31 Oktober 2012

Menikah Denganmu 24

Menikah Denganmu 24


 Menikah Denganmu 21

“Aku mau kamu.” - Clarissya.

weheartit.com

Awan membuka kaos yang dia kenakan dan melemparnya ke lantai. Menarikku berhadapan dengannya. Jemarinya meraih kancing bajuku dan mulai melepaskannya dari diriku.

“Kamu mau apa?”

“Kamu tidak hanya membutuhkan sebuah ciuman. Kamu membutuhkanku.”

“Hentikan Awan!”

“Kamu istriku.”

“Kamu kalau tidak mesum sehari saja tidak bisa.”

“Mesum-mesum begini aku suamimu, ayolah.”

“Ayolah apanya?”

Aku mengancingkan pakaianku kembali. Meraih kaos Awan dan menyerahkan padanya.

“Pakai lagi.”

“Kamu tidak mau?”

“Awan bukan itu yang aku mau sekarang ini.”

“Lantas kamu mau apa?”

“Aku mau dirimu yang lain, tanpa otak mesummu itu.”

“Memangnya kamu tidak mesum?”

“Setidaknya aku tak semesum dirimu, Wan.”

“Kamu lupa kejadian di hotel kemarin? Siapa duluan yang mesum?”

“Iya, aku yang mesum. Sudahlah. Mungkin kamu lebih baik pulang.”

“Kamu tak ingin cerita apa-apa denganku?”

“Tidak yang perlu aku ceritakan padamu.”

“Yakin?”

“Wan!”

“Iya aku pulang. Tapi buka dulu pintunya.”

Awan mengenakan kaosnya. Aku membuka pintu dan memberikan isyarat agar dia keluar. Tanpa aku sadari Awan ternyata telah bersiap untuk menciumku. Tangannya menekan pintu kembali. Pintu tertutup. Aku di dalam pelukannya. Perlahan Awan membawaku ke tempat tidur. Aku berbaring. Dia di atasku masih menekan bibirku dengan bibirnya. Beberapa saat berlalu tanpa kata. Aku membiarkannya.

weheartit.com

“Aku sudah menciummu. Sekarang aku mau pulang.”

Awan bangkit dan meninggalkanku. Jantungku yang berdebar tak menentu. Selalu saja begini yang aku rasakan. Mungkin Awan benar. Aku memang menginginkan Rama. Tapi dibandingkan semua itu aku jauh lebih menginginkan dirinya. Mengapa dia hanya menciumku? Mengapa dia tak memintaku pulang?

Aku berlari keluar dari kamar. Menuruni tangga dan mencari pintu depan. Aku melihat sosok Awan yang masuk ke rumahnya. Terburu-buru aku berlari ke arah yang sama. Belum sempat dia menutup pintu aku telah menerobos masuk.

“Hey, ada apa?”

“Aku mau kamu.”

“Mau, mau? Atau mau, 'mau'?”

weheartit.com

Aku tak melanjutkan ucapanku dan menariknya ke kamarnya. Mengunci pintunya dari dalam. Berdua tenggelam dalam cinta.


NB: Udah selesai belum ya ini? Ayo yang pengen ini sebagai episode terakhir silakan komentar atau ada yang punya saran lain?

30 Oktober 2012

Lebih Indah Itu Kamu 2

Lebih Indah Itu Kamu 2



Tangan keriput itu menyodorkan gelas kopi yang tadi ia hirup padaku. Tanganku tak kalah keriput. Bahkan rambutku tak lagi berwarna gelap. Putih di mana-mana. Senyumnya masih seindah pertama kali aku melihatnya. Gelas kopi itu aku letakkan di atas meja. Kami duduk bersebelahan di taman belakang yang dipenuhi rumput dan bunga-bunga. Tempat kami menghabiskan senja berdua.

“Kalau diberikan kesempatan untuk kembali pada hari itu, hari kamu melamarku, apakah kamu akan benar-benar melamarku?” aku bertanya pada Awan, sahabatku yang sekarang telah menjadi suamiku. Suami yang sangat tua.

Tiga puluh tahun berlalu begitu saja. Bagai sekejap mata. Bahagia dan duka menjadi bagian pernikahan kami.

“Jangankan diberikan kesempatan satu kali, berkali-kali pun kesempatan yang Tuhan kasih, aku akan kembali ke hari itu. Hari aku melamarmu dan melakukannya persis sama.”

“Tidak ada perubahan yang lebih berarti atau kejutan lain?”

“Biarlah seperti itu adanya.”

“Mengapa?”

“Karena penerimaanmu jauh lebih indah dari apa pun yang pernah aku dapatkan di dunia ini.”

“Kamu tidak menyesal menikah denganku?”

“Tak ada yang lebih indah dari kamu, Sya. Bahkan hari ini pun masih sama. Kamu selalu lebih indah.”

Lagi-lagi aku hanya bisa tersenyum malu. Sama seperti tiga puluh tahun lalu saat aku menerima lamaran Awan di sebuah pusat perbelanjaan itu.
Lebih Indah Itu Kamu

Lebih Indah Itu Kamu


Awan berlutut di hadapanku. Menyodorkan sebuah cincin. Aku yakin ini bukan adegan film atau dia sedang menggangguku. Wajahnya serius.

“Menikahlah denganku.”

“Awan, kamu bicara apa?”

“Belum jelas?”

“Menikahlah denganku.”

Sahabat yang kukenal dan aku tahu selama ini tak pernah memacari siapa pun sekarang melamarku?

“Jangan main-main. Ini tempat umum, Wan.”

Tumblr_maz203unip1rxmaupo1_500_large
Semua orang yang berada di pusat perbelanjaan tersebut mulai memperhatikan kami berdua. Awan tak bergeming.

“Jawab dulu.”

“Mengapa harus melamarku? Bukannya kamu sendiri yang bilang kamu tak akan pernah percaya dengan cinta lagi? Kamu sendiri juga yang bilang kamu tidak yakin dengan lawan jenis.”

“Itu sebelum ada kamu. Kamulah alasan mengapa selama ini aku selalu kecewa dalam percintaan. Karena Tuhan ingin kamu menjadi istriku. Tuhan ingin kamu jadi orang yang mencintaiku.”

“Sejak kapan aku bilang aku mencintaimu?”

“Sejak kamu hadir dalam hidupku untuk pertama kali. Kamu yang selalu ada di sisiku dalam keadaan apa pun. Kamu ada sampai sekarang karena kamu mencintaiku kan?”

“Kapan kamu tahu?”

Awan tahu tentang perasaanku?

“Aku hanya tahu. Begitu melihatmu setiap hari. Tanganmu yang seharusnya selama ini aku genggam. Kamu tahu bahwa setiap manusia tak ada yang sempurna, begitu juga aku. Kamulah pasangan yang akan menyempurnakan diriku. Menikahlah denganku, Sya.”

Aku hanya bisa tersenyum malu dan mengangguk.


NB: Buat pembaca Menikah Denganmu, tentu saja ini bukanlah lanjutan dari episode hari ini, ini hanya Flash Fiction dan saya tidak bisa memikirkan nama lain lagi selain nama mereka.  

Belanja Online Murah dan Aman: Ya Laku.com!



Belanja online murah? Siapa yang tidak suka? Pastinya semua orang suka berbelanja dengan harga miring. Coba perhatikan di pusat perbelanjaan. Seberapa banyak orang memilih untuk berebut barang dengan diskon paling besar? Apalagi yang namanya perempuan, tidak bisa melihat 'sale'. Bagaimana kalau tanpa 'sale' pun kita bisa memiliki barang dengan harga yang murah?

Beneran? Bener dong tentunya!

Belanja dengan harga murah bukan hal yang sulit dilakukan sekarang. Apalagi belanja online karena sekarang banyak sekali toko online yang membuka lapak dengan berbagai nama. Penawaran yang diberikan pun tidak tanggung-tanggung. Tapi selain harga tentu saja banyak dari kita meragukan keamanan saat berbelanja.

Selain teliti dengan harga kita juga harus memilih toko online yang bisa benar-benar dipercaya. Pastinya kita tidak siap kehilangan uang hanya gara-gara tergiur harga murah. Faktor keamanan sama pentingnya ketika kita memilih toko online.


Nah, ada Laku.com yang memberikan dua hal tersebut untuk pelanggannya. Belanja di sana juga sangat mudah. Buat yang sudah punya akun terdaftar bisa langsung masuk dan berbelanja dengan akun yang sudah dibuat. Tapi buat yang belum daftar tidak harus mendaftarkan diri baru bisa berbelanja. Tanpa akun pun sudah bisa berbelanja.

Apa sih Laku.com?

Laku.com adalah satu di antara online shopping terbesar di Indonesia.

Mereka sadar bahwa customer seringkali khawatir dan kecewa oleh kualitas online-shopping yang ada di Indonesia saat ini. Oleh karena itu, Laku.com ingin memberikan pengalaman berbelanja online yang tidak pernah dialami sebelumnya dan di online-shopping lainnya. Mereka mengelola toko online mereka dengan sangat serius didukung oleh team terbaik yang ada di Indonesia.

Laku.com terus berkomitmen untuk memberikan pengalaman berbelanja online terbaik dengan memberikan pelayanan terbaik, barang yang lengkap, dan harga yang kompetitif.

Semenjak Laku.com berdiri, mereka sudah mengirimkan ribuan paket ke semua propinsi di Nusantara. Mereka terus mendapatkan testimonial positif untuk pengalaman berbelanja di Laku.com. Mereka sangat senang Anda mengunjungi websitenya dan  berharap bisa memberikan pelayanan online shopping terbaik yang pernah Anda alami.

Janji Laku.com:

Kenyamanan berbelanja customer adalah tanggung jawab mereka, dari mulai membuka website Laku.com sampai barang sampai di tangan customer sehingga memberikan shopping experience yang paling memuaskan.  
Data customer akan dijaga sepenuhnya, tidak akan pernah dijual kepada pihak ketiga di luar operational Laku.com
Barang yang ditampilkan di website mereka adalah sama dengan barang yang dijual, karena difoto langsung oleh in-house photographer Laku.com.
Memberikan pilihan yang lengkap dengan harga yang kompetitif bagi setiap customer Laku.com.

Membantu setiap customer dalam setiap hal yang berhubungan dengan Laku.com baik pertanyaan maupun kesulitan, sejauh mungkin yang dapat kami lakukan.
Testimonial kami merupakan asli 100% dari customer kami.

Harga yang ditawarkan juga tidak kalah murah dengan produk yang ditawarkan oleh toko online lainnya. Sebagai pengguna beberapa produk yang sama dengan yang ditawarkan oleh Laku.com, harga barang yang mereka tawarkan bisa sepertiga dari produk yang saya beli biasanya.

Contohnya nih bedak yang dijual harganya 39.500IDR padahal saya biasanya menggunakan bedak padat dengan harga 129.000IDR.

Mac Powder SPF15 Matte Foundation
39.500IDR

Informasi lengkap cara belanja, tentang Laku.com, cara menjadi reseller, bahkan testimoni ada di toko online Laku.com.


Tim Laku.com terdiri dari:

Customer Service


Team Customer Service yang ramah dan murah senyum siap melayani pesanan Anda semua dari pukul 08:30 sampai 24:00!

Inventory and Order Fulfillment


Team inilah yang membungkus dan menyiapkan ratusan order dari Anda setiap harinya. Mereka juga yang membantu memerika setiap barang yang keluar dari warehouse kami dalam kondisi OK!

Content


Team Content Laku.com menyiapkan barang di belakang layar sebelum ditayangkan di web kami. Dari professional photographer sampai team jurnalistik, semuanya siap memberikan presentasi dan deskripsi supaya kita semua tidak salah pilih

Team Laku.com


Kami sangat senang kalian mengunjungi dan berbelanja di Laku.com. Kami selalu berusaha untuk melayani customer kami sebaik mungkin setiap harinya. Didukung team yang terbaik yang ada di Indonesia, kami ingin memberikan pengalaman terbaik dalam berbelanja online!

Mau ngintip behind the scene-nya? Check this out!

Dibalik website Laku.com, banyak aktivitas yang seru dan heboh yang sering kita lakukan dengan team kami. Semuanya pastinya kita lakukan untuk melayani customer kami sebaik mungkin. Salah satunya adalah photoshoot yang rajin kami lakukan beberapa kali dalam satu bulan. Seperti apa sih photoshoot di Laku.com? Yuk kita lihat!


Di photoshoot ini, para professional photographer, fashion-stylist, dan model kami bekerja-sama untuk memberikan foto yang terbaik untuk kita semua, untuk memenuhi janji kami: Semua produk di Laku.com difoto sendiri oleh in-house professional photographer!


inilai sebagai #1 Halaman Terbaik untuk Shopping/Retail oleh Booshaka (Jepang)




Menu yang tersedia juga banyak banget ada new arrival, fashion couple, fashion pria, fashion wanita, dan buat yang mencari ukuran XL juga ada. Suka dengan pakaian yang seksi tapi malu buat beli secara langsung? Laku.com juga menyediakan lingerie. Jam tangan juga ada, untuk anak, couple, pria, dan wanita. Aksesoris lengkap ada kalung, gelang, cincin, anting, aksesoris rambut, bros, dan kacamata. Make up-nya juga lengkap nih ada untuk mata, bibir, muka, kuas dan aksesoris make up, nails make up, dan parfum. Anda penyuka tas? Cek tas, dompet, dan tas pesta. Belum lagi fancy yang menyediakan banyak barang-barang yang kita butuhkan.

Banyak banget kan barangnya.

Laku.com juga sudah diliput banyak media ternama. 

 Go GirlGadis

Cosmo Girl  Cita Cinta

Belum lagi kita juga bisa memulai bisnis dengan Laku.com. Tidak butuh modal besar dan keahlian membuat toko online.

Masih bingung nyari tempat buat belanja online murah dan aman? Ya Laku.com.

tags: lomba blog laku com, kontes review laku com, Blog review laku com, memulai bisnis online bersama laku com , lomba blog laku, seocontes laku com, review compotition laku com, review blog laku com, Kontes blog review laku com, blog review compotition laku com
Menikah Denganmu 23

Menikah Denganmu 23


 Menikah Denganmu 21

“Aku tak ingin pulang. Aku akan tetap di sini.” - Awan.

Tumblr_m2qzy8z9361r3acaho1_400_large
weheartit.com


Mata kami bertatapan sangat lama. Mata Awan yang selama ini menatapku dengan cara yang sama. Sama seperti pertama kali aku mengenalnya. Pertama kali menjadi tetangganya. Mengisi rumah kosong di samping rumahnya. Wajah kecil yang dulu aku lihat sekarang menjadi wajah yang sangat dewasa. Aku ragu dengan perasaannya bahkan dengan perasaanku sendiri.

Mengapa semua ini terjadi padaku. Apakah cinta harus serumit ini pada setiap manusia? Apakah cinta memang penuh air mata. Aku sama sekali tak mengerti arti perjalanan cintaku. Aku bahkan mulai bertanya-tanya akankah ada laki-laki lain yang muncul dalam kehidupanku selain Awan dan Rama? Jangan katakan ada laki-laki ketiga yang akan menjadi jodohku. Dua saja sudah serumit ini.

Aku menarik tangan Awan. Membawanya ke dalam kamarku kembali. Mengunci kamar terburu-buru.

“Jangan bilang kamu akan memperkosaku.”

“Awan!”

“Aku mau pulang, sini kuncinya.”

“Cium aku dulu.”

“Tidak!”

“Awan!”

“Clarissya, aku tak akan mempertaruhkan pernikahan kita untuk permainan bodohmu. Kalau kamu butuh waktu kamu bisa habiskan seberapa banyak yang kamu mau. Aku yakin kamu akan menyadari perasaanku tulus. Tak ada yang aku sembunyikan.”

“Aku mau keyakinan itu sekarang.”

“Tidak dengan cara seperti ini, Sya.”

“Aku maunya seperti ini.”

“Jangan egois dong. Kamu harus memikirkan perasaanku juga.”

“Memangnya kamu selama ini tidak egois? Kamu memutuskan sendiri jalan yang harus aku pilih. Kamu sendiri yang memintaku kembali pada Rama. Tapi aku tak pernah bisa kembali. Cinta antara kami berdua telah retak. Seberapa keras pun kami mencoba memperbaikinya, retakannya tak akan pernah hilang. Aku tak mau hidup dengan cara seperti itu.”

“Aku juga tak bisa membiarkanmu dengan egois memutuskan sesuatu hanya dengan menciumku.”

“Memangnya salah aku butuh keyakinan?”

“Tapi bukan dengan cara seperti itu. Kamu sedang mempertaruhkan pernikahan kita. Pernikahan kita. Menurutmu itu sesuatu yang tidak berharga? Cobalah untuk menghargai sesuatu.”

Tumblr_mcm4navk6n1rzvbhuo1_500_large
weheartit.com

“Aku sedang menghargainya, Wan. Kalau aku tak menghargainya pasti sekarang aku pasti sudah memintamu untuk menceraikanku.”

“Tidak! Aku tidak akan pernah melakukan itu.”

“Sekarang buktikan, Wan. Buktikan kalau aku harus mempertahankan pernikahan kita.”

“Tidak dengan satu ciuman pun. Butuh banyak bukti, Sya. Semuanya akan aku buktikan jika kamu tidak mengakhirinya.”

Aku mendorong Awan ke dinding dan memegangi wajahnya. Mendekatkan bibirku ke bibirnya. Tapi lagi-lagi Awan mendorongku. Tenaganya jauh kuat dariku. Aku sama sekali tak bisa meraihnya.

“Kamu curang, mentang-mentang tenagamu lebih kuat terus aku tak bisa menciummu?”

“Aku tidak akan menciummu untuk membuktikan sesuatu yang telah aku buktikan sejak lama. Kamu sendiri juga yang bilang akan belajar untuk mencintaiku. Jangan bohong lagi, Sya.”

“Itu sebelum aku tahu kamu lebih suka melihatku bersama Rama dibandingkan mempertahankanku sebagai istrimu.”

“Iya, aku tahu, aku salah karena berbohong padamu. Aku hanya takut kamu yang memintaku untuk meninggalkanku. Aku belum siap untuk melihatmu memilih Rama. Makanya aku lebih baik merelakanmu, Sya. Aku hanya ingin kamu bahagia.”
47424_526531407376288_235269599_n_large
weheartit.com
“Itu yang ada di kepalamu. Padahal aku saat itu sangat berharap kamu mempertahankanku. Aku ingin kamu dengan egoisnya memintaku untuk tetap menjadi istrimu karena kamu sangat mencintaiku.” Aku berteriak dengan berurai air mata. Aku melepaskan semua yang ada di dalam hatiku dengan keras. Aku ingin Awan mendengarnya.

“Sebenarnya kamu tidak perlu melakukan apa-apa untuk membuktikan perasaanmu padaku, Sya. Kamu sendiri sudah menjawabnya. Kamu lebih menginginkanku dibandingkan Rama.”

“Kapan aku bilang begitu?”

“Beberapa detik yang lalu.”

“Aku tidak bilang begitu.”

“Kamu ingin menjadi istriku kan? Tidak ingin jadi milik orang lain?”

Awan tersenyum sambil membelai pipiku.

“Aku tidak bilang apa-apa.”

Aku menolak tangannya dan berbalik membelakanginya.

“Pulanglah, mungkin kamu benar, seharusnya aku berpikir saja dibandingkan mengukur perasaanku dengan sebuah ciuman.”

“Aku tak ingin pulang. Aku akan tetap di sini.”

29 Oktober 2012

Maaf Saya Gagal: Satu Post Satu Hari

Seorang teman pernah mengingatkan saya apabila saya menulis, publikasikan satu tulisan saja dalam jeda 24 jam atau sehari. Sudah setahun lebih usia Honeylizious ini dan saya pikir saya hampir benar-benar melakukannya. Satu postingan dalam satu hari. Memilih Sabtu dan Minggu sebagai hari bebas. Boleh posting boleh juga tidak. Meskipun lebih banyak saya mengisinya dengan menulis lagi. Lebih banyak. Apakah saya senang dengan satu postingan sehari?

Alasannya sih sangat mudah kata teman saya tadi, agar setiap postingan saya terbaca oleh teman yang sudah mengikuti blog ini. Tapi ada beberapa blog yang saya kenal membuat tulisan lebih dari satu dalam sehari. Inginnya saya sih membuat tulisan setiap hari seperti yang saya mau dan publikasinya di hari yang sama.

Kontrol diri saya terhadap satu postingan perhari saya pikir sangat gagal, terutama bulan ini. Ada beberapa bulan sebenarnya yang tidak saya kontrol dan postingannya meledak. Melebihi jumlah hari yang ada. Itu tulisan dari blog lama yang saya pindahkan satu demi satu ke blog ini dan tetap mengikuti tanggal terbitnya di blog yang lama.

Bulan ini postingan terbanyak saya di hari Kamis kemarin. Maklum ingin dapat hadiah sepeda di Liga Blogger Indonesia. Pekan terakhir telah ditutup dengan poin tertinggi 23. Poin milik saya. Bangga? Sangat! Saya berhasil menempati posisi teratas sendirian. Berbeda dengan pekan sebelumnya.

Saat kembali memikirkan titik awal alasan blog ini ada saya pikir saya tak perlu mengontrol diri saya untuk membatasi diri menulis satu postingan sehari. Saya ingin menulis sebanyak mungkin. Setiap hari. Setidaknya satu. Karena saya suka menulis.

Menulis itu seperti menarik napas. Bagai detak jantung yang memenuhi rongga dada saya. Saya merasa hidup dengan adanya kegiatannya. Setidaknya menghentikan kegilaan yang bisa jadi akan merasuki saya jika saya tidak menulis. Seperti ketika netbook saya bermasalah dengan Jolicloud. Saat mereka berdua seakan tidak bisa dipersatukan. Emosi saya memuncak dan merasa menjadi orang tak berguna. Bagaikan prajurit tanpa tameng dan pedangnya.

Hampa.

Menulis membuat saya lebih hidup. Memperpanjang usia saya hingga suatu hari saya tak ada. Karena saya menulis semua ini untuk orang yang belum dilahirkan ke dunia. Anak-anak saya. Cucu-cucu saya. Anak-anak dari cucu saya dan seterusnya. Keturunan saya yang akan mengenal saya melalui tulisan-tulisan saya. Saya bukanlah orang terkenal yang akan keluar biografinya dalam waktu dekat dan dipajang di Gramedia. Saya hanya seorang penulis biasa yang meneruskan detak jantungnya dengan menulis.

Kepada kawan yang telah mengingatkan saya untuk tidak menulis terlampau banyak dalam sehari, maafkan saya. Saya hanya bisa membatasi diri saya untuk tidak menulis lebih dari 10. Bukan satu. Satu itu akan membuat saya sakaw. Saya janji, 10 sudah sangat cukup untuk sehari.

Saya akan tidur lebih nyenyak dengan banyak menulis. Terlalu banyak cerita yang akan saya lewatkan dengan menahan tulisan-tulisan di draft. Nanti basi. Sayang. Padahal saya menuliskannya dengan sepenuh hati. Kita pun tak akan pernah tahu kapan kita akan benar-benar meninggalkan dunia ini. Setidaknya jika besok adalah hari terakhir saya, saya telah menuliskan semua cerita terakhir saya dengan tuntas.

Teruslah menulis. Bukan untuk dirimu. Tapi untuk diri yang keluar dari dirimu. Diri yang ingin mengenal dirimu saat dirimu sudah tak ada. Biarkan mereka mengenalmu dengan caramu menuliskannya.

Suatu hari, 10 atau 100 tahun lagi, tulisan ini akan menjadi sebuah catatan yang sangat berharga bagi sebagian orang yang berasal dari keturunan yang ditanamkan di rahim saya. Orang-orang yang lahir dan ada dari Tuhan melalui saya.

Ini buat kalian.
Menikah Denganmu 22

Menikah Denganmu 22


 Menikah Denganmu 21

“Cium aku.” - Clarissya.

Tumblr_mc91jdwkpp1qb83glo1_1280_large
weheartit.com


Aku berharap semua ini hanyalah mimpi. Mimpi. Berharap aku segera terbangun. Menemukan diriku masih kecil dan berlari menuju jendela kamar Awan. Memanjat tangga yang telah disediakannya di sana. Bermain bersamanya di dalam kamar. Berdua tanpa gangguan siapa pun. Semua kenangan manis itu harusnya bisa aku kembalikan. Aku rindu. Ingin menyentuh jemari Awan yang mungil. Dia yang dulunya lebih kecil dariku. Sekarang dia sangat tinggi. Dadanya yang bidang. Tak pernah terbayangkan akan melihat dirinya sebagai seseorang yang bukan Awan yang aku kenal belasan tahun yang lalu.

Dia yang menciumku untuk pertama kali. Dia yang melamarku untuk pertama kali dalam hidupku. Bahkan kekasihku yang telah tujuh tahun menjalin hubungan asmara denganku pun tak mampu melakukannya. Dia yang satu-satunya selalu ada untukku dan aku tak pernah menyadarinya hingga hari pernikahanku tiba.

“Kamu tidak apa-apa cucuku?”

Nenek muncul di depan kamarku. Wajahnya yang semakin menua mengingatkanku bahwa aku bukan anak kecil lagi. Anak kecil yang sama sekali tak memikirkan soal pernikahan dan percintaan. Sekarang begitu banyak hal yang tak bisa aku kendalikan. Padahal aku berharap bisa mengendalikan semuanya. Setidaknya apa yang aku inginkan bukan seperti ini.

“Katakan sama Nenek, ada apa?”

Nenek masuk dan duduk di pinggir ranjangku. Aku yang tadinya mengemasi barang-barangku ke lemari berhenti dan ikut duduk bersama nenek. Wanita tua yang begitu sayang padaku. Tak pernah kuragukan kasih sayang nenek. Senyumnya yang membuat aku tenang. Keriput di wajahnya yang semakin bertambah. Sentuhan tangannya yang tak lagi selembut dulu. Rambutnya yang semakin memutih.

“Dulu, waktu Nenek menikah, apakah begitu banyak masalah terjadi?”

“Mau dengar ceritanya? Atau mau dengar cerita tentang ayah dan bundamu?”

“Mana saja yang menurut nenek paling sesuai.”

“Bundamu dulu hampir gagal menikah dengan ayahmu.”

“Kok bisa?”

Tumblr_mc0cczdfnh1ri88qxo1_500_large
weheartit.com

“Tiba-tiba ayahmu ragu dengan perasaan bundamu padanya. Dia bilang ingin menunda pernikahan.”

“Terus?”

“Padahal undangan sudah disebar. Semua persiapan sudah matang. Tapi ayahmu memaksa untuk membatalkan.”

“Apakah ayah tidak mencintai bunda?”

“Dia sangat mencintai bundamu, tapi dia tidak yakin bundamu memiliki perasaan yang sama padanya. Dia takut cintanya hanya bertepuk sebelah tangan.”

“Walaupun bunda sudah setuju untuk menikah dengannya?”

“Itulah rumitnya perasaan, kita tidak bisa mengukur sesuatunya dengan cara yang sama. Selalu saja penilaian setiap orang berbeda. Seperti kita yang beranggapan bahwa bundamu pasti mencintai ayahmu karena dia mau menerima pernikahannya.”

“Bagaimana bunda membuat ayah yakin?”

“Coba tebak?”

“Jangan bilang dia melakukan hal bodoh seperti Rama, karena itu tidak akan membuat orang bertekuk lutut. Kalau Clarissya sih langsung mundur. Cinta tak bisa dipaksa dengan cara apa pun.”

“Dia melamar ayahmu. Di depan banyak orang, di tempat kerja ayahmu. Bertekuk lutut di hadapannya.”

“Melamar?”
8131558855_a283684bfe_b_large
weheartit.com

“Dia bilang jika lamaran itu ditolak dia akan menikahi orang lain. Karena pernikahannya tetap harus dijalankan meskipun berbeda pengantin. Tak mungkin lagi membatalkannya.”

“Bunda melakukan itu?”

“Terkadang cinta memang tak bisa ditebak arahnya. Nenek yakin kamu punya cara sendiri untuk meyakinkan perasaanmu sendiri. Setidaknya membuat Awan meyakinkanmu.”

“Awan bicara apa? Nenek mengarang cerita tentang bunda melamar ayah kan?”

“Untuk apa berbohong? Nenek sudah tua, Clarissya. Kamu cucu nenek. Tidak mungkin nenek berbohong.”

“Entahlah, Clarissya rasa saat ini ketenangan lebih penting.”

Nenek mengecup dahiku dan meninggalkanku sendirian. Saat aku menunduk aku melihat sepasang kaki muncul di depan pintu kamarku. Kepalaku terangkat. Awan berdiri di sana dengan tangan menyilang di dadanya. Terlihat begitu indah.

Normal_7699502270_0564d9030f_b_large
weheartit.com


“Seharusnya istriku sedang masak di dapur, bukannya malah pulang ke kamar lamanya dan mengemasi pakaiannya.”

“Mau apa kamu ke sini?”

“Aku masih berstatus suamimu.”

“Aku tahu itu.”

“Berhentilah bersikap kekanak-kanakkan. Aku sayang kamu Clarissya. Rasanya aneh tidak melihatmu untuk sehari saja.”

“Seharusnya kamu mengerti bagaimana kacaunya pikiranku sekarang.”

“Kamu bisa cerita padaku masalahnya.”

“Masalahnya itu kamu, Wan. Kamu masalah dari semua ini.”

Awan bergerak mendekatiku dan berlutut. Menyodorkan cincin pernikahan yang tadi aku lempar.

“Kembalilah padaku, Sya. Jangan lakukan ini padaku. Aku terlalu mencintaimu. Tak mungkin aku hidup tanpamu. Sehari ini saja begitu aneh tak melihatmu tersenyum.”

“Aku ingin berpikir, lebih baik tinggalkan aku sendiri.”

“Sya...”

“Wan, pulanglah. Biarkan aku di sini beberapa hari.”

“Sampai kapan?”

“Aku belum tahu.”

“Setidaknya kenakan cincin ini lagi agar aku tenang. Agar kamu ingat padaku.”

“Aku akan memakainya.”

“Biar aku yang memakaikannya.”

Jari manisku segera dilingkari cincin berlian itu. Awan menatap mataku dengan tatapan sendunya. Matanya lebih banyak berkata daripada bibirnya. Perlahan dia bangkit dan berjalan keluar dari kamarku. Berdiri di depan pintu masih menatapku. Aku bersiap menutup pintu dengan pelan. Mata kamii bertemu sedemikian lama.

“Aku ingin memintamu melakukan sesuatu padaku. Untuk meyakinkan perasaanku sendiri. Jika setelah itu aku tak merasakan apa-apa, aku serius, kita harus mengakhiri pernikahan ini. Apakah kamu bersedia, Wan?”

“Pernikahan kita taruhannya?”

“Iya. Itupun kalau kamu mau.”

“Tapi aku tak ingin mengakhiri pernikahan kita. Aku mencintaimu Clarissya.”

“Cinta tak bisa dipaksakan, Wan.”

“Kamu juga mencintaiku. Kembalilah padaku.”

“Apakah kamu akan melakukannya atau tidak?”

“Apa itu?”

“Cium aku.”

The-lucky-one_large