Langsung ke konten utama

Feromon [Bagian 8]



Aku tidak tahu kapan jatuh cinta itu terjadi. Semuanya muncul begitu saja saat aku sekelas dengannya di kampus. Semester satu aku hanya bisa menjadi seorang teman kuliah yang apabila beruntung akan duduk di sampingnya sekali-kali. Aku tak pernah berani menyatakan perasaanku yang sebenarnya. Kemudian kamu tak melakukan apa-apa selama ini dan dia langsung jatuh cinta denganmu.”

Aku menelan ludahku beberapa kali. Aku tak tahu harus berkata apa.

Aku tak menyalahkanmu Elena, tidak ada yang salah dengan cinta. Kamu berhak menentukan cinta yang kamu inginkan. Ini hidupmu. Setidaknya kamu harus bahagia dulu baru bisa membahagiakan orang lain.”

Mengapa kamu tidak mengatakannya sejak awal? Tentang perasaanmu? Setidaknya aku bisa lebih jujur pada Zacky.”

Bagaimana mungkin aku mengatakannya jika aku melihat Zacky begitu bahagia di sampingmu.”

Dia bahagia?”

Menurutku dia bahagia bisa menjadi kekasihmu.”

Sampai sekarang aku masih terus belajar untuk mencintainya.”

Terima lamarannya Elena. Dia akan membahagiakanmu.”

Aku belum yakin. Ini terlalu cepat.”

***

Namo masih tak menunjukkan sebuah kemajuan. Apakah memang ini hanya sebuah cinta yang bertepuk sebelah tangan? Seandainya aku bisa membaca semua pikiran Namo. Tak akan begini jadinya. Aku tak akan kebingungan.

Apa?”

Namo menyadari tatapanku yang sejak tadi ke arahnya. Tumpukan kertas di meja tak berani bergerak melihat ketegangan di wajahku. Aku harus menanyakannya. Aku harus tahu.

Aku mau tanya sesuatu denganmu.”

Tanya saja.”

Sebenarnya perasaanmu...”

Namo melepaskan kaca matanya dan menatapku dalam. Beberapa detik hanya helaan napasnya yang terdengar di ruangan ini.

Aku tidak ingin membicarakan ini.”

Mengapa?”

Karena ini hanya akan melukaimu saja.”

Jujur saja Namo. Aku tak bisa menabak.”

Bisakah kita selesaikan ini dan kembali pada kehidupan kita masing-masing?”

Benarkah memang kamu sama sekali tak punya perasaan apa-apa padaku?”

Namo tak menyahut. Dia menarik napas semakin panjang. Sofa yang kami duduki membeku. Jarak kami sangat dekat. Aku bisa melihat dengan jelas matanya. Mata yang seakan-akan menyembunyikan sesuatu. Aku meraih tangannya dan mengenggamnya. Mata kami bertemu. Alisnya yang tebal menghiasi wajahnya. Aku meraih rahangnya dan melabuhkan bibirku di sana. Namo ragu membalasnya. Namun detik berikutnya kami sudah tenggelam dalam ciuman yang memabukkan.

Kamu menyukaiku, tapi mengapa kamu tak mau jujur dengan perasaanmu sendiri?”

Pulanglah Elena.”

Aku hanya ingin tahu perasaanmu. Aku tak minta kamu untuk menjalin hubungan denganku.”

Lantas apa gunanya kamu tahu perasaanku jika kamu tak meminta status apa-apa denganku?”

Ini memang bodoh, maaf. Aku harus pulang.”

Aku menyambar tasku dan berlalu. Langkahku tertahan ketika Namo menarik lenganku dan memelukku erat. Dadaku sesak. Air mataku mengalir deras. Mengapa cinta demikian kejam menyiksaku? Aku hanya ingin mencintai dan dicintai satu orang saja. Hanya Namo.

Iya, aku mencintaimu. Jika memang hanya itu yang ingin kamu dengar. Tapi maaf, aku tak bisa memberikan status apa-apa untukmu. Hanya seseorang yang mencintaimu.”

Detak jantungnya terdengar keras. Telingaku terbenam di dada kirinya. Aku tak ingin menanyakan apa pun padanya. Cukuplah aku tahu tentang perasaannya padaku yang sesungguhnya.

Sejak pertama aku melihatmu di studio Radio Volare aku sudah jatuh cinta padamu. Bahkan aku tak pernah melewatkan program yang kamu bawakan setiap Senin sampai Jumat. Tapi waktu itu aku sadar, kamu telah memiliki kekasih. Zacky bukan?”

Aku mengangkat wajahku dan melihat mata Namo. Tetap tak terbaca apa-apa. Aromanya saja yang terus mengikuti penciumanku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana. Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukanny

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan.  Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya. Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Terma

Menulis 500 Kata

Sekarang sepertinya harus bekerja lebih keras lagi. Saya banyak sekali menulis artikel yang terlampau pendek. Bahkan banyak sekali postingan yang hanya berisikan gambar. Kalau hanya seperti itu saya yakin banyak orang yang akan bisa membuat postingan jauh lebih banyak dari yang saya bisa lakukan. Jadi sekarang sepertinya saya harus mengubah tantangannya menjadi lebih menarik. Saya harus menulis setidaknya 500 kata untuk setiap artikel yang saya buat. Supaya lebih terasa menantang dan saya tak hanya sambil lalu lagi mengupdate blognya. Sebab akhir-akhir ini ketika menyelesaikan jumlah postingan saya akhirnya suka mengambil beberapa gambar yang sudah saya unggah di instagram dan memasukkannya ke blog menjadikannya satu postingan. Padahal hanya diikuti satu dua kata saja. Bahkan pernah tak ada tulisan apa-apa. Memang menulis 10 postingan sehari bukanlah hal yang mudah untuk membagi waktu dengan persiapan pernikahan. Tapi tantangan memang harus dibuat seberat mungkin bukan? Bukan