

“Namanya bertahan dalam kehangatan, terlalu dingin di luar sana.”

“Bilang saja kalau kamu malas mau bangun.”

“Selama kamu ada di sampingku, aku akan betah di tempat tidur.”

Kukecup dagu Awan perlahan. Awan menunduk dan mengganti dagunya dengan bibirnya sendiri. Menghangatkan bibirku yang beku. Aku hanya bisa terpejam dan membiarkan Awan mendekapku semakin erat.

422912_362252053855650_1962537816_n_large

Lagi-lagi ponsel Awan berdering. Tapi sepertinya Awan tak berniat untuk mengangkatnya. Dia tak menghentikan kegiatannya sama sekali.

“Kamu tak akan mengangkatnya?”

“Ada istriku di sini yang harus aku utamakan. Telpon bisa menunggu bukan?”

“Bagaimana kalau telponnya penting.”

“Lebih penting kamu Clarissya.”

“Tapi aku ingin tahu siapa yang menelpon kita sepagi ini.”

“Kamu tak ingin tahu.”

“Kamu tahu siapa yang menelpon?”

Tumblr_mayno21k1w1qmnbx8o1_500_large
“Tentu saja, aku mengatur nada dering tertentu untuk setiap pemanggil dan aku tahu itu bukan dari orang yang ingin aku layani panggilan telponnya.”

“Siapa?”

“Diana.”

“Oh sama sekali tidak perlu dilayani, karena kamu harus melayaniku sekarang Awan.”

Awan tersenyum dan memagutku. Menghangatkan pagiku dengan cintanya. Masih saja ponselnya berdering tanpa henti dan kami tak beranjak dari ranjang.

1274629409545_f_large

Related Posts

Menikah Denganmu 18
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).