18 Oktober 2012

Berkurban Untuk Banjar Serasan



Rumah penduduk yang berdiri di atas Sungai Kapuas, jika air pasang terkadang rumah mereka jadi banjir.

Jembatan kayu yang terbentang di tepian Sungai Kapuas inilah yang sempat menjadi jembatan kayu terpanjang se-Asia Tenggara. Seiring berjalannya waktu jembatan ini pun menua dan beberapa bagiannya digantikan dengan semen yang lebih kuat dan permanen.

Jembatan kayu yang semakin menua dan mudah bergoyang
apabila banyak yang berjalan di atasnya.

Di jembatan ini pula terdapat rumah-rumah sederhana milik penduduk yang tak memiliki tanah untuk dibangun rumah. Seadanya. Itulah kesan yang akan terlihat saat menatap bangunan rumah yang ada di sini. Penduduknya menggunakan air sungai untuk mandi dan mencuci. Bahkan termasuk buang air. Semuanya dilakukan di Sungai Kapuas. Sungai Kapuas yang merupakan sungai terpanjang di Indonesia sekarang tak lagi jernih. Limbah yang mengalir ke sungai membuat air ini tercemar. Tapi masyarakat yang tinggal di sepanjang sungai ini tak punya banyak pilihan selain tetap menggunakannya.

Inilah warna air Sungai Kapuas yang penuh oleh zat berbahaya yang tetap digunakan
penduduk setempat setiap hari.

Mereka yang sehar-hari tenggelam dalam air yang tercemar itu entah kapan terakhir kalinya makan enak. Untuk sekadar mendapatkan air bersih saja mereka tidak mampu. Hidup di tepian jembatan bersama keluarga yang terkadang putus harapan saat melihat kenyataan di luar sana. Kenyataan bahwa banyak orang lain yang tidak merasakan seperti yang mereka rasakan. Kita. Kitalah orang yang mereka lihat itu. Bisa makan enak setiap hari. Mandi air yang bersih dan jernih.

Belum lagi saat menjelang lebaran. Mereka harus menerima jika di tempat mereka tinggal ini akan dipasangi meriam karbit yang sangat besar. Dentumannya bisa saja membuat jendela rumah mereka pecah. Mengganggu tidur anak-anak mereka. Tapi mereka tak punya pilihan selain bertahan. Tempat tinggal mereka hanya di sini. Meriam karbit juga kadang menjadi sumber penghasilan bagi sebagian penduduk. Pengunjung yang datang cukup membayar beberapa ribu rupiah untuk ikut menyalakan meriam. 

Perahu sedikit bocor, air merembes pelan-pelan tapi anak istri butuh makan.


Ada pula yang kerjanya mengayuh perahu untuk menyeberangkan orang dari Tanjung Raya 2 ke Jalan Imam Bonjol di seberang. Tak peduli hujan atau panas. Mereka tetap melakukannya. Anak-anak mereka butuh makan dan pakaian.

Mengayuh menuju seberang untuk menjemput penumpang.


Jembatan kayu yang dulunya kuat ini sekarang semakin rapuh. Seperti bom waktu, jembatan ini menunggu detik ia akan benar-benar roboh. Saat itu, tempat tinggal mereka yang sekarang saja bisa terkena air pasang, akan benar-benar menghilang. Apakah kita akan menutup mata bagi mereka yang membutuhkan uluran tangan kita. Walaupun hanya sedikit berbagi hewan kurban yang akan membuat mereka merasa sedikit diperhatikan.

Penduduk yang sedang mandi dan mencuci di Sungai Kapuas.

Kita memang jauh lebih beruntung dari mereka. Tapi mereka tetap saudara kita. Kapan lagi kita bisa berbagi dengan orang yang entah kapan terakhir kalinya makan enak?

Keinginan terbesar saya untuk berbagi dengan masyarakat yang tinggal di sepanjang Sungai Kapuas ini. Tepatnya di Jalan Tanjung Raya 2 Gang Banjar Serasan, tepian Sungai Kapuas.

Penampakan lokasi melalui google maps.

Hubungi saya untuk berbagi dengan mereka:

Kontak:
Rohani Syawaliah
085654626686

Alamat daerah rekomendasi:
Jalan Tanjung Raya 2, Gang Banjar Serasan, Pontianak, Kalimantan Barat

Data Vlogger:
Nama: Rohani Syawaliah
Alamat: Gedung Volare Network, Jalan M. Sohor no. 28 Pontianak
Nomor ponsel: 085654626686
Twitter: @honeylizious

Hidup mereka memang tak seindah pemandangan yang mereka lihat setiap hari
dari rumahnya ke arah seberang.



Related Posts

Berkurban Untuk Banjar Serasan
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).