2 Oktober 2012

Gurah Yuk 2



Baiklah ini penyambung dari postingan kemarin. Saya memang telah menjalani proses gurah yang kemarin saya inginkan. Lendir yang ada di dalam tenggorokan dan hidung saya akhirnya keluar sedemikian derasnya. Awalnya mendatangi sebuah tempat praktiknya di Jalan Imam Bonjol Gang Kusuma Wijaya.

Sebelum tiba di rumah bapak penggurah itu, saya berjalan kaki melewati rumah tetangga saya dulunya. Tepatnya tahun 2005 saya memang tinggal di gang tersebut bersama Boy dan kawan-kawan. Sempat bersalaman dengan Ibu dan Pak RT. Rumahnya memang bersebelahan dengan rumah kontrakan saya dulunya. Rumah kontrakan saya tak ada yang berubah. Sedikit menua dan ada beberapa bagian yang menghilang papannya.

Jadi ingat beberapa kali kemalingan di rumah kontrakan tersebut yang akhirnya membuat kami pindah pada tahun kedua.

Tempat praktik gurah tersebut ternyata buka dari pukul 8 sampai 5 sore. Saat saya melihat jam tangan, ternyata sudah lewat dari pukul 5. Tetapi kami masih diterima dan saya langsung diberi obat yang harus ditelan lewat tenggorokan dan dimasukkan lewat hidung. Obatnya rasanya membuat tenggorokan jadi kering dan terbakar. Tak sampai satu menit, rasa sakit itu terus mendera, lendir pun keluar dari lubang hidung dan tenggorokan saya. Saya batuk-batuk, susah napas rasanya, tapi lendir terus mengalir.

Ada rasa tersiksa, ada pula rasa senang karena lendir yang memenuhi rongga hidung dan tenggorokan saya mulai keluar. Selama ini memang rasanya ada lendir yang mengganjal di antara rongga hidung dan tenggorokan saya. Sudah menahun seingat saya. Suara saya memang selalu terdengar seakan sedang flu.

Tadi pagi saya bangun lendirnya sudah tidak menyumbat hidung saya. Berbeda dengan setiap pagi yang harus saya lewati dengan sibuk mengeluarkan lendir dari hidung agar saya mudah bernapas. Seakan saya pilek saja setiap pagi. Karena selama ini selalu begitu saya jadi tidak merasa hal tersebut sebagai sesuatu yang salah. Nah sekarang saya bangun pagi dengan rongga hidung yang tidak tersumbat. Menyenangkan rasanya.

Hari ini memang saya masih harus mengeluarkan lendir baik dari mulut maupun hidung ketika rasanya ada yang mengganjal. Soalnya masih menjalani terapi gurah tersebut di rumah. Bapak penggurah itu memberikan obat yang harus saya minum setiap pagi dan sore. Tidak tanggung-tanggung tiap pagi dan sore saya harus menelan tiga kapsul. Biasanya habis minum saya akan mengeluarkan lendir lagi dari hidung dan tenggorokan. Ada 24 biji untuk pagi dan 24 biji untuk sore. Berarti 8 hari lagi masih saya lewati dengan lendir yang harus dikeluarkan.

Tak masalah karena dihari pertama saya sudah merasakan perubahan yang lumayan berarti. Suara saya terdengar lebih jernih dan tidak terdengar seperti orang flu lagi. Cuman, saya sedikit kaget pas mau membayar. Harganya ternyata lumayan mahal, 425.000IDR. Waw, itu jumlah yang sangat banyak bagi saya untuk pengobatan yang terlihat sederhana. Tapi pas melihat jumlah obat yang diberikan, harga pengobatan hingga 8 hari berikutnya bukanlah sesuatu yang murah bukan?

Beberapa hari lagi saya akan cerita apabila perubahan lainnya terasa atau ketika obatnya sudah habis. Sudah bisa bernapas dengan sangat bebas saja merupakan anugerah yang tak ternilai harganya. Saat banyak orang bisa menikmati udara dengan rongga hidungnya kemudian masuk ke paru-paru, saya harus memasukkan udara yang saya butuhkan melalui mulut. Tapi hari ini saya tak perlu membuka bibir saya untuk mengambil napas. Hidung saya sudah berfungsi dengan baik karena lendir yang menutupi rongganya sudah keluar sangat banyak kemarin. Semoga lendirnya tidak mengganggu pernapasan saya lagi.

Sudah pernah gurah? Cerita dong di sini.

Related Posts

Gurah Yuk 2
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).