14 Oktober 2012

Menikah Denganmu 10



Tumblr_mbt1uzm1nk1qdjq67o1_500_large
Mataku menyipit saat sinar matari ternyata tepat menerpa kelopak mata kananku. Gorden yang terbuka sedikit penyebab cahaya itu menggangguku. Awan masih tertidur di sampingku. Berada di posisinya semula, tapi aku yang berpindah. Guling yang menjadi pembatas lenyap. Aku begitu dekat. Merasa pipiku panas karena terlalu lama menempel di dada Awan. Sejak kapan dia melepas pakaiannya? Aku bergerak perlahan kembali ke posisiku semula. Membetulkan lengan Awan yang tadinya melingkar di bahuku.

310385_137631986382327_334647644_n_large

Aku menahan napasku sebelum Awan terbangun. Memutar tubuhku agar membelakanginya. Diam dan memejamkan mata kembali. Lebih baik aku membiarkan Awan yang bangun lebih dulu walaupun sebenarnya akulah yang bangun lebih pagi. Tapi kalau Awan tadi bangun sebelum aku bangun apakah dia akan melakukan hal yang sama dengan pura-pura terus tidur. Memelukku hingga pagi dan menikmati sepanjang malam itu sambil tertawa dalam hati? Apakah mungkin dia yang membuang batas itu dan membuatku jatuh dalam pelukannya?

Goodnight-my-love-68409656367_large

“Pagi bidadariku, bagaimana tidurmu semalam?” Awan berbisik di telingaku. Membiarkan napasnya yang hangat terasa hingga ke leherku.

“Aku mengantuk, biarkan aku tidur sebentar lagi.”

“Apa cuaca hari ini tidak menarik bagimu?”

“Aku mengantuk, Wan.”

Awan meninggalkanku di ranjang. Sepertinya dia ke kamar mandi. Aku menarik napas lega. Awan tak menyadarinya. Pasti bukan dia yang menjatuhkan bantal dan membuatku tidur semalaman di dalam pelukannya. Saatnya aku memesan sarapan. Pukul 8 sepertinya waktu yang sangat tepat buat sarapan. Aku bergerak meraih gagang telpon di meja. Hotel ini pasti punya sesuatu yang enak buat mengisi perutku.

Selesai memesan makanan aku menyalakan televisi. Ingin tahu apa yang terjadi di luar sana selama aku tertidur. Tidur yang rasanya sangat nyenyak sepanjang hidupku. Apakah karena aku lega tak mencurigai Rama. Semuanya tak lagi rahasia. Mataku bisa melihat dengan jelas. Termasuk melihat seorang lelaki yang berdada seksi dengan handuk melilit di pinggang hingga pahanya. Tubuhnya masih sedikit basah. Begitu pula rambutnya. Awan telah selesai mandi. Aku menarik napas melihat perutnya. Sejak kapan ada enam kotak di sana.

Dean-geyer-in-glee-season-four-premiere-02-512x307_large
“Sya, kamu lihat kaos dan celana jeansku?”

“Eh maaf apa?” Aku jadi tak mendengar pertanyaannya sibuk mengagumi keindahan yang sekarang ada di depan mataku.

“Kaos yang aku bawa kemarin, tasku juga menghilang.”

“Masa'?”

Buru-buru aku ikut mencari tas yang sebelumnya aku simpan di lemari. Lemari yang hanya berisi beberapa lingeri. Bukan hanya tas Awan yang menghilang termasuk tasku. Semua pakaian yang telah aku persiapkan untuk kukenakan hari ini. Aku hanya ingin melegakan perasaanku dengan melakukan sesuatu yang berbeda sendirian. Mungkin aku butuh sedikit petualangan.

“Ini apa?”

Awan mengangkat sebuah lipatan kertas yang tergeletak di meja. Aku mendekat dan meraihnya. Membuka lipatannya perlahan. Kemudian membaca tulisan yang sangat aku kenal. Tulisan nenek.

Cucuku Clarissya
Sekarang kamu bukan cucu perempuan nenek yang cengeng dan manja dulu. Kamu telah berubah menjadi seorang perempuan yang cantik dan dewasa. Hari ini adalah hari pertamamu menjadi seorang istri. Nikmatilah, beradaptasilah, meskipun suamimu adalah sahabat terbaik dan terdekatmu. Bukan berarti dia akan terlihat sama seperti kamu hanya seorang sahabat baginya. Banyak hal akan berubah. Tapi tentunya nenek harap perubahannya membawa ke arah kebaikan.

Menginaplah di hotel sampai kalian merasa ingin pulang. Kalau ingin pulangnya sekarang, nenek rasa itu belum bisa. Setidaknya menginaplah dua minggu. Nenek ingin segera mendapatkan bayi yang manis darimu.

Peluk cium nenek.

Surat yang sangat sempurna. Aku meletakkanya kembali ke meja. Awan meraihnya. Belum sempat ia membacanya sudah kurebut kembali dan aku remas. Membawanya ke toilet dan membuatnya menghilang dengan satu kali tekan. Air menyapunya hingga lenyap. Awan memperhatikanku di depan pintu. Masih dengan mengenakan handuk.

“Sekarang kamu tak mau menjelaskannya padaku?”

“Surat dari nenek, hanya untukku.”

“Nenek tidak menyebutku?”

“Tidak ada.”

“Yakin?”

“Pasti, aku cucunya. Bukan kamu.”

“Tapi aku kan sekarang sudah jadi cucunya juga. Bahkan sejak dulu aku sudah menjadi cucunya. Sebelum kamu lahir.”

“Aku mau mandi bisakah kamu meninggalkanku?”

Awan mengangkat bahunya dan segera berlalu. Aku mengunci pintu rapat-rapat. Bagaimana sekarang? Kalau aku meninggalkan Awan sendirian di sini pasti dia akan lapor pada nenek. Sekarang aku juga tak punya pakaian untuk keluar. Semuanya baju tidur yang terlampau tipis. Paling tebal hanya yang aku kenakan sekarang. Aku tak menyalahkan nenek. Dia berhak meminta hal ini. Karena aku telah berbohong padanya. Aku yang memulai permainan ini. Sekarang aku terjebak di dalamnya. Bersama Awan.

Related Posts

Menikah Denganmu 10
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).