Ternyata Saya Masih Mencintai Lelaki Itu


Bedanya mantan dengan orang yang pernah kita cintai adalah kita pernah berbagi cinta dengan mantan tetapi tidak dengan orang yang pernah kita cintai. Apalagi jika cinta itu bertepuk sebelah tangan. Sebenarnya hingga hari ini, sampai detik tulisan ini diposting saya tidak akan pernah tahu jawabannya.

Mengapa saya ingat dengan luka lama itu?

Karena baru saja saya membaca dinding facebook teman baik saya semasa SMA. Ada pesan dari lelaki itu yang memanggilnya 'sayang'. Saya berharap dia memanggil diri saya sayang bukan sahabat saya. Kisah cinta ini adalah kisah absurd yang muncul pada tahun 2004. Saat saya mendapat datang bulan pertama saya. Saya jatuh cinta di bangku SMA. Saya bersahabat baik dengannya. Dia selalu bersama kami. Saya dan sahabat sebangku saya. Saya pikir dia pasti punya maksud mendekati kami. Gede rasa, saya pikir dia datang untuk saya. Ternyata bukan. Dia sama sekali bukan mendekati saya untuk mendapatkan hati dan cinta yang sudah ingin saya serahkan bulat-bulat.
Aqudb0l_0la_large
Dia mendekati saya karena dia mencintai perempuan yang sahabat baiknya adalah diri saya. Teman sebangku semasa SMA saya yang sangat baik. Dia sudah seperti saudara kembar saya. Banyak yang mengatakan wajah kami mirip. Bisa jadi karena kerudung dan postur tubuh yang memang serupa.

Saya? Seperti tokoh melodrama, berbaik hati mengulurkan bantuan untuk membuat mereka bersatu. Sayangnya ternyata sahabat saya masih ragu untuk menjadi kekasihnya. Saya tak tahu alasan pastinya apa. Saya sedikit kecewa karena ada orang yang menyia-nyiakan sesuatu yang ingin saya miliki tapi tak mungkin saya gapai. Waktu itu kami sudah naik kelas dua, kami berdua sekelas lagi, duduk di meja yang sama lagi, tetapi terpisah dengan lelaki itu.

Saya sedikit bersyukur karena tak perlu bertemu dengan lelaki itu. Lelaki itu.

Tamat SMA saya pikir semuanya berakhir. Kami bertiga terpisah. Bahkan lelaki itu kuliah di Jogja dan kami berdua di Pontianak. Kampus bersebelahan. Sempat beberapa tahun satu kos. Saya sama sekali tidak benci dengan sahabat saya. Bahkan hingga saya menuliskan ini pun saya masih menganggap dia sahabat baik saya.

Bertahun-tahun berlalu, saya punya kekasih, putus, punya kekasih lagi. Sahabat saya malahan selama tiga tahun setia dengan kekasihnya (ini lelaki yang lain, bukan lelaki yang 'itu'). Hingga facebook membuat semuanya jadi mudah. Saya kemudian membuat mereka berdua bertukar nomor ponsel dan dalam sekejap mata semuanya menjadi semakin jelas. Perkuliahan lelaki itu selesai. Dia kembali ke kabupaten kami. Lelaki itu cintanya yang di Jogja kandas. Dia mengejar cinta masa SMA-nya yang sempat hilang. Sahabat saya yang dikecewakan kekasihnya setelah menyembuhkan lukanya beberapa tahun menyambut cinta yang pernah dia sia-siakan dulu.

Hari ini saya hanya bisa membaca semua kisah jalinan cinta mereka yang sebentar lagi terikat di pelaminan. Kisah cinta yang indah buat mereka. Saya pikir saya sudah melupakan perasaan saya delapan tahun yang lalu. Sejatinya tidak. Perasaan itu hanya mengendap sementara saat saya tidak bertemu dengan lelaki itu. Ketika saya membaca tulisan lelaki itu di dinding facebook sang perempuan, hati saya ternyata terasa sakit. Saya terluka. Entahlah.

Saya akui, masih mencintai lelaki itu.
Share:

Posting Komentar

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).

Designed by OddThemes | Distributed by Blogger Themes