21 Juni 2012

Feromon [Bagian 9] TAMAT

Kamu yakin Elena?”

Aku tak bisa terus-terusan berbohong sama Zacky tentang perasaanku yang sebenarnya, selain itu, aku tak hanya membohonginya tetapi membohongi diriku sendiri.”

Meskipun sebenarnya Namo juga tak menginginkanmu?”

Mungkin sedikit absurd kalau aku katakan jodoh tak akan lari ke mana. Aku tak berharap banyak Namo akan mendatangi suatu hari dan memintaku jadi pendamping hidupnya. Tapi aku percaya, feromon yang benar-benar tercipta untukku akan datang padaku dan bisa kumiliki selamanya.”

Kamu gila Elena.”

Aku bisa jadi telah kehilangan kewarasanku Jen. Tapi aku masih punya hati. Hati yang tak ingin kusiksa dengan bersama orang yang tidak aku cintai.”

Kalau begitu harusnya kamu mengejar Namo.”

Semuanya mungkin terlihat sangat sederhana bagimu. Sayangnya tidak untuk Namo dan aku.”

Mengapa harus begini Elena? Kamu mengecewakan orang yang mencintaimu demi orang yang kamu bilang mencintaimu tak mau bersamamu. Bagaimana mungkin ada cinta aneh seperti itu. Cinta pasti ingin memiliki orang yang dicintainya.”

Aku tak lagi menjawab pertanyaan Jenny. Haruskah kukatakan bahwa Pak Sunarya yang membuat semua ini menjadi rumit? Pak Sunarya menjodohkan perempuan yang dicintai keponakannya kepada tangan kanannya? Lelaki tua itu sama sekali tak pernah tahu itu. Tapi tentu saja keberadaanku akan memperumit hubungan keluarga mereka. Zacky akan marah besar pada adik ayahnya itu dan bisa jadi merusak reputasi Namo. Lagi pula Namo sendiri yang tak ingin memperjuangkan cintanya bukan? Aku tak mungkin memaksakan kehendakku padanya.

***

Aku tak mendengar kabar Namo sedikit pun sejak dua tahun yang lalu dia mengakui perasaannya padaku. Aku juga yang tak berusaha cari tahu. Aku selalu percaya luka hati itu bisa sembuh seiring berjalannya waktu. Air mata akan menghapus semua perih yang tertanam. Tak perlu tenggelam dalam duka selamanya.

Padang rumput di belakang Bandara Supadio ini menjadi tempat aku menghalau gundah gulanaku setiap sore yang tahu berapa banyak air mata yang kutumpahkan di sini.

Butuh sapu tangan?”

Sebuah suara asing menyapaku. Ternyata air mataku jatuh tanpa kusadari. Aku yang duduk di rumput mendongak dan melihat sepasang mata bening mengulurkan sebuah sapu tangan merah jambu. Aku menerimanya ragu-ragu.
Lelaki yang kutaksir berusia 28 tahun itu ikut duduk di sampingku.

Tepat dua tahun sejak aku pertama kali melihatmu di sini dan hingga hari ini pun kamu masih saja menangis. Kamu bisa cerita padaku jika kamu mau.”

Dua tahun? Bagaimana kamu tahu?”

Rumahku di sana.”

Dia menunjuk sebuah rumah bertingkat yang jendelanya menghadap ke arah tempat kami berada.

Itu jendela kamarku. Aku selalu duduk di sana setiap sore. Aku suka dengan matahari terbenam dan dua tahun yang lalu aku melihatmu di sini. Menangis. Meraung jika tak ada orang. Meloncat-loncat bahkan.”

Aku tersenyum malu sambil mengeringkan air mataku.

Untuk pertama kalinya aku memberanikan diri mendatangimu. Aku pikir dua tahun harusnya sudah mengubahmu banyak, tapi ternyata tidak. Aku Galih.”

Dia mengulurkan tangannya. Aku menyambutnya hangat. Dia menatapku lama sekali. Laaaaaamaaaaaaa...
Kamu suka parfum apa?”

Parfum?”

Galih mendekat dan menghirup udara yang mengitariku.

Aku tidak menggunakan parfum sama sekali.”

Ini feromonmu?”

Aromaku? Mungkin, aku tak tahu.”

Mungkin ini terdengar gila. Aku rasa aku jatuh cinta dengan feromonmu.”

Aku menunduk malu. Seseorang yang baru kutemui tiba-tiba mengatakan jatuh cinta dengan aroma tubuhku. Saat aku mengangkat wajahku aku baru sadar sekarang Galih terlalu dekat padaku. Dia tanpa permisi memelukku erat.

Aku janji tak akan membuatmu menangis sampai bertahun-tahun. Apa kamu mau jadi pacarku?”

Kamu bahkan belum tahu namaku Galih.”

Elena, aku tahu namamu Elena. Aku tahu kamu kerja di mana. Aku tahu semuanya. Aku hanya baru tahu, feromonmu-lah yang aku cari selama ini.”

Bisakah kita pelan-pelan dulu? Setidaknya biarkan aku mengenalmu?”

Bukankah kamu mengenali orang berdasarkan baunya? Menurutmu apa aromaku?”

Aku berkonsentrasi pada penciumanku dan mengabaikan semua yang menggangguku. Menghirup dengan perlahan aroma tubuh Galih. Aku tak tahu aroma apa ini. Apakah cinta? Baunya sangat menenangkan berbeda dengan aroma Namo yang membuatku mabuk. Baunya hangat dan nyaman.
24754951_large
Baunya enak.”

Aku tersenyum. Apakah ini aroma yang aku cari selama ini? Entahlah. Kita tak akan pernah tahu kapan waktu yang sebenarnya kita tunggu hingga akhirnya menjalaninya sampai di bagian akhir.

Related Posts

Feromon [Bagian 9] TAMAT
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).