Cinta


Terkadang kita pikir kita paling membutuhkan seorang lelaki yang sempurna untuk menjadi pasangan hidup kita. Tapi apakah sebuah kesempurnaan akan membuat kita benar-benar mencintainya? Apakah tolak ukur kesempurnaan seseorang itu yang sebenarnya? Bisa jadi ukuran setiap kesempurnaan akan berbeda pada setiap perempuan. Misalnya seorang Katie Holmes awalnya mungkin berpikir bahwa Tom Cruise adalah seorang sosok lelaki yang sempurna untuk menjadi jodoh terakhirnya. Tetapi tentu saja Tom memiliki sebuah kekurangan yang membuat dia tak sempurna lagi di mata Katie dan akhirnya perceraian pun tak dapat dihindarkan. Meskipun banyak orang yang akan berpikir secara sederhana: ‘Kurang apalagi lelaki yang bernama Tom Cruise itu?’.

Tentu saja hidup tidak sesederhana itu. Banyak hal kompleks yang akan membuat semuanya tidak bisa diukur dari satu sisi. Butuh banyak sisi yang semestinya menjadi garis batas setiap orang. Lantas jika kita sudah memiliki garis batas tersendiri apakah kita kemudian bisa mengatakan tentang ‘cinta’ yang akan hadir dalam kehidupan kita. Membuat demikian banyak ‘kotak’ yang harus diisi oleh lawan atau ada yang menyukai sesama jenis? Terlepas dari apa pun pilihan kita untuk mencintai lawan atau sesama jenis, cinta tentu saja bukanlah sesuatu yang bisa kita pastikan. Apa pun ukuran yang anda gunakan, suatu waktu anda akan sadar satu hal, orang yang anda cintai belum tentu orang yang masuk dalam ukuran tersebut.

Hari ini pun saya memang belum mencintai siapa-siapa. Tetapi harus saya katakana sepertinya ada seseorang yang sedang mencintai saya. Seseorang yang setiap saya butuh selalu hadir untuk saya. Tak pernah sekali pun dia menolak untuk mendatangi saya saat saya menginginkan keberadaannya. Sekadar mendengarkan kalimat saya. Melihat saya menangis. Berteriak di dalam mobilnya. Mengepalkan tinju. Dia mendengarkan dan menunggu. Dia tahu, saya hanya ingin didengarkan untuk beberapa waktu. Saya pikir bisa jadi tangisan, teriakan, dan umpatan saya yang pertama kali dia dengar akan menjadi terakhir kalinya pertemuan kami. Laki-laki mana coba yang akan menunggu seorang perempuan yang hidupnya penuh dengan masalah.

Kemudian saya sangat salah besar. Dia tidak pernah meninggalkan saya hingga hari ini.

Dia jauh dari ukuran yang selama ini saya inginkan. Sama sekali tak menggambarkan Alex Roswell, Benedict Cumberbatch, bukan pula Orlando Bloom, apalagi Matthew Goode. Tetapi kemudian saya tersadar pada satu hal. Tuhan tidak akan memberikan apa yang kita inginkan jika itu bukanlah kebutuhan kita. Tetapi Tuhan akan memberikan seseorang yang memang kita butuhkan. Terlepas ataupun tidak dari ukuran yang kita anggarkan dia sudah ada di sana. Menunggu.

Dia bukanlah lelaki yang bisa jadi akan membuat saya jatuh cinta dan tergila-gila. Namun dialah jenis lelaki yang akan membuat saya mau belajar untuk mencintainya.
Share:

Posting Komentar

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).

Designed by OddThemes | Distributed by Blogger Themes