Feromon [Bagian 3]

Namo membawaku ke kamar yang lain. Di kamar ini hanya ada kami berdua. Mengapa dia membawaku ke sini? Bukankah tadi Pak Sunarya telah mengatakan bahwa kamar panitia 312? Aku tak bisa menebak apa yang ada di dalam kepala Namo. Apa yang ia pikirkan tentangku?

Tenang aku tidak akan mengacaukan acara malam ini dengan melakukan hal yang buruk padamu jika itu yang kamu pikirkan, Elena.”

Aku berusaha bersikap wajar dengan meletakkan ransel yang sejak tadi menggantung di punggungku. Menyalakan televisi dan berbaring di ranjang. Namo sejak tadi duduk di sofa dengan setumpuk kertas di meja.

Jadi tugasku malam ini adalah....”

Kalimat tersebut tak aku selesaikan. Menunggu Namo yang melanjutkannya.
Hanya acara makan malam, semua undangan akan hadir malam ini. Kamu hanya perlu mengikuti kemanapun aku pergi sampai acara selesai.”

Begitu saja?”

Iya, tugas yang sangat mudah bukan?”

Pak Sunarya bilang kamu akan membantuku menyiapkan apa yang aku butuhkan. Aku butuh pakaian yang pantas untuk nanti malam. Tidak mungkin aku makan malam dengan sandal jepit, baju kaos, dan celana jeans bukan?”

Di lemari itu sudah ada pakaian yang bisa kamu pilih. Semuanya untuk kamu.”

Aku bergerak menuju lemari dan melihat isinya. Semuanya gaun yang sama sekali asing bagiku. Aku tak pernah mengenakan pakaian seperti ini sebelumnya. Apakah tidak ada pakaian jenis lain yang bisa aku kenakan?

Sekarang kamu coba satu persatu, biar aku tentukan yang mana yang paling sesuai untuk kamu.”

Eh? Memangnya dia siapa? Dia yang akan menentukan pakaian yang sesuai untukku?

Elena, kamu boleh mulai mengenakannya sekarang. Ada 25 gaun di sana. Aku tidak mau buang waktu lebih banyak.”

Akhirnya aku mengalah. Aku mulai mengenakannya satu persatu. Memperlihatkannya pada Namo. Mulai dari gaun merah dengan begitu banyak renda hingga terusan putih yang sangat sederhana. Pilihan Namo jatuh pada sebuah gaun coklat yang mempesona. Aku juga menyukai pilihannya. Gaun coklat muda ini tidak terlihat mencolok tapi sangat cantik ketika aku kenakan.

Laras bisa membantumu untuk bagian dandanan.”

Aku? Berdandan?”

Kamu tidak mungkin tampil dengan wajah polos begitu Elena.”

***

Namo berjalan di sampingku yang melangkah hati-hati dengan sepatu berhak tinggi. Sebelumnya aku terbiasa dengan sepatu flat dan semacamnya. Malam ini aku merasa sangat berbeda. Dengan riasan wajah yang dipoleskan Laras. Memang tidak mengalahkan kecantikan Laras tapi cukup membuatku terlihat berbeda. Beberapa mata menatapku dengan mata berbinar. Itu artinya aku cukup cantik bukan.

Kamu boleh menggandengku jika kamu takut jatuh.”

Namo berbisik lembut di telingaku. Napas hangatnya membuatku membuat bulu kudukku berdiri. Harusnya dia tidak melakukan itu. Menghembuskan napasnya dengan nakal di telingaku. Aku hanya bisa menarik napas panjang dan menggandengnya. Lengannya yang kokoh membuat langkahku lebih mantap. Aku tidak takut akan terjatuh.

Ini hanya acara makan malam, tidak ada yang bisa aku kerjakan di sini.”

Kamu bisa makan bersamaku.”

Aku tak mengerti mengapa harus berada di sini bersama Namo. Pak Sunarya tidak menjelaskan banyak. Hanya sebuah acara makan malam. Tidak perlu ada yang aku catat dan rekam.

Aku belum lapar.”

Kamu harus makan kemudian kita bisa menghilang setelahnya.”

Menghilang?”

Kamu mau di sini sampai kapan?”

Namo menatap mataku. Lagi-lagi dia melakukannya. Pandangannya itu sangat mengganggu. Aku tidak kuat apabila terus berada di sini bersamanya. Langkah kami terhenti di gerombolan tamu yang bersama Pak Sunarya. Sedetik kemudian Pak Sunarya telah menarikku untuk dikenalkan pada semua tamu yang ada di sini.

Mataku bertemu dengan sepasang mata beralis tebal. Milik Zacky. Dia di sini? Aku melepaskan lengan Namo. Tubuhnya kaku. Tak tahu mesti berkata apa. Semua ucapan orang yang menyalamiku tak terdengar sama sekali. Entah apa yang diucapkan Pak Sunarya. Aku tak mendengar apa-apa.

Aku melihat kemarahan yang tertahan di mata Zacky. Termasuk semua pertanyaan yang ingin ia ajukan. Sayang, tidak memungkinkan bagi kami membahas masalah hati dan perasaan sekarang ini. Tempat ini bukanlah lokasi yang tepat. Namo menggamit lenganku dan membawaku menjauh dari tempat itu. Semakin membuat Zacky melotot. Aku tak mampu menolak.

Kita mau ke mana?”

Sudah cukup tugas kita malam ini, aku lelah dan ingin tidur. Nanti biar aku pesan makanannya di bawa ke kamar saja.”

Kamar yang mana?”

Kamar yang mana lagi, kita kan sekamar.”

Jangan bilang kita akan tidur di kamar yang sama, satu ranjang.”

Bukannya kamu harus pulang?”

Namo yang masih menggamit lenganku menghentikan langkah kami di depan lift. Mata kami bertemu. Aku meneliti bola matanya dan melihat pupil matanya yang pekat. Hidungnya yang mancung ditenggeri kaca mata minus. Bibirnya yang penuh tersenyum tipis.

Eh iya aku harus pulang. Aku lupa.”

Aku hampir saja memukul jidatku sendiri. Aku benar-benar dibuat kepayang oleh keberadaan Namo. Aroma tubuhnya terus memenuhi rongga pernapasanku. Aku tak tahan berada di sisinya sedekat ini. Aku seakan-akan tak mampu mengendalikan diriku sendiri. Kesadaranku sepertinya menguap begitu saja.

***

Aku menjinjing sepatu yang entah berapa tingginya itu. Aku merasa lelah mengenakannya. Dengan kaki telanjang aku mengikuti langkah Namo menuju kamar. Aku tak perlu lagi berpegangan padanya. Lantai yang dingin terasa menusuk kulit telapak kakiku. Kami tiba di depan pintu kamar yang tadi. Namo mengeluarkan sebuah kartu dan membuka kunci pintu tersebut.

Aku duduk di tepi ranjang dengan pakaian kebangsaanku. Kaos dan jeans. Namo duduk di tepian yang lain sambil memilih tayangan televisi. Kami membisu. Tak tahu harus berkata apa. Aku bahkan tak tahu mengapa berada satu kamar dengan Namo. Untungnya aku tak perlu menginap di sini. Aku juga punya banyak waktu nanti malam untuk menjelaskan semuanya pada Zacky. Dia pasti menerima penjelasanku.

Tanyakan saja apa yang ingin kamu tanyakan.”

Namo membaca pikiranku?

Banyak sekali yang ingin aku tanyakan. Tapi aku lapar.”

Sebentar lagi makanannya sampai. Tanyakan saja sekarang. Sebelum kamu harus pulang.”

Mengapa aku harus hadir di acara makan malam tadi tanpa perlu makan sama sekali? Bahkan tidak sampai setengah jam kita di sana. Mengapa kita di sini? Di kamar yang sama?”

Pak Sunarya yang meminta. Dia menginginkan kita lebih dekat.”

Untuk?”

Dia ingin aku mendapatkan hatimu Elena.”

Jadi Namo melakukan banyak hal itu hanya karena diperintahkan oleh atasannya? Bukan karena benar-benar menganggapku istimewa? Perasaan apa ini? Mengapa aku kecewa mendengar kenyataannya?

Pak Sunarya sering menjodohkanku dengan banyak wanita yang dia kenal. Aku memang sedang tidak ingin menjalin hubungan serius dengan siapa pun. Itu yang Pak Sunarya tidak tahu. Bahkan penugasanmu kali ini sebagai panitia pun sudah terbaca olehku. Pak Sunarya punya rencana sendiri buat kita. Sayangnya aku belum siap mencintai siapa pun, aku tak bisa. Aku tidak siap. Aku ingin menikahi seorang perempuan di dunia ini, tapi bukan sekarang. Nanti.”

Ponselku di dalam saku celanaku bergetar beberapa detik. Buru-buru aku mengeluarkannya dan membaca nama Zacky di sana. Dia pasti tak sabar ingin berbicara denganku. Aku tekan tombol 'terima' dan mendekatkannya ke telinga kiriku.

Iya?”

Kamu di mana?”

Sebentar lagi aku pulang. Kita bicara di rumah saja. Bagaimana?”

Iya, aku akan menunggumu.”

Panggilan itu selesai. Aku kembali memasukkannya ke saku celanaku. Zacky yang sangat sabar di dalam hubungan ini. Bagaimana mungkin aku melupakan keberadaannya hanya disebabkan oleh aroma tubuh seseorang yang memabukkan? Padahal orang itu sama sekali tak menganggapku istimewa. Dia bahkan bersamaku dengan alasan menuruti perintah atasannya.

Aku harus pulang. Ada yang menungguku.”

Aku menyambar tasku dan mengenakannya di punggungku. Berjalan menuju pintu. Belum sempat aku keluar, Pak Sunarya sudah menarikku ke dalam. Tangannya membawa sedemikian banyak berkas.

Elena bawa laptop kan? Saya butuh ini selesai malam ini.”

Bawa.”

Namo tak menunjukkan ekspresi terkejut sepertiku. Dia pasti tahu sesuatu. Belum sempat aku bertanya lagi Pak Sunarya sudah meletakkan semua berkas itu di ranjang.

Ponsel Elena mana?”

Aku mengeluarkannya dari sakuku. Pak Sunarya merebutnya dan memasukkannya ke sakunya.

Untuk sementara saya pegang dulu, saya ingin semua laporan ini selesai dengan sempurna tanpa gangguan apa-apa. Namo akan membantumu.”

Namo tak memberikan reaksi apa-apa. Dia diam saja. Terpaku di sana. Pak Sunarya meninggalkan kami berdua. Sempurna. Saat Zacky menungguku, aku di sini tanpa bisa pergi. Bagaimana ini?

Hubungilah siapa pun yang ingin kamu hubungi dengan ponselku.”

Namo mengulurkan ponselnya padaku yang langsung menerimanya dan menekan nomor ponsel Zacky. Beberapa detik berlalu. Terdengar suara sapaan Zacky di seberang sana.

Maaf Zacky, ini aku. Aku tak bisa pulang. Masih ada yang harus aku kerjakan. Aku janji begitu semuanya selesai aku akan menjelaskan duduk perkaranya.”

Elena, kamu janji akan pulang malam ini.”

Aku...”

Sudahlah tak ada yang perlu kamu jelaskan Elena, aku mengerti.”

Panggilanku diputuskan Zacky. Aku benar-benar ingin pulang sekarang. Aku tak mau kehilangan Zacky dengan cara seperti ini. Aku tidak salah. Zacky yang salah mengerti.

Pacar?” tanya Namo saat aku mengembalikan ponselnya.

Bersambung...
Share:

Posting Komentar

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).

Designed by OddThemes | Distributed by Blogger Themes