30 Oktober 2012

Lebih Indah Itu Kamu 2



Tangan keriput itu menyodorkan gelas kopi yang tadi ia hirup padaku. Tanganku tak kalah keriput. Bahkan rambutku tak lagi berwarna gelap. Putih di mana-mana. Senyumnya masih seindah pertama kali aku melihatnya. Gelas kopi itu aku letakkan di atas meja. Kami duduk bersebelahan di taman belakang yang dipenuhi rumput dan bunga-bunga. Tempat kami menghabiskan senja berdua.

“Kalau diberikan kesempatan untuk kembali pada hari itu, hari kamu melamarku, apakah kamu akan benar-benar melamarku?” aku bertanya pada Awan, sahabatku yang sekarang telah menjadi suamiku. Suami yang sangat tua.

Tiga puluh tahun berlalu begitu saja. Bagai sekejap mata. Bahagia dan duka menjadi bagian pernikahan kami.

“Jangankan diberikan kesempatan satu kali, berkali-kali pun kesempatan yang Tuhan kasih, aku akan kembali ke hari itu. Hari aku melamarmu dan melakukannya persis sama.”

“Tidak ada perubahan yang lebih berarti atau kejutan lain?”

“Biarlah seperti itu adanya.”

“Mengapa?”

“Karena penerimaanmu jauh lebih indah dari apa pun yang pernah aku dapatkan di dunia ini.”

“Kamu tidak menyesal menikah denganku?”

“Tak ada yang lebih indah dari kamu, Sya. Bahkan hari ini pun masih sama. Kamu selalu lebih indah.”

Lagi-lagi aku hanya bisa tersenyum malu. Sama seperti tiga puluh tahun lalu saat aku menerima lamaran Awan di sebuah pusat perbelanjaan itu.

Related Posts

Lebih Indah Itu Kamu 2
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).