15 Oktober 2012

Menikah Denganmu 11




“Aku menikahimu bukan karena aku ingin mengikuti permainanmu, 
karena aku menginginkanmu, Sya.” - Awan.

Tumblr_mbn390p4qx1r3e51go1_500_large
Awan akhirnya mengenakan apa yang ada. Singlet dan celana pendek. Sedangkan aku merasa sedikit risih ketika Awan memperhatikanku yang hanya mengenakan lingeri berwarna hitam. Untuk menghalangi pandangannya aku kembali ke dalam selimut. Memegang remote dan menekan-nekan tombolnya dengan berdebar. Aku tak bisa membaca pikiran Awan yang duduk memandangiku dari dekat jendela.

580939_10151088444111200_1015517023_n_large
“Sarapannya sudah datang. Kamu lapar?” Awan memberi isyarat dengan matanya. Ke arah meja. Ada sepiring makanan yang sudah kosong dan satu lagi masih berisi. Berarti Awan telah menghabiskan miliknya. Menyisakan satunya untukku.

“Aku belum lapar.” Aku hanya bisa berbohong. Bagaimana mungkin aku turun dari tempat tidur dengan pakaian tipis begini.

78039006014502338_n5mdoqtl_c_large
Awan menarik piring itu dari meja dan membawanya ke tempat tidur. Ia langsung duduk di pinggir ranjang dan menyodorkan sendok yang berisi makanan padaku. Memintaku memakannya dengan ujung matanya. Aku ikut duduk dan tetap berada di dalam selimut.

“Bilang saja kamu malu dengan pakaianmu. Kenapa harus bilang tidak lapar? Bukankah kamu yang memesan makanan ini?”

“Kalau sudah tahu kamu tak perlu bertanya kan? Kamu senang kan dengan situasi kita seperti ini?”

Tumblr_lkjqf4kazr1qj26ylo1_500_large
“Emangnya apa yang menyenangkan terperangkap di sini dan kamu sama sekali tak mengajakku pergi.”

Tumblr_mbw7llclfi1rh4yilo1_500_large

Bagaimana mungkin aku mengajaknya meninggalkan hotel ini. Nenek akan marah besar. Keluargaku juga. Padahal mereka sudah bersusah payah untuk menyiapkan segalanya. Mereka tidak tahu apa-apa makanya semuanya jadi begini. Seandainya aku tak pernah berbohong. Seandainya Awan tak ikut berbohong. Semua ini tidak akan terjadi.

“Bisakah kamu hentikan pikiran burukmu tentangku?” Awan menyadarkan lamunanku.

“Aku tidak berpikir apa-apa tentangmu. Tidak ada satu hal buruk pun yang terlintas di kepalaku.”

“Tapi wajahmu mengatakan hal yang berbeda. Kamu seakan-akan ingin pergi dari sini. Entah mengapa kamu tak mengajakku meninggalkan tempat ini. Kita bisa pesan pakaian online dan diantar ke sini bukan?”

“Nenek yang meminta kita untuk tinggal di sini selama yang kita mau, setidaknya empat belas hari untuk bermalam di sini.”

“Kita hanya punya pakaian untuk tidur. Apa kamu tidak bosan berada di sini selama seminggu denganku?”

“Entahlah. Aku tak tahu harus bagaimana.”

“Dulu kamu sangat berbeda Clarissya, kamu selalu senang bersamaku. Mengapa sekarang berubah?”

“Terlalu banyak hal yang terjadi, Wan. Semuanya terlalu cepat. Aku bahkan berharap ini semua hanya mimpi.”

“Kamu benar-benar tidak bahagia dengan pernikahan kita? Aku menuruti semua kemauanmu Clarissya.”

“Bukan begitu, Wan. Aku tak tahu apa yang aku inginkan sekarang.”

Hatiku sakit melihat wajah Awan yang kecewa. Apakah memang dia ingin menikahiku karena ingin menepati janjinya atau hanya karena ingin menyelamatkanku? Menyelamatkan harga diriku sebagai seorang perempuan?

398367_425720410809937_1167951562_n_large
“Sedalam itukah kamu mencintai Rama?”

“Bisakah jangan ingatkan lagi tentang laki-laki itu. Dia membuatku sakit hati, Wan.”

Air mataku berlompatan keluar. Aku hanya bisa menggelengkan kepalaku dan jatuh ke dada Awan. Menumpahkan beban yang selama ini aku tanggung sendirian. Awan meletakkan piring makanan itu ke lantai dan membelai rambutku.

“Menangislah sepuasmu hari ini. Tapi hari ini saja. Besok kamu harus tertawa. Tak ada tangisan lagi buat Rama.”

“Kamu tidak akan tahu rasanya, Wan. Kamu tak pernah jatuh cinta seperti aku. Kemudian patah hati setelah mencintainya selama 7 tahun.”

Tumblr_lxzzw5bbhs1qju2hqo1_500_large
“Kamu yang tidak tahu rasanya, Sya. Mencintaimu selama belasan tahun ini dan kamu tak pernah melihatku sebagai seorang lelaki. Kamu selalu berpaling pada laki-laki lain. Sekarang pun kamu menangis karena Rama.”

Aku melepaskan pelukanku dan menatap mata Awan yang berkaca-kaca. Dia menangis? Selama ini aku hanya melihat wajahnya yang tertawa. Serapat itu dia menyimpan dukanya. Sejak kapan dia mencintaiku? Mengapa harus aku?

“Aku menikahimu bukan karena aku ingin mengikuti permainanmu, karena aku menginginkanmu, Sya.”

Tuluskah ucapanmu, Wan? Bukan karena kamu kasihan melihatku yang hancur begini? Bukan karena kamu ingin membuatku melupakan Rama?

Related Posts

Menikah Denganmu 11
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).