29 Oktober 2012

Maaf Saya Gagal: Satu Post Satu Hari

Seorang teman pernah mengingatkan saya apabila saya menulis, publikasikan satu tulisan saja dalam jeda 24 jam atau sehari. Sudah setahun lebih usia Honeylizious ini dan saya pikir saya hampir benar-benar melakukannya. Satu postingan dalam satu hari. Memilih Sabtu dan Minggu sebagai hari bebas. Boleh posting boleh juga tidak. Meskipun lebih banyak saya mengisinya dengan menulis lagi. Lebih banyak. Apakah saya senang dengan satu postingan sehari?

Alasannya sih sangat mudah kata teman saya tadi, agar setiap postingan saya terbaca oleh teman yang sudah mengikuti blog ini. Tapi ada beberapa blog yang saya kenal membuat tulisan lebih dari satu dalam sehari. Inginnya saya sih membuat tulisan setiap hari seperti yang saya mau dan publikasinya di hari yang sama.

Kontrol diri saya terhadap satu postingan perhari saya pikir sangat gagal, terutama bulan ini. Ada beberapa bulan sebenarnya yang tidak saya kontrol dan postingannya meledak. Melebihi jumlah hari yang ada. Itu tulisan dari blog lama yang saya pindahkan satu demi satu ke blog ini dan tetap mengikuti tanggal terbitnya di blog yang lama.

Bulan ini postingan terbanyak saya di hari Kamis kemarin. Maklum ingin dapat hadiah sepeda di Liga Blogger Indonesia. Pekan terakhir telah ditutup dengan poin tertinggi 23. Poin milik saya. Bangga? Sangat! Saya berhasil menempati posisi teratas sendirian. Berbeda dengan pekan sebelumnya.

Saat kembali memikirkan titik awal alasan blog ini ada saya pikir saya tak perlu mengontrol diri saya untuk membatasi diri menulis satu postingan sehari. Saya ingin menulis sebanyak mungkin. Setiap hari. Setidaknya satu. Karena saya suka menulis.

Menulis itu seperti menarik napas. Bagai detak jantung yang memenuhi rongga dada saya. Saya merasa hidup dengan adanya kegiatannya. Setidaknya menghentikan kegilaan yang bisa jadi akan merasuki saya jika saya tidak menulis. Seperti ketika netbook saya bermasalah dengan Jolicloud. Saat mereka berdua seakan tidak bisa dipersatukan. Emosi saya memuncak dan merasa menjadi orang tak berguna. Bagaikan prajurit tanpa tameng dan pedangnya.

Hampa.

Menulis membuat saya lebih hidup. Memperpanjang usia saya hingga suatu hari saya tak ada. Karena saya menulis semua ini untuk orang yang belum dilahirkan ke dunia. Anak-anak saya. Cucu-cucu saya. Anak-anak dari cucu saya dan seterusnya. Keturunan saya yang akan mengenal saya melalui tulisan-tulisan saya. Saya bukanlah orang terkenal yang akan keluar biografinya dalam waktu dekat dan dipajang di Gramedia. Saya hanya seorang penulis biasa yang meneruskan detak jantungnya dengan menulis.

Kepada kawan yang telah mengingatkan saya untuk tidak menulis terlampau banyak dalam sehari, maafkan saya. Saya hanya bisa membatasi diri saya untuk tidak menulis lebih dari 10. Bukan satu. Satu itu akan membuat saya sakaw. Saya janji, 10 sudah sangat cukup untuk sehari.

Saya akan tidur lebih nyenyak dengan banyak menulis. Terlalu banyak cerita yang akan saya lewatkan dengan menahan tulisan-tulisan di draft. Nanti basi. Sayang. Padahal saya menuliskannya dengan sepenuh hati. Kita pun tak akan pernah tahu kapan kita akan benar-benar meninggalkan dunia ini. Setidaknya jika besok adalah hari terakhir saya, saya telah menuliskan semua cerita terakhir saya dengan tuntas.

Teruslah menulis. Bukan untuk dirimu. Tapi untuk diri yang keluar dari dirimu. Diri yang ingin mengenal dirimu saat dirimu sudah tak ada. Biarkan mereka mengenalmu dengan caramu menuliskannya.

Suatu hari, 10 atau 100 tahun lagi, tulisan ini akan menjadi sebuah catatan yang sangat berharga bagi sebagian orang yang berasal dari keturunan yang ditanamkan di rahim saya. Orang-orang yang lahir dan ada dari Tuhan melalui saya.

Ini buat kalian.

Related Posts

Maaf Saya Gagal: Satu Post Satu Hari
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).