23 Oktober 2012

Menikah Denganmu 17


Mohon maaf sebelumnya, dua hari tidak memperbaharui cerbung ini.
 
Dua hari kemarin benar-benar menguras energi. Ikutan acara photo clinic, ada lombanya juga dan kalah, belum lagi kecewa gagal menjadi 10 blogger yang masuk nominasi untuk mendapatkan hewan kurban dari Extra Joss. *abaikan*
 
Sehari saya mendapatkan dua kekalahan. Mungkin saya akan menang lomba yang lain, sebenarnya sehari sebelumnya sudah menang lomba sih, dapatnya Samsung Galaxy Y, nanti saya ceritakan ya!
 
Akhirnya saya berhasil melanjutkan cerbung ini karena banyak yang menagihnya. Ini belum jadi episode terakhir, jadi siap-siap buat lanjutan berikutnya.

Semuanya sudah dalam kepala saya tapi memaksa tangan ini mengetik sepanjang 4-5 halaman bukanlah hal yang mudah dengan tangan kanan yang pegal. Tubuh ini juga butuh dipijit. Ada yang menyarankan untuk spa, sepertinya menarik.

Terima kasih buat teman-teman setiap pembaca Menikah Denganmu, selamat membaca!
Emo pinjam di sini.



 “Aku pikir, belajar mencintaimu akan lebih mudah dari banyak hal di dunia ini.” - Clarissya.

“Apa pun yang ada di dalam foto itu sudah berlalu, sekarang Awan yang Clarissya cintai.”

“Kalau memang kamu mencintai Awan, seharusnya kamu tidak berusaha mengganggu rumah tangga Diana. Dia baru saja menikah, kamu juga baru saja menikah dengan Awan. Jalani masing-masing rumah tangga kalian.” Ayah meledak.

“Maksud Ayah apa? Clarissya tidak mengganggu rumah tangga mereka.”

“Saat Diana pacaran dengan Rama, kamu juga pacaran dengannya kan? Sampai kami semua mengira kalian yang akan menikah,” bunda tak kalah sengit menghakimiku.

“Kesabaran setiap orang ada batasnya Diana, kamu harusnya tahu bahwa yang selama ini saling mencintai adalah aku dan Rama. Kalaupun kamu memang mencintainya bukan dengan cara menidurinya,” kalimat itu keluar dari bibirku saat air mataku berloncatan keluar.

Plaaaakkk!!!

Tangan Diana menampar pipiku sebelah kiri. Mata Diana ikut basah.

“Kamu tidak berhak menghinaku!” Diana berteriak histeris.

“Kamu juga tidak punya hak untuk berbohong pada orang tuaku!”

Pipiku memerah. Semerah bola mataku yang banjir air mata.

“Diana, kamu sudah mendapatkan apa yang kamu mau, nikmatilah. Untuk apa kamu meneruskan sandiwaramu ini?” Awan berkata dengan lembut tapi sangat menusuk.

“Mengapa kamu begitu kepada Diana, Sya?” Nenek membelai rambut Diana. Sepupuku itu terisak dengan air mata buayanya.

Rama diam saja. Mematung di samping Diana.

“Katakan sesuatu, Ram. Katakan siapa yang benar! Katakan siapa yang menidurimu kemudian mengatakan dirinya hamil untuk memaksamu menikahinya?” teriakanku membahana.

“Maafkan aku, Sya. Kalau aku bisa mengatakan sejujurnya, mungkin semua ini tidak akan terjadi. Seharusnya aku jujur mengatakannya padamu tentang Diana yang bersikap seolah-olah aku kekasihnya. Seharusnya aku menolaknya sejak awal. Aku telah salah menilai dirinya. Aku salah menilaimu. Aku salah menilai diriku sendiri. Aku mencintaimu. Tapi aku benar-benar terperangkap. Diana terus saja menggodaku. Aku tidak kuat dengan semuanya.” Rama menutup wajahnya.

“Pulang ke rumahku saja yuk.” Awan menarikku agar meninggalkan keluargaku.

Langkah kami beriringan. Awan menghapus air mataku. Seandainya tidak ada Awan di sampingku, aku tak tahu bagaimana menghadapi semua orang yang terus membuatku tersudut.

***

Awan menutup pintu kamarnya. Menguncinya. Aku berbaring di ranjang yang sejak kecil telah menjadi tempat tidur keduaku. Langit-langit yang sama. Bau harum yang sama. Sekarang terasa sangat berbeda. Awan tiba-tiba telah berada di atasku. Bertelanjang dada.

Tumblr_m6utbqw5vk1qk8huqo1_400_large

“Aku tahu kamu sangat suka dengan dadaku, sekarang kamu boleh menyentuhnya jika kamu suka.”

Aku terbahak. Awan, sejak kecil selalu sama. Membanggakan sesuatu yang tidak bisa aku tandingi. Bahkan dulu waktu kumisnya baru mulai tumbuh, dia memamerkannya seharian. Jelas-jelas aku tidak akan bisa melawan kumisnya itu.

“Terima kasih karena selalu percaya padaku.”

“Terus?”

“Aku pikir, belajar mencintaimu akan lebih mudah dari banyak hal di dunia ini.”

“Sungguh?”

Mata bening Awan terlihat berbinar. Aku menjawabnya dengan anggukkan.

“Sekarang minggir, aku mau mandi.”

“Apa kamu tidak suka berada di dekatku? Aku bau ya?”

“Kamu tidak bau, Wan. Aku hanya lelah dan ingin mandi.”

Awan beringsut memberikan ruang padaku. Aku berdiri dan melangkah menuju kamar mandi, tapi langkahku terhenti karena Awan menggendongku.

“Turunin ah!”

“Mandi sama-sama, aku juga mau mandi.”

“Awan!”

“Boleh kan?”

“Malu tahu!”

Aku memukul dadanya perlahan. Aku malu, tapi malu. Awan menutup pintu kamar mandi dan menguncinya saat kami berdua telah berada di dalam. Eits... tidak boleh mengintip ya!

Related Posts

Menikah Denganmu 17
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).