16 Oktober 2012

Menikah Denganmu 12




Awan yang selama ini kukira bahagia ternyata jauh lebih sakit dari diriku. 
Dia terlihat begitu rapuh. - Clarissya.

Tumblr_mbypgybiep1r6xm75o1_500_large

Sudah pukul sembilan. Awan telah memasang bantal di antara kami berdua. Dia memejamkan matanya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Setelah ia mengatakan ia mencintaiku ada bagian dirinya yang terluka. Karena aku yang masih saja dengan bodohnya mengingat Rama. Mengingat semua hal yang menyakitkan. Awan yang selama ini kukira bahagia ternyata jauh lebih sakit dari diriku. Dia terlihat begitu rapuh.

Tumblr_mbyt4qhzv51qc9eszo1_500_large

Aku merapatkan selimutku tapi belum bisa memejamkan mataku. Awan memenuhi janjinya. Dia sama sekali tak menyentuhku. Aku sendiri merasa ingin dia melanggarnya. Setidaknya aku ingin berada dalam pelukannya lagi malam ini. Aku menunggu dia benar-benar tertidur. Sudah satu jam aku menunggu. Awan sepertinya sudah tertidur. Perlahan aku menggeser bantal hingga terjatuh ke lantai. Kubuka lengan kanannya agar berada di bahuku. Pelan-pelan aku menyusup ke dadanya. Telingaku mendengar detak jantungnya.

Tumblr_mbhg38ldzx1rdn75uo1_500_large

Aku bisa melihat wajahnya yang sekarang terlihat lebih lelaki dibanding saat kami masih kecil dulu. Matanya tertutup rapat. Hidungnya yang mancung. Pipinya. Bibirnya. Napasnya menyapu wajahku. Aku menahan napasku, menjaga jangan sampai dia terbangun. Aku mendekatkan bibirku ke pipinya dan mengecupnya lama. Ingin berterima kasih untuk semua hal yang telah ia lakukan selama ini. Menjadi sahabatku yang paling setia. Menjagaku.

“Sudah?” Awan menyadarkan yang masih mencium pipinya.

“Maaf, aku tidak bermaksud membangunkanmu. Aku hanya ingin memberikan ucapan terima kasih. Selama ini kamu telah baik padaku, Wan.”

“Berterima kasih diam-diam seperti itu?”

“Memangnya kamu mau apa? Perjanjian kita kan kamu yang tak boleh menyentuhku, sedangkan aku boleh dong menyentuhmu.”

“Berterima kasihlah dengan cara yang lebih dewasa.”

“Dewasa?”

“Kita suami istri, kamu paham kan maksudnya?”

“Mesummmm!”

“Mesum apanya?”

“Aku tidak akan berterima kasih dengan cara seperti itu.”

“Aku tidak akan menolak kok.”

“Awan?”

“Kamu boleh menyentuhku, Sya. Aku akan diam saja.”

“Tidurlah, sudah malam.”

“Bagaimana aku bisa tidur kalau ada jendral yang bangun?”

“Tidur di sofa, sekarang!”

“Aku tak mau tidur tanpa selimut, aku akan ke sofa kalau selimut ini untukku.”

“Bawa saja. Aku tak butuh.”

Awan mengangkat bahunya sambil berlalu menggondol selimut ke sofa. Dia benar-benar melakukannya. Dasar otak mesum!

Related Posts

Menikah Denganmu 12
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).