13 Juni 2012

Feromon [Bagian 7]


Menikahlah denganku.” 

Zacky mengulurkan kotak cincin yang ia keluarkan dari sakunya. Aku terpana. Beberapa detik berlalu dalam diam. Suara air mendidih membuatku bangki. Menjauhi meja makan dan mengambil gelas. Mengisinya dengan kopi dan air panas. Mengaduk gula. Ingin menggaruk kepalaku sendiri.

Kamu tidak mau menikah denganku Elena?”

Aku membawa gelas kopi dan kembali duduk di tempatku semula. Menatap mata Zacky yang teduh. Cinta sedalam itu. Aku malah mengabaikannya dan membuat diriku terperangkap dalam aroma tubuh Namo. Lagi-lagi Namo, Namo yang tak peduli sama sekali denganku. Aku yakin Namo bisa membaca wajahku. Sayangnya dia tidak memenuhi inginku.

Kusesap kopi dalam gelas, perlahan. Membiarkan kepalaku yang berbicara. Mulutku masih terkunci. Seandainya sekarang ada Jenny pasti dia sudah berteriak padaku untuk menerima lamaran ini. Bisa jadi dia pula yang memberikan saran pada Zacky untuk melakukannya.

Dua minggu ini kamu ke mana?”

Aku mengalihkan topik pembicaraan Zacky.

Menenangkan diri. Aku merasa ada sesuatu yang mengubahmu. Kamu bukan Elena yang aku kenal sebelumnya. Kamu tiba-tiba menjadi orang lain. Seakan-akan tidak pernah mencintaiku, Elena.”

Aku menarik napas pelan. Apabila aku dibolehkan jujur dan tak mau memikirkan perasaanmu Zacky, aku sudah mengatakan perasaanku yang sebenarnya. Bagaimana bisa kita menjalin hubungan selama ini. Bukan karena aku mencintaimu, melainkan karena aku ingin belajar untuk menyayangimu.
Kubiarkan kopi dalam gelas itu mendingin tanpa aku sentuh lagi. Aku kehilangan selera.

Elena, apakah kamu tak mau menerima lamaranku?”

Apa tidak terlalu cepat untuk kita, Zacky?”

Wajah Zacky mengeras. Dia menahan amarah yang bercokol di kepalanya. Aku tahu ini menyakitkan Zacky. Tapi akan lebih menyakitkan jika kita menikah kemudian ragaku bersamamu dan pikiranku bersama orang lain.

Tidak pernah ada kata terlalu cepat jika menyangkut memilikimu Elena.”

Kata-kata Zacky yang lembut. Seandainya aroma tubuhmu menyamai Namo, akankah aku memilihmu? Sekuat itukah bau yang Namo letakkan di dalam rongga hidungku? Hingga akal sehatku tak lagi mampu bekerja.

Beri aku waktu, tidak secepat ini.”

Sekerjap kecewa membayang di wajah Zacky. Dia mengambil kotak yang tadi dia ulurkan. Menutupnya dan memasukkannya ke saku celana.

Jangan memaksakan perasaanmu untukku Elena, jika itu tidak pernah ada.”

Zacky meninggalkanku dengan segelas kopi yang semakin dingin.

***

Jenny menatapku dengan tajam. Dia kesal setelah aku ceritakan semuanya. Matanya menyala. Aku tahu dia ingin mengomel. Aku siap mendengarkan apa pun yang akan dia ucapkan. Dia sahabatku. Dia pasti tahu cara menyelesaikan masalah ini.

Elena gunakan otak kamu. Cinta bukan hanya masalah bau apalah itu namanya. Zacky orang terbaik yang bisa kamu miliki tanpa usaha apa-apa. Apalagi kurangnya?”

Aku bingung Jen, hatiku memaksaku untuk menolak Zacky.”

Jenny menarik napas panjang.

Hidup ini memang aneh, kita mencintai seseorang dengan sepenuh hati. Tapi kenyataannya cinta kita tak berbalas. Lebih menyakitkan lagi saat kita tahu orang yang kita cinta tersebut mencintai orang lain. Dan bagian paling menyedihkan cintanya juga ditolak oleh orang yang dicintainya. Apakah itu yang disebut orang sebagai karma? Atau hanya sebuah perjalanan hidup yang akan mengantarkan kita pada orang yang seharusnya kita miliki.”

Jen, kamu mencintai Zacky?”

Jenny duduk di sampingku. Sofa yang tersentuh tubuhnya berubah bentuknya. Ia langsung menggenggam tanganku. Matanya berkaca-kaca. Aku melihat seseorang yang sedang menahan berat sakit hati di dalam dadanya. Aku tak tahu harus berkata apa lagi. Aku memeluknya erat dan membelai rambut panjangnya.

Bersambung...

Related Posts

Feromon [Bagian 7]
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).