14 Juni 2012

Feromon [Bagian 8]



Aku tidak tahu kapan jatuh cinta itu terjadi. Semuanya muncul begitu saja saat aku sekelas dengannya di kampus. Semester satu aku hanya bisa menjadi seorang teman kuliah yang apabila beruntung akan duduk di sampingnya sekali-kali. Aku tak pernah berani menyatakan perasaanku yang sebenarnya. Kemudian kamu tak melakukan apa-apa selama ini dan dia langsung jatuh cinta denganmu.”

Aku menelan ludahku beberapa kali. Aku tak tahu harus berkata apa.

Aku tak menyalahkanmu Elena, tidak ada yang salah dengan cinta. Kamu berhak menentukan cinta yang kamu inginkan. Ini hidupmu. Setidaknya kamu harus bahagia dulu baru bisa membahagiakan orang lain.”

Mengapa kamu tidak mengatakannya sejak awal? Tentang perasaanmu? Setidaknya aku bisa lebih jujur pada Zacky.”

Bagaimana mungkin aku mengatakannya jika aku melihat Zacky begitu bahagia di sampingmu.”

Dia bahagia?”

Menurutku dia bahagia bisa menjadi kekasihmu.”

Sampai sekarang aku masih terus belajar untuk mencintainya.”

Terima lamarannya Elena. Dia akan membahagiakanmu.”

Aku belum yakin. Ini terlalu cepat.”

***

Namo masih tak menunjukkan sebuah kemajuan. Apakah memang ini hanya sebuah cinta yang bertepuk sebelah tangan? Seandainya aku bisa membaca semua pikiran Namo. Tak akan begini jadinya. Aku tak akan kebingungan.

Apa?”

Namo menyadari tatapanku yang sejak tadi ke arahnya. Tumpukan kertas di meja tak berani bergerak melihat ketegangan di wajahku. Aku harus menanyakannya. Aku harus tahu.

Aku mau tanya sesuatu denganmu.”

Tanya saja.”

Sebenarnya perasaanmu...”

Namo melepaskan kaca matanya dan menatapku dalam. Beberapa detik hanya helaan napasnya yang terdengar di ruangan ini.

Aku tidak ingin membicarakan ini.”

Mengapa?”

Karena ini hanya akan melukaimu saja.”

Jujur saja Namo. Aku tak bisa menabak.”

Bisakah kita selesaikan ini dan kembali pada kehidupan kita masing-masing?”

Benarkah memang kamu sama sekali tak punya perasaan apa-apa padaku?”

Namo tak menyahut. Dia menarik napas semakin panjang. Sofa yang kami duduki membeku. Jarak kami sangat dekat. Aku bisa melihat dengan jelas matanya. Mata yang seakan-akan menyembunyikan sesuatu. Aku meraih tangannya dan mengenggamnya. Mata kami bertemu. Alisnya yang tebal menghiasi wajahnya. Aku meraih rahangnya dan melabuhkan bibirku di sana. Namo ragu membalasnya. Namun detik berikutnya kami sudah tenggelam dalam ciuman yang memabukkan.

Kamu menyukaiku, tapi mengapa kamu tak mau jujur dengan perasaanmu sendiri?”

Pulanglah Elena.”

Aku hanya ingin tahu perasaanmu. Aku tak minta kamu untuk menjalin hubungan denganku.”

Lantas apa gunanya kamu tahu perasaanku jika kamu tak meminta status apa-apa denganku?”

Ini memang bodoh, maaf. Aku harus pulang.”

Aku menyambar tasku dan berlalu. Langkahku tertahan ketika Namo menarik lenganku dan memelukku erat. Dadaku sesak. Air mataku mengalir deras. Mengapa cinta demikian kejam menyiksaku? Aku hanya ingin mencintai dan dicintai satu orang saja. Hanya Namo.

Iya, aku mencintaimu. Jika memang hanya itu yang ingin kamu dengar. Tapi maaf, aku tak bisa memberikan status apa-apa untukmu. Hanya seseorang yang mencintaimu.”

Detak jantungnya terdengar keras. Telingaku terbenam di dada kirinya. Aku tak ingin menanyakan apa pun padanya. Cukuplah aku tahu tentang perasaannya padaku yang sesungguhnya.

Sejak pertama aku melihatmu di studio Radio Volare aku sudah jatuh cinta padamu. Bahkan aku tak pernah melewatkan program yang kamu bawakan setiap Senin sampai Jumat. Tapi waktu itu aku sadar, kamu telah memiliki kekasih. Zacky bukan?”

Aku mengangkat wajahku dan melihat mata Namo. Tetap tak terbaca apa-apa. Aromanya saja yang terus mengikuti penciumanku.

Related Posts

Feromon [Bagian 8]
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).