18 Oktober 2012

Menikah Denganmu 14



“Kamu cemburu dan kamu belum mau pulang.” - Awan, merasa menang.

tattoo tumblr photography | Tumblr

Aku terbangun dan menyadari masih berada dalam pelukan Awan. Dadanya yang hangat begitu nyaman. Selama ini kami begitu dekat tapi begitu banyak hal yang aku tak tahu tentangnya. Tepatnya tak menyadari keberadaannya sebagai seorang lelaki. Dia yang dulu selalu mau main masak-masakkan denganku. Tak pernah keberatan mendorong ayunan untukku. Membuatku mengayun tinggi. Apakah sejak dulu, sejak kita kecil kamu sudah menyimpan perasaan itu?

“Mau sampai kapan melihatku seperti itu?”

Fotos del muro
Awan membuka matanya. Mata yang begitu bening. Mata yang selama ini menatapku dengan caranya sendiri dan aku tak tahu itu. Aku tergagap dan segera menarik kepalaku yang kemudian di tahan Awan.


“Tetaplah di situ.”

“Terus kenapa kamu bertanya seperti itu?”

“Aku hanya ingin tahu apa yang kamu lihat di wajahku. Jangan-jangan kamu baru sadar aku begitu tampan?”

“Tampan? Jangan memfitnah diri sendiri.”

“Menurutmu aku kurang tampan? Banyak cewek mengejarku lo sejak SMA.”

“Terus, kenapa tak jadian dengan mereka?”

“Karena aku punya janji bodoh dengan sahabat kecilku. Aku juga takut dia akan dikecewakan oleh lelaki yang dia cintai. Ternyata aku benar. Dia memang dikecewakan oleh kekasihnya sudah tujuh tahun lamanya bersama dengannya.”

Google Image Result for http://25.media.tumblr.com/tumblr_lk6hh2IozO1qg4xgso1_500.jpg

“Sampai kapan kamu akan berhenti melihatku sebagai perempuan yang dikecewakan oleh laki-laki paling brengsek di dunia ini?”

“Sampai kamu belajar untuk mencintaiku. Aku membuka lebar kesempatan untukmu mendapatkanku kembali.”

“Mendapatkanmu kembali?”

“Iya, kamu tak mau mendapatkan seorang lelaki baik seperti aku?”

“Percuma aku bicara denganmu, kamu selalu bercanda dan tidak serius.”

Aku terdiam. Awan juga terdiam. Kepalaku masih bersandar di dadanya.

“Kamu mau aku bicara yang serius? Sekarang?”

“Memangnya kamu bisa serius? Selama ini kamu selalu terlihat bermain-main.”

Tangan Awan sekarang bergerak menyentuh pinggangku. Kepalanya menunduk, mendekatkan wajahnya. Bibirnya terasa di bibirku. Beberapa detik sebelum aku benar-benar mendorongnya.

love quotes | Tumblr
“Kamu sudah janji tak akan menyentuhku!”

“Iya, dan sekarang aku ingin melanggarnya.”

“Kamu sudah janji!”

“Bagaimana mungkin aku bertahan menghadapimu, Sya. Aku begitu menginginkanmu. Aku laki-laki normal. Tiga malam melihatmu dalam keadaan seperti itu menyiksaku karena aku tak bisa menyentuhmu.”

“Tapi...”

“Dewasalah, Sya. Memangnya siapa lagi yang kamu tunggu. Aku sudah menunggu belasan tahun untuk berada di posisi ini. Tak bisakah berikan aku kesempatan untuk menjadi suamimu seutuhnya?”

“Maaf, Wan. Aku tidak bisa.”

love quotes | Tumblr

Awan bergerak mengambil sesuatu di dalam laci meja lampu. Mengeluarkan dua tas yang selama ini kami cari. Dia melempar tas milikku ke ranjang dan membuka tasnya sendiri. Mulai mengenakan pakaiannya.

“Maaf soal pakaian ini, aku sengaja menyembunyikannya agar kita bisa berada di sini lebih lama. Aku ingin kamu bisa menyadarinya. Bahwa aku jauh lebih baik dari Rama. Tapi sekuat apa pun aku mencoba, Rama tetap tak terhapuskan dari ingatanmu kan?”

“Surat dari nenek? Itu benar-benar tulisan nenekku kok.”

“Aku yang memintanya menuliskan itu. Supaya kamu tidak mencoba untuk pergi dari sini. Tapi mungkin memang bagimu ini hanya sebuah sandiwara.”

“Bukan begitu, aku...”

“Aku mau pulang. Tapi aku tak akan bisa pulang tanpamu. Jadi aku akan berada di kamar sebelah kiri sementara waktu jika kamu belum ingin pulang.”

Awan tak meminta penjelasan apa-apa. Dia pergi dengan wajahnya yang sangat kecewa. Aku terduduk di ranjang dan menangis tersedu-sedu. Aku telah menyakiti sahabatku sendiri. Sahabat yang selama ini tak pernah mengecewakanku. Bahkan yang mengingat janji bodoh masa kecil kami. Sekarang tinggal aku sendiri di kamar ini. Sepi. Tak ada lagi yang menjagaku.

Maybe It's a Sign
Setelah puas menangis, aku memutuskan untuk mandi dan meminta maaf pada Awan. Aku akan memintanya kembali ke sini. Dia akan menjadi sahabatku lagi. Lama aku berendam di kamar mandi untuk menghilangkan rasa sesak di dadaku. Kemudian bersiap mengenakan pakaian yang ada di dalam tas. Bel yang ditekan mengejutkanku. Pasti Awan kembali untukku. Dia pasti tak bisa jauh dariku. Aku berlari membuka pintu.

“Rama?”

“Maaf mengganggumu, boleh aku masuk?”

Aku memberikan ruang agar dia bisa lewat. Pintu tertutup kembali. Wajahnya kusut. Sama kusutnya dengan perasaanku saat ini. Tapi aku tak siap bertemu dengannya sekarang. Lebih pada tak ingin sebenarnya. Setelah semua yang dia lakukan. Aku sudah cukup kacau. Tak lagi ada kesempatan untuk orang yang sama dua kali.

“Mau apa kamu ke sini?”

“Maukah kamu menikah denganku?”

Mataku terbelalak. Rama bicara apa? Samar-samar aku mencium bau alkohol dari mulutnya.

“Kita sudah menikah dengan orang lain, Rama. Bagaimana mungkin kamu menanyakan itu?”

“Hatiku sakit saat melihat kamu menikah dengan Awan. Selama ini aku yang salah karena telah memilih Diana. Tapi dia bilang dia hamil. Ternyata dia bohong padaku. Dia tidak hamil. Dia hanya membuatku terpaksa menikahinya dan meninggalkanku. Sekarang aku sudah berpisah dengannya. Menikahlah denganku, Sya.”

love quotes | Tumblr
“Kamu dengan dia?”

Aku memandangnya dengan tatapan semakin benci.

“Diana yang membuatku begini, Sya. Dia yang mengajakku melakukannya. Berkali-kali. Aku tak pernah bisa menolaknya. Tapi aku tak pernah mencintainya. Tidak pernah sekali pun.”

“Tinggalkan aku sekarang, Ram. Aku tak ingin melihatmu lagi. Kembalilah pada Diana. Dia membutuhkanmu.”

“Aku lebih membutuhkanmu, Sya. Aku tahu kamu juga sangat mencintaiku. Maafkan aku. Kembalilah padaku.”

“PERGI!”

“Sya, mengapa kamu kasar begini?”

Rama bangkit dari duduknya dan mendekatiku. Mendorongku ke ranjang dengan keras. Tangannya bergerak memegangi tanganku.

“Lepaskan!”

“Aku tak akan melepaskanmu.”

“Lepas!”

“Kamu harus jadi milikku, Sya.”

Rama mendekatkan wajahnya. Ingin menciumku. Satu tendangan melayang ke selangkangannya dan aku berlari keluar. Napasku terengah-engah. Aku mengedarkan pandanganku dan menemukan kamar yang berada di sebelah kiri kamarku. Mendorong pintunya yang tidak terkunci dan melihat Diana dalam pelukan Awan. Perempuan itu sedang menangis tersedu-sedu.

Aku ingin keluar dan tetap di sini pada waktu yang bersamaan. Aku tak rela melihat Diana dalam pelukan Awan. Pelukan itu milikku.

“Aku pikir suamimu salah kamar, dia ada di kamarku. Kamar sebelah. Mungkin kamu ingin membantunya berdiri, Diana.”

Love quotes / :)
Diana menatapku dengan tajam dan berlalu.

“Rama ke kamarmu?”

“Dia mengajakku menikah.”

Awan mengatupkan bibirnya. Matanya berbicara lebih banyak daripada tubuhnya yang diam saja di pinggir ranjang.

“Diana ngapain ke sini?”

“Aku tak tahu, dia datang, menangis dan menerobos masuk.”

“Lalu kamu memeluknya?”

“Bagaimana mungkin aku mendorong perempuan yang memelukku dengan wajah basah seperti itu?”

“Tapi kamu kan bisa menghindar atau memintanya pergi. Padahal kamu sudah tahu dia seperti apa.”

“Dia menangis, Sya. Aku tak bisa membiarkannya begitu saja.”

“Di dunia ini banyak perempuan yang menangis. Apa kamu akan memberikan semua pelukanmu untuk mereka?”

“Kamu cemburu?”

“Aku cemburu? Untuk apa?”

“Karena kamu sadar perasaanmu yang sebenarnya untukku.”

“Tidak, aku tidak cemburu. Aku ingin pulang ke rumah sekarang.”

“Kamu cemburu dan kamu belum mau pulang.”

Aku mengunci bibirku tak tahu harus menjawab apa.

Fotos del muro

Related Posts

Menikah Denganmu 14
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).