29 Juni 2012

Saya Bingung


Hari ini saya harus menghadapi ibu saya yang dipaksa datang untuk menjemput Fahd karena kami bertengkar melalui pesan singkat. Saya sudah 26 tahun bersabar menghadapi keegoisannya dan semua siksaannya baik secara batin dan lahir. Apakah saya harus bersabar untuk kesekian tahunnya? Saya pikir sudah saatnya saya untuk berhenti menuruti semua perintahnya dan membiarkan dia menghadapi kenyataan di dunia ini bahwa semuanya tak akan berjalan sesuai maunya.

Sedari kecil dia memang sudah terbiasa untuk menuntut semua anggota keluarganya memenuhi apa yang dia inginkan. Tidak suka mendapatkan adik karena merasa mendapatkan saingan. Seiring bertambahnya usia tentunya tuntutannya semakin tinggi dan semakin tidak masuk akal. Apakah selamanya ibu saya akan menuruti apa yang dia mau? Menuruti semua inginnya? Apakah ibu saya akan bertahan?

Saya pikir seharusnya setelah 29 tahun menghadapi anak perempuan yang menjadi beban dan sama sekali tak mandiri, seenaknya dan kasar pada semua orang, ibu saya harusnya bisa bersikap tegas dan menghentikan semua kegilaan ini. Karena apabila ini terus-menerus terjadi, empat anaknya dikorbankan demi memenuhi hasrat seorang anaknya yang sakit jiwa dan suka menyiksa orang, ibu saya akan menghilangkan masa depannya sendiri.

Satu adik perempuan saya sudah hampir setahun tidak pulang dan tak tahu kabarnya bagaimana. Sekarang, hari ini adalah penentuan keberadaan saya, apabila ternyata ibu saya masih ingin bertahan, saya juga tak akan segan untuk menghapus semua ingatan tentang keluarga. Lebih baik saya menganggap diri saya sebagai anak yatim piatu yang dibuang ke tong sampah karena lahir dengan cara yang tidak baik.

Saat orang lain berpikir indahnya memiliki keluarga, kenangan saya tentang keluarga seperti mimpi ngeri yang tak ada habisnya. Saya pikir saya memang harus menikah dengan seseorang. Punya keluarga baru yang lebih normal. Saya tidak berkata lebih baik, setidaknya bukan keluarga yang membuatmu benci dengan kata ‘keluarga’ itu sendiri.

Jika saya merasa benci dengan kehidupan ini tentunya itu hanya karena keberadaan seseorang yang sampai sekarang tak mati-mati juga. Sebelas tahun yang lalu saat saya memutuskan untuk tinggal jauh dari keluarga besar saya, saya kira penderitaan dan ancaman kematian batin saya menghilang. Ternyata semuanya masih saja berlangsung. Tuhan semestinya tahu bagaimana beratnya saya menjalani ini semua.

Bahkan Tuhan melihat betapa cepatnya saya menuliskan postingan ini.

Sekarang saya harus bersiap menghadapi ibu saya yang sudah berada di depan rumah bersama kakak saya yang sakit jiwa itu. Memutuskan bagaimana masa depan Fahd seharusnya. Apakah pulang ke rumah yang akan membuat dia disiksa kakaknya lagi? Atau tetap bersama saya di Pontianak dan menjalani kehidupan yang sedikit berat karena kehilangan kasih sayang orang tua.

Seandainya saya punya lampu ajaib, saya akan menggosoknya dan membuat Jinnya keluar. Kemudian meminta satu permintaan saya. Lenyapkan kakak saya detik ini juga. Satu permintaan itu adalah permintaan yang paling saya inginkan di dunia ini. Setidaknya dengan demikian keluarga kami bisa utuh lagi. Ibu saya tidak akan seperti kerbau dicocok hidungnya seperti 29 tahun yang telah lewat ini.

Saya bingung, apakah sekarang saya harus lari atau menghadapi mereka berdua yang sudah berada di kosan saya?

Related Posts

Saya Bingung
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).