8 Juni 2012

Feromon [Bagian 2]


Lift berhenti di lantai tiga. Pintu terbuka. Namo dan aku keluar. Langkahnya harus aku ikuti lagi. Melewati beberapa kamar yang tak pernah aku lihat sebelumnya. Memang tak pernah sekalipun aku ke hotel ini. Padahal hotelnya sudah lama berdiri. Memang tak ada alasan apa pun yang mengharuskanku ke sini. Kecuali detik ini. Aku menjadi panitia acara yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.

Beberapa puluh langkah menghantarkan kami pada sebuah kamar. Angka yang tertera, 312. Namo mendorong pintu yang memang tidak terkunci itu. Aku menatap beberapa penghuni di dalamnya. Dua lelaki dewasa lagi. Dua-duanya terlihat sibuk sedangkan aku hanya datang dengan kepala masih kosong. Tak tahu apa yang harus aku kerjakan di acara tersebut nantinya. Namo membuka beberapa lembaran kertas, mencari konsep yang dia buat untukku. Aku meletakkan pantatku di ranjang. Hanya satu-satunya hal yang tidak dipenuhi tumpukan kertas selain selimut yang sangat kusut dan bantal yang tak beraturan.

Ini dia. Kamu tinggal baca di rumah dan besok bisa langsung ke sini. Kamu tinggal kirim pesan saja jika ada yang ingin ditanyakan.”

Aku menganggukkan kepalaku. Tak tahu harus berkata apa. Aku hanya menerima lembaran keras yang diberikan Namo.

Ada yang ingin kamu tanyakan?” Namo menatap mataku dengan pandangan semula. Pandangan yang semakin membuatku jengah. Entah pipiku memerah, aku tak tahu. Pipiku memang sedikit terasa panas. Akhirnya aku menundukkan kepalaku sambil membaca konsep kerjaanku besok. Namo ikut duduk di sampingku. Menunggu aku mengajukan pertanyaan. Beberapa menit berlalu dalam senyap. Aku telah membaca secara keseluruhan. Rasanya aku sangat mengerti konsep yang dibuat Namo. Terlalu jelas dan mudah bagiku.

Aku mengangkat kepalaku dan membalas tatapan matanya. Ada yang tak aku mengerti. Tapi bukan tentang konsep ini. Tentang aroma tubuhnya yang membuatku tak tenang.

Kamu pakai parfum apa?”

Namo mengerutkan keningnya. Dia tak akan pernah menyangka aku menanyakan pertanyaan aneh seperti itu. Dipertemuan pertama dan aku ingin tahu parfumnya. Bibirnya yang sejak tadi belum tersenyum akhirnya membentuk senyuman tipis. Indah. Dia terlihat berkilauan.

Aku sejak kecil tidak suka parfum, jadi jika memang bau badanku mengganggu aku minta maaf. Bau ya?”

Aku menggelengkan kepalaku dengan malu. Dia pasti tersinggung karena pertanyaanku seakan-akan mengatakan badannya bau. Ah, Elena, konyol sekali.

Bukan seperti itu. Baunya enak kok.”

Sekarang dia yang terlihat jengah. Aku terlalu jujur sepertinya.

Maaf, pertanyaanku salah. Aku memang ada sedikit masalah hidung dengan penciuman yang terlalu tajam. Itu hanya feromon kamu kok. Aroma tubuh kamu.”

Dua orang yang tadinya sibuk dengan komputer mereka menatap kami berdua. Mendengarkan kalimat yang meloncat dari bibirku. Kalimat yang aneh?

Lupakan kalimat barusan. Aku asal bicara saja. Berarti aku sekarang boleh pulang dan tinggal datang besok ke sini bukan?”

Aku menghindari tatapan mata Namo dan segera memasukkan kertas-kertas tersebut ke dalam tasku setelah melipatnya.

Iya, biar kuantar sampai lobi.”

Aku bisa sendiri kok, aku masih ingat jalan pulang.”

Tak apa.”

Namo bangkit lebih dulu. Membiarkanku mengikuti langkahnya. Lagi-lagi dia memimpinku. Aku melangkah dalam diam. Tak tahu harus bersikap bagaimana. Tadinya aku pikir aku bisa melewatkan tugas ini tanpa melakukan hal yang konyol. Nah, kalimat yang aku ungkapkan sebelumnya pasti awal dari banyak hal konyol yang akan terjadi. Dalam lift hanya ada kami berdua. Aku terus saja menunduk. Tak berani menatap Namo yang ada di sebelahku. Aku merasa lift ini bergerak sangat lambat. Sudah sekian lama aku menanti tidak ada tanda-tanda lift ini tiba di lantai dasar.

Jelaskan padaku kata-katamu tadi. Aroma tubuhku?” Namo membuka percakapan di antara kebisuan kami.

Tidak ada yang harus aku jelaskan. Itu hanya sebuah hal konyol yang muncul dari mulut seseorang yang tak kalah konyol.”

Namo bergerak. Tangannya bergerak menarik daguku hingga atas. Mata kami bertemu. Tatapan matanya begitu memabukkanku. Aku mabuk. Kepayang. Bayangan Zacky yang tadinya berputar-putar di dalam kepalaku sejenak menghilang begitu saja. Zacky dan semua ajakan makan malamnya.

Tidak ada yang konyol Elena. Katakan padaku.”

Napas Namo yang mengandung feromon yang sama menerpa wajahku dan terhirup oleh hidungku. Aku memejamkan kedua mataku dan membiarkan semua aroma itu masuk. Memenuhi rongga paru-paruku. Aku seakan-akan menemukan candu yang membuatku lupa dengan kesadaranku.

Aku mengingat semua orang berdasarkan baunya. Menilai semua orang dengan bau yang mereka berikan padaku. Bau yang benar-benar keluar dari tubuhnya. Tanpa ada bantuan dari parfum apa pun. Tapi terkadang penciumanku tak bisa memastikan bau yang sebenarnya karena hampir semua orang yang aku temui menggunakan parfum. Bau kamu berbeda dari semua bau yang pernah aku temui. Bau kamu enak. Aku tak mampu menjelaskan seberapa enak dan bagaimana sensasi enak yang aku dapatkan dari bau tubuhmu. Aku suka bau kamu.”

Namo tersenyum. Entah menahan tawa atau apa, yang jelas dia terlihat mengerti dengan penjelaskan yan aku berikan.

Bau yang kamu ambil itu berasal dari tubuh bagian mana?”

Dari bagian mana pun bisa, dari napas, dari keringat yang menguap membawa bau tersebut.”

Jarak berapa meter kamu bisa mencium bau enak itu?”

Tidak jauh, aku harus dekat dengan orang tersebut. Sedekat kita waktu di lobi tadi.”

Namo merangkul pinggangku, menarik tubuhku semakin dekat padanya. Jantungku berdebar tak karuan. Berbagai pikiran muncul.

Bagaimana rasanya punya kemampuan mencium seperti kamu? Apakah menyenangkan?”

Aku menelan air liurku. Jarak wajahku dan wajahnya terlampau dekat. Mengapa begitu lama lift ini sampai di lantai dasar? Aku sudah tak mampu lagi menghadapi bau tubuh Namo. Aku sangat mabuk.

Sebenarnya menyiksa, tidak semua bau itu enak Namo. Tidak semuanya seenak bau kamu.”

Jika sekarang kamu tidak perlu takut dengan apa pun, apa yang akan kamu lakukan padaku? Apabila bauku seenak itu.”

Aku tak mampu menahan diriku lagi. Aku membenamkan wajahku ke dadanya. Menghirup semua aroma tersebut hingga benar-benar memenuhi lorong pernapasanku. Kami berpelukan lama sekali. Sampai aku memuaskan dahagaku pada baunya. Saat aku sadar kembali, barulah aku tahu bahwa lift ini sama sekali belum bergerak. Namo tidak menekan tombol apa pun agar kami tiba di lantai dasar.

Kamu lucu, sayang kamu harus pulang dan baru bertugas besok. Padahal masih banyak hal yang bisa kamu lakukan padaku.”

Aku akhirnya mengulurkan tanganku dan menekan tombol lift. Lift bergerak turun. Bersamaan dengan kecupan dari Namo yang mendarat di dahiku.

Bau kamu juga enak, Elena.”

Ketika pintu lift terbuka, aku segera melangkah keluar. Aku merasa pipiku panas. Campuran antara malu, senang, dan bingung menjadi satu di dalam kepalaku. Aku sudah punya Zacky. Apa yang aku lakukan barusan? Apa yang Namo lakukan?

Elena?”

Langkahku terhenti di lobi. Itu bukan suara Laras. Suara laki-laki yang lain. Seorang lelaki yang lumayan tua. Seumuran ayahku. Aku mengenalinya. Dialah ketua panitia acara ini. Sunarya. Dia yang menugaskanku. Memberikan posisi sebagai notulen untuk besok.

Sudah bertemu dengan Namo?”

Sudah, Pak.”

Kita harus bicara soal perubahan jadwal. Kamu sepertinya harus segera bertugas malam ini.”

Pak Sunarya berhenti beberapa langkah di depanku.

Saya sama sekali tidak menyiapkan apa-apa. Bagaimana mungkin saya langsung bertugas malam ini, Pak?”

Namo akan memberikan semua yang kamu butuhkan. Sekarang, kamu ke lantai 3. Kamar 312. Cari Namo. Saya ingin semuanya berjalan sempurna malam ini. Tidak kurang satu apa pun.”

Dia lalu meninggalkanku di lobi dengan wajah bingung. Janjiku pada Zacky. Makan malam itu. Zacky sudah lama sekali mengajakku dan aku tak pernah mengabulkan. Aku tidak suka dengan hal-hal semacam itu. Pergi ke restoran mahal dengan mengenakan gaun yang anggun. Aku lebih suka Zacky membawaku ke warung cap cay langgananku dan makan sambil terbahak di sana. Tapi Zacky terus mendesak sampai akhirnya aku yang mengalah dan membiakan dia yang memilih tempat makan malam ini. Bahkan Zacky telah menyiapkan gaun yang sesuai untukku. Padahal lebih nyaman dengan celana jeans dan kaos bagiku.

Aku menekan tombol 'panggil' setelah menemukan nama Zacky di ponselku. Aku tahu dia akan kesal. Sangat kesal. Sayangnya aku tak punya pilihan. Aku hanya punya kesempatan baik satu kali dan sekarang kesempatan baik tersebut ada di depan mataku. Aku tak mau melewatkannya sama sekali. Zacky tak mengangkat panggilanku. Setelah beberapa kali tak ada jawaban aku akhirnya menyerah. Aku mengirimkan pesan singkat untuknya.

Zacky maaf, makan malamnya ditunda dulu ya? Aku ada kerjaan malam ini. Aku benar-benar minta maaf.

Pak Sunarya sudah menyuruhmu ke atas, ternyata kamu masih di sini.”

Suara Namo membuat aku terburu-buru memasukkan ponselku ke saku. Aku seakan-akan takut Namo tahu aku sudah punya kekasih. Ada apa dengan aku? Aku tak mampu menggunakan akal sehatku saat ini. Ada yang salah di dalam kepalaku.

Bersambung....

Related Posts

Feromon [Bagian 2]
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).