Feromon [Bagian 4]


Aku menjawab dengan anggukan pelan. Sekarang aku tak punya pilihan selain menyelesaikan apa yang diminta Pak Sunarya. Karierku telah aku pertaruhkan di sini. Sekali saja aku melakukan kesalahan di sini, semua perusahaan yang aku datangi pasti tidak akan mau mempercayakan pekerjaan apa pun padaku. Penilaian Pak Sunarya seperti ujung tombak untuk memasuki perusahaan mana pun yang aku mau.

Ini kesempatan emas sekali seumur hidupku. Aku tak boleh melewatkannya meskipun pertaruhannya sangat besar sekarang. Zacky harusnya mengerti itu. Bukankah dia sendiri yang memberi tahu tentang acara ini dan dia yang mengenalkanku pada Pak Sunarya?

Sampai kapan kamu mau melamun seperti itu?”

Namo membuyarkan pikiran yang berkecamuk di dalam rongga kepalaku. Mata kami bertemu dan perasaan aneh yang menggelitik hatiku itu muncul lagi. Tidak! Tidak! Aku memiliki Zacky. Aku harus mempertahankan semua kepercayaan yang telah diberikan Zacky padaku. Aku telah berjanji pada diriku sendiri untuk belajar mencintai Zacky sedalam dia mencintaiku. Aku lelah mengejar semua cinta yang aku inginkan. Sekarang bersama Zacky aku hanya perlu mempertahankannya. Zacky sudah menyerahkan sekeping hatinya untuk aku jaga. Kejam sekali jika aku meruntuhkannya.

Tidurlah, biar aku yang mengerjakan ini semua.”

Tidak, ini tugasku, biar aku yang menyelesaikannya.”

Aku turun dari ranjang dan duduk di karpet yang tebal. Menyalakan laptopku dan mulai menerawang lembaran kertas yang tadinya diberikan Pak Sunarya. Sebanyak ini, apakah bisa aku selesaikan dalam satu malam? Namo ikut duduk di sampingku sambil memperhatikan semua yang aku kerjakan. Dia tak mengeluarkan sepatah kata pun.

Beberapa jam berlalu, aku mulai mengantuk. Tinggal lembaran terakhir yang harus aku kerjakan. Kepalaku mulai terasa berat. Begitu pula kelopak mataku. Namo menarik laptop yang aku letakkan di pahaku. Mengetikan beberapa baris kalimat yang harusnya aku ketik. Sementara itu aku memejamkan mataku perlahan. Namo menyelesaikan pekerjaanku dalam diam. Sedikit kesadaranku masih bekerja saat Namo menyimpan kepalaku di bahunya.

Malam ini terasa sangat hangat meskipun ruangan ini berpendingin. Napas Namo yang terhirup olehku membuatku lebih tenang. Perlahan-lahan bayangan Zacky yang sedang kesal memudar dari otakku.

***

Aku membuka mataku perlahan. Udara yang keluar dari hidung Namo menyapu wajahku. Wajah kami berhadapan sangat dekat. Namo masih nyenyak. Aku tak berani bergerak. Lengan laki-laki itu memelukku. Aku hanya bisa memperhatikan wajah yang masih terpejam itu. Sekarang ia tak mengenakan kaca mata. Namo terlihat lebih manis tanpa kaca matanya. Sisa kekanak-kanakan pada wajahnya pasti tersembunyi di balik kaca mata yang selalu bertengger di hidungnya.

Sudah bangun?”

Sejenak aku merasakan detak jantungku seakan berhenti. Mata Namo yang tadinya tertutup sekarang terbuka. Dia ternyata telah bangun. Apakah dia tahu sejak tadi aku memperhatikan wajahnya?

Iya.”

Pipiku terasa merona. Panas menjalari hingga telinga. Namo tersenyum. Aku melihat matanya sedikit merah. Semalam jam berapa dia tidur? Dia pasti telah mengangkatku hingga aku bisa berada di atas ranjang. Bahkan dia menyelimutiku. Memelukku sampai pagi. Sekarang tangannya pun masih melindungiku.

Kamu tidurnya memang suka ngorok ya?” ledek Namo.

Sejak kapan?”

Kamu ngorok sampai pagi, aku jadi tak bisa tidur.”

Bohong ah!”

Namo tertawa. Aku yakin dia berbohong. Tidak mungkin aku mengorok. Apalagi semalaman.

Kamu bohong kan?”

Ada yang bohong ada yang benar.”

Apa?”

Aku tak bisa tidur semalaman itu benar tapi bukan karena suara ngorok kamu. Melainkan karena napasmu yang menerpa wajahku sampai pagi.”

Wajah kami yang sedemikian dekatnya tak membuat Namo segera melabuhkan ciuman di bibirku. Jika memang itu yang akan terjadi aku tak akan pernah bisa menolaknya. Beberapa helaan napas mata kami hanya berpandangan. Namo juga tidak menunjukkan gerakan asing padaku.

Apakah bauku masih tercium seenak yang kemarin?”

Masih sama. Bahkan pagi ini baunya lebih tajam.”

Tentu saja, aku kan belum mandi.”

Aku masih terus menunggu. Aku berharap hari ini mendapatkan kejutan manis darimu Namo. Agar aku mengerti dengan rasa yang sekarang mengganggu hatiku sendiri. Apakah kamu takut selimut yang sekarang menutupi kita akan bercerita pada ranjang dan meja? Menceritakan apa yang kita lakukan pagi ini?

Mandi sana, Pak Sunarya pasti sudah menunggu kita untuk sarapan. Siapa tahu dia akan mengembalikan ponselmu.”

Aku menyibakkan selimut dengan sedikit kecewa. Namo bisa jadi laki-laki yang tidak normal. Bagaimana mungkin dia tidak melakukan sesuatu padaku? Padahal semalaman aku dalam pelukannya. Entahlah. Aku beringsut ke kamar mandi dan mengisi bak mandi dengan air hangat. Aku hanya ingin berendam. Berharap pikiran anehku tentang Namo ikut larut dalam air mandi nantinya.

Bersambung...


Share:

Posting Komentar

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).

Designed by OddThemes | Distributed by Blogger Themes