Langsung ke konten utama

Feromon [Bagian 6]

Dia pasti gay.” 

Jenny mengulang pernyataannya setelah aku menceritakan tentang Namo.

Masalahnya adalah aku tak bisa menahan diriku. Aroma tubuhnya itu membuatku gila, Jen.”

Elena, itu hanya perasaan yang muncul sebentar. Nanti juga hilang. Kamu hanya perlu melupakannya dan kembali pada Zacky. Apa kamu tega mengecewakan Zacky?”

Aku menghempaskan tubuhku ke ranjang. Ikut berbaring di samping Jenny.

Seumur hidupku aku selalu percaya Jen, bahwa suatu hari aku akan bertemu dengan seseorang dengan feromon yang benar. Feromon yang akan memuatku nyaman. Jatuh cinta.”

Elena, cinta tidak hanya masalah feromon. Kita tidak butuh feromon untuk hidup.”

Jenny, kamu tak mengerti rasanya.”

Aku memang tak mengerti apa yang kamu rasakan. Tapi aku mengerti bagaimana rasanya jika aku berada di posisi Zacky.”

Jenny...”

Semuanya terserah sama kamu Elena. Tapi setiap orang selain punya feromon juga punya perasaan.”

Jenny ada benarnya juga. Tapi aku tak bisa menghilangkan aroma yang terlanjur aku hirup itu. Aku ingin menghirupnya lagi. Lagi dan lagi. Bau yang membuatku lupa siapa aku sebenarnya. Setiap kali aku melihat dada Namo aku pasti hanya ingin bersandar di sana. Tak ada lagi yang aku inginkan selain bersamanya. Apakah cinta seperti ini? Kegilaan tiada henti menghantuiku.

***

Namo menarikan jemarinya di atas papan ketik. Wajahnya masih datar seperti pertama kali aku bertemu dengannya. Mengapa tak bisa dia sedikit memberikan tanda yang lebih jelas? Setidaknya biar aku tahu di mana dunia yang aku pijak sekarang ini. Apakah rasa ini sama? Atau hanya berada di satu pihak saja?

Aroma indah itu menyeruak menghangatkan suasana di antara kami berdua. Seandainya aku bisa memilih, ingin kutinggalkan hidungku di rumah. Agar tak perlu kubaui semua aroma Namo. Pak Sunarya selalu saja membuatku tak berkutik dengan memintaku menyelesaikan tulisan ini bersama Namo. Mengapa harus bau Namo yang menggodaku? Tak adakah orang lain dengan aroma yang lebih baik dari ini sehingga aku tak terjebak di sini dengan hati yang kelu.


Sekarang kamu bisa melanjutkannya Elena. Aku mau mandi.”

Tapi...”

Kamu sudah lihat caraku mengerjakannya bukan?”

Namo tak menunggu jawabanku dan segera menghilang ke kamarnya. Aku termangu di depan layar laptop. Bagaimana aku bisa menyelesaikannya? Sejak tadi pikiranku sama sekali tidak tersambung ke sini. Aku memikirkanmu Namo. Menatap pori-pori wajahmu bahkan menghitung dengus napasmu setiap menit.

Perlahan kuketukkan jemariku. Menuliskan apa saja yang terlintas di kepalaku sebagai cara yang benar menyelesaikannya. Namo sama sekali tak membantu. Dia hanya membuyarkan semua pikiranku untuk menuntaskan pekerjaanku. Ponselku berdering. Ada pesan masuk, kulirik sedetik dan membaca nama pengirimnya. Zacky. Sudah dua minggu berlalu dan sekarang dia menghubungiku?

Kamu di mana Elena, aku ingin bertemu.

Aku menimbang-nimbang ponselku. Bingung membalas pesan dari Zacky. Apakah aku harus menolak permintaannya atau mengajaknya bertemu? Kuketikkan beberapa kata sebagai balasan.

Nanti malam, di rumahku.

Segera kulupakan sejenak tentang Namo. Aku harus menyelesaikan semua pekerjaan ini jika aku ingin bebas dari aroma tubuh yang menghipnotisku. Menjauh darinya secepat mungkin. Namo juga tak memberikan sinyal apa-apa yang menunjukkan bahwa ada sesuatu yang istimewa di antara kami berdua. Aku tak bisa menunggu bukan?

Bersambung...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana. Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukanny

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan.  Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya. Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Terma

Menulis 500 Kata

Sekarang sepertinya harus bekerja lebih keras lagi. Saya banyak sekali menulis artikel yang terlampau pendek. Bahkan banyak sekali postingan yang hanya berisikan gambar. Kalau hanya seperti itu saya yakin banyak orang yang akan bisa membuat postingan jauh lebih banyak dari yang saya bisa lakukan. Jadi sekarang sepertinya saya harus mengubah tantangannya menjadi lebih menarik. Saya harus menulis setidaknya 500 kata untuk setiap artikel yang saya buat. Supaya lebih terasa menantang dan saya tak hanya sambil lalu lagi mengupdate blognya. Sebab akhir-akhir ini ketika menyelesaikan jumlah postingan saya akhirnya suka mengambil beberapa gambar yang sudah saya unggah di instagram dan memasukkannya ke blog menjadikannya satu postingan. Padahal hanya diikuti satu dua kata saja. Bahkan pernah tak ada tulisan apa-apa. Memang menulis 10 postingan sehari bukanlah hal yang mudah untuk membagi waktu dengan persiapan pernikahan. Tapi tantangan memang harus dibuat seberat mungkin bukan? Bukan