Feromon [Bagian 5]


Nyenyak?” 

Satu kata itu muncul dari bibir Pak Sunarya. Aku tak memahami maksud pertanyaan tersebut mengarah ke mana. Namo mengaduk kopinya. Tak membantuku sama sekali.

Nyenyak kok Pak.”

Maaf jika Elena harus sekamar dengan Namo, semua kamar sudah terisi dengan penuh dan memang saya tidak memperkirakan akan meminta kamu ikut menginap di sini.”


Bukan masalah kok Pak. Namo malah banyak membantu menyelesaikan tugas saya.”

Aku meneguk susu yang mulai mendingin. Sarapan pagi ini terasa sedikit kaku. Aku hanya memperhatikan dari ujung mataku bagaimana ekspresi Namo yang menyesap kopinya perlahan. Roti yang tadi ia ambil masih tak disentuhnya.

Kalian harus bekerja sama agar semuanya bisa berjalan sempurna, saya tidak mau ada kesalahan kecil yang merusak semuanya.”

***

Ucapan Pak Sunarya terus terngiang di telingaku. Namo pasti sangat tertekan dengan segala tuntutan yang diberikan untuknya selama ini. Sejak kapan dia bekerja di perusahan Pak Sunarya? Melihat kemampuannya memang tak ada yang perlu diragukan. Tapi kesalahan tak mungkin tak pernah terjadi bukan?

Tubuhku kelelahan saat ini. Acara memang sudah selesai. Tapi pekerjaan yang harus aku selesaikan kemudian menanti setinggi gunung.

Aku melihat pantulan wajahku di kaca mata Namo. Kami berpandangan begitu lama dalam diam. Aku berharap dia mau mengatakan sesuatu untuk menyenangkanku. Setidaknya agar aku lupa bahwa Zacky sekarang sedang kesal padaku. Aku bahkan tidak akan tahu bagaimana Zacky akan menuntaskan rasa kesalnya padaku.

Aroma tubuh Namo menguap lagi. Menjalar hingga rongga dadaku. Menghangatkan sekeping hati yang ada di dalamnya. Membuatku tenang dan percaya bahwa semuanya akan baik-baik saja. Dari jendela kamar hotel ini aku menatap ke Jalan Imam Bonjol. Sudah waktunya untuk kemacetan terjadi di sana. Tidak terlalu macet sebenarnya. Kendaraan hanya bergerak lebih lambat di beberapa titik tapi kemudian melaju lagi dengan kecepatan tinggi.

Kamu tahu, aku selalu membayangkan bagaimana rasanya menjadi orang yang lain. Bukan menjadi diriku yang sekarang.”

Namo memecah kebekuan di antara kami. Aku mengalihkan pandanganku padanya. Aku baru bertemu dengannya kemarin. Sekarang dia terlihat berbeda dari yang aku bayangkan sebelumnya. Dia sangat rapuh. Entah mengapa. Aku tak bisa menebak isi pikirannya. Apa yang ia simpan di dalam kepalanya?

Selama ini aku sering juga membayangkan menjadi orang lain, menjadi seorang yang sempurna. Cantik, terkenal, punya banyak teman, penggemar juga, banyak sih maunya. Tapi hidup bukan proses untuk menjadi sempurna. Hidup itu perjalanan. Apa pun isinya, seberapa kuat kita untuk bertahan menjadi diri kita yang sekarang.”

Namo berdiri dan melangkah ke arahku. Berhadapan. Aroma itu menyeruak lagi. Menghentikan akal sehatku. Aku tak bisa menahan diriku saat Namo berada sedekat itu denganku. Tanganku bergerak menyentuh pipinya. Namo tak memberikan reaksi apa-apa. Aku juga lelah, sama seperti dirinya. Acara memang sudah selesai. Tapi pekerjaanku belum. Masih banyak yang harus aku susun dalam bentuk tulisan.

Aku ingin menyentuh bibir Namo dengan bibirku saat ini. Detik ini juga. Tapi aku ragu untuk maju lebih dulu. Ada dinding yang memisahkan antara aku dan dia. Napas kami memang sangat dekat. Aku bahkan bisa melihat hingga ke dalam pupil matanya. Namo tak melepaskan pandangan matanya dari bola mataku. Dia mematung. Seakan menunggu aku yang maju lebih dulu.

Aku mengerut dan mundur. Aku tak bisa membaca apa-apa di wajahnya. Aku hanya bisa mencium aroma tubuhnya. Tak ada yang lebih dari itu. Namo tak menunjukkan keinginan yang sama dengan yang aku mau. Aku salah mengerti. Bukan, bukan salah mengerti sebenarnya. Aku yang terlalu memaksakan pikiranku untuk menjadi sebuah kenyataan. Padahal fakta yang ada di depanku sekarang tidak ada yang seperti itu. Ge-er sendiri. Namo adalah Namo. Bukan Zacky. Apa yang aku harapkan tidak semaunya bisa terjadi begitu saja.

Tidak ada lagi yang harus kerjakan. Berarti aku boleh pulang dong?”

Semua terserah kamu Elena.”

Hasil tulisanku nanti akan aku serahkan lewat e-mail saja ya?”

Aku mengemasi tasku dan berjalan menuju pintu. Tangan Namo menahanku. Dia menarikku hingga aku tenggelam di dadanya. Detak jantungnya terdengar olehku. Debarannya memenuhi gendang telinga. Lamat-lamat aku mendengar suara yang diucapkan Namo.

Pulanglah, istirahat yang cukup, Elena.”

Namo kemudian melepaskan pelukannya. Dia hanya memelukku walaupun aku berharap lebih dari itu yang aku dapatkan.

Bersambung...
Share:

Posting Komentar

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).

Designed by OddThemes | Distributed by Blogger Themes