Feromon [Bagian 1]

Aku mengendari sepeda motorku membelah jalanan Pontianak yang tidak semacet Jakarta. Debu yang berterbangan menusuk mataku. Lagi-lagi aku lupa mengenakan kaca mata. Beberapa kali aku harus menggosok mataku yang terkena debu. Angin sore hari ini memang lebih kencang dari biasanya. Kendaraan yang berlalu-lalang di sekitarku juga melaju dengan kecepatan tinggi. Sama` buru-burunya denganku. Entah apa yang mereka kejar. Aku sendiri hanya mengejar waktu yang sebenarnya sudah jauh meninggalkanku. Aku sangat terlambat tapi tetap saja aku tak mau membiarkan waktu keterlambatan itu bertambah semakin banyak.

Aku mendorong pintu kaca yang berada menghalangiku dengan lobi. Beberapa pasang mata menatap keadaanku yang entah seperti apa. Maklum aku datang dengan tergesa-gesa. Seharusnya aku datang dua jam yang lalu. Terlambat dua jam untuk pekerjaan panggilan pertamaku. Mendapat kesempatan menjadi panitia inti di sebuah acara tapi aku malah mengacaukannya dengan keterlambatan.

Elena?”

Sepasang mata bening dengan bulu mata yang lentik menatapku dari atas hingga bawah. Aku memicingkan mataku sedikit. Tidak mungkin aku bertemu dengan perempuan ini. Tidak mungkin. Seingatku dia hanyalah bagian dari kenangan buruk yang pernah terjadi di dalam hidupku. Memang bukan kesalahannya melainkan kesalahan adik sepupunya, sekaligus kekasihku, dulu. Stian. Seorang playboy kelas kakap yang telah menyengsarakan kehidupanku untuk beberapa minggu.

Hai.”

Aku maju sedikit untuk menyentuh pipinya dengan pipiku. Dia terlihat senang melihatku. Apa yang ia pikirkan? Jika dia berharap dengan pertemuan kali ini bisa membuatku kembali menjadi cinta dengan Stian, dia akan menjadi orang yang paling salah di dunia ini. Aku tak akan kembali pada pelukan mantan kekasihku itu. Aku tak mempertanyakan apa pun. Aku bingung sebaiknya harus bersikap seperti apa. Ah, Pontianak memang kecil. Selalu saja aku bertemu dengan orang-orang yang tak pernah aku pikirkan lagi. Bahkan tepatnya aku hindari.

Mata Laras berputar ke beberapa arah. Seakan-akan dia mencari seseorang. Wajahnya selalu terlihat manis. Sama ketika pertama kali aku melihatnya. Kepercayaan diri yang sangat tinggi. Terpancar sempurna di sana. Sesuatu yang selama ini tidak aku miliki. Wajar saja, aku tidak secantik dirinya. Lobi hotel ini terlihat ramai dengan lelaki yang sibuk mengangkat peralatan. Beberapa di antaranya mengenakan batik.

Kamu mencari siapa?” akhirnya aku membuka mulutku.

Menemukan Laras di sini memiliki dua makna. Satu sedikit menyebalkan karena aku akan sangat merasa rendah diri di sampingnya dan akan membuat kerjaan pertamaku di luar kantor menjadi tidak menyenangkan seperti yang aku bayangkan sebelumnya. Dua sedikit menenangkan karena aku merasa punya tempat untuk bertanya dan mengadu apabila aku mengacaukan pekerjaanku sendiri. Dilema. Entahlah. Laras tidak begitu mengganggu sebenarnya. Toh nantinya aku hanya bertugas mendokumentasikan materi acara. Itu saja.

Laras masih saja mencari-cari dan aku mulai tidak sabar menunggu. Aku beranjak ke kursi yang masih kosong dan menghenyakkan pantatku di sana. Membiarkan Laras memberitahuku kemudian. Beberapa menit berlalu akhirnya Laras mengalah. Sepertinya yang dia cari memang tidak ada. Dia ikut duduk di sampingku. Aku melihat sandal jepit yang dia kenakan. Ternyata bukan aku sendiri yang datang seadanya. Laras juga tidak begitu memperdulikan penampilan sempurna kali ini.

Lama ya kita tak bersua, kamu kerja di mana sekarang?” Laras masih ramah seperti dulu.

Radio Volare,” aku menjawab sekenanya. Ketidakpercayaan diriku muncul lebih banyak dari biasanya.

Kamu tuh harus ketemu sama seseorang yang jadi panitia inti juga di sini.”

Jangan bilang Stian juga ada di sini.”

Wah Elena kamu masih alergi dengan sepupuku ya? Maafin dia dong, jangan benci terlalu lama.”

Bukan begitu Laras, kamu mengerti bagaimana risihnya aku jika harus bertemu dengannya.”

Bertemu denganku risih tidak?”

Aku hanya menjawab dengan gelengan perlahan.

Aku ingin mengenalkanmu dengan Namo.”

Suara Laras yang jernih terdengar jelas meskipun banyak suara lainnya yang masuk ke telingaku. Namo? Aku mengangkat alisku dengan mata melebar. Tak mengerti.

Mantan pacar sepupuku juga, dulu dia pacaran sama Sella, kamu masih ingat sepupuku yang cewek itu kan?”

Aku menganggukkan kepala. Tentu saja aku ingat. Aku bahkan tidak pernah melupakan semua wajah yang berkaitan dengan Stian. Trauma karena cinta membekas begitu dalam meskipun akhirnya aku terbebas dari Stian dan permainan cintanya. Sella adalah satu dari sekian banyak sepupu cantik yang dimiliki Stian. Berbaur di antara keluarga Stian seakan-akan berada di sekelompok putri bangsawan dan aku hanyalah seorang pedagang bunga yang menjajakan jualannya.

Bunyi ketukan sepasang sepatu di lantai menuju ke arah kami. Aku hanya melihat ujung sepatu yang berkilau semakin mendekat. Kepalaku yang tadinya sedikit menunduk akhirnya terangkat. Sebuah wajah muncul di hadapanku. Menatap hingga ke dalam mataku. Hatiku seketika tertusuk. Seorang lelaki asing menatapku selekat itu. Pandangannya membuatku terbius. Seakan-akan dunia berhenti berputar beberapa detik. Suara Laras yang tadinya terdengar kini sunyi. Semua suara yang ada di sini lenyap tanpa sisa.

Elena, ini Namo.”

Seketika semuanya buyar, laki-laki ini Namo. Mantan kekasihnya Sella. Apa yang aku pikirkan tadinya? Mengapa dia membuatku merasakan sesuatu yang tak bisa aku gambarkan dengan kata-kata?

Namo, ini Elena.”

Laras mengenalkan kami. Dia menyambut uluran tanganku hangat. Matanya. Matanya masih saja menatap ke dalam mataku. Tatapan yang sangat mematikan ruang gerakku. Aku mematung tanpa kata.

Duh, seneng deh, mantan sepupu-sepupuku bisa bekerja sama di sini.”

Perempuan di sebelahku ini mulai berkicau lagi. Sementara aku terdiam. Menghirup udara perlahan dan menangkap sebuah bau yang asing. Bau yang belum pernah aku temukan sebelumnya. Bau tubuh seseorang. Apakah ini aroma tubuh Namo? Tangan kami terlepas. Sejatinya Namo yang melepaskan genggamannya. Mata kami masih saling terikat. Di balik kaca matanya aku menemukan mata yang teramat teduh. Mata yang entah mengapa terasa tak asing dan hangat.

Namo, kamu bisa jelaskan sama Elena kan tentang tugasnya?”

Bisa. Aku sudah membuatkan konsepnya. Sudah aku cetak tapi ketinggalan di kamar panitia.”

Kalian bicarakan saja di sana sekalian, aku masih ada kerjaan nih sama Bonny.”

Laras sedikit mendorongku. Aku mengerti apa maksudnya. Dia ingin mencomblangi aku dengan Namo. Bukan saat yang tepat. Untuk saat ini aku masih memiliki kekasih dan terlalu cepat untuk mengatakan aku punya perasaan istimewa pada Namo. Sebelum aku mengikuti langkah Namo menuju lift, Laras menghilang begitu saja. Langkah Namo yang besar sedikit menyulitkanku. Aku harus berlari-lari kecil di belakangnya.

Namo menyadari kesulitanku. Dia berhenti beberapa langkah di depanku menunggu aku tiba di sampingnya. Kemudian menyamakan langkah kami berdua. Sekarang aku sangat dekat dengannya. Aroma tubuhnya memenuhi rongga pernapasanku. Aromanya menenangkanku. Aroma apa ini? Ini jelas bukan parfum. Ini berasal dari keringatnya. Sepertinya memang demikian. Seandainya Zacky punya aroma tubuh seindah ini mungkin aku tak akan tahan untuk tak memeluknya. Sayang aroma tubuh kekasihku itu bukanlah sesuatu yang istimewa. Oh, ada masalah apa dengan hidungku sekarang?

Pintu lift terbuka. Beberapa orang keluar dan kami berdua masuk diikuti orang-orang di belakang kami. Sedikit sesak sehingga aku harus berdempetan dengan Namo. Tubuhnya yang tinggi seakan-akan melindungiku. Wajahku berhadapan dengan dadanya. Aroma itu lagi, menyeruak dari kemeja batik yang ia kenakan. Aku hirup perlahan. Menikmati semua uap yang membawa bebauan itu. Kepalaku kini tak mampu berpikir secara sehat. Aku hanya berpikir tentang bau itu. Aroma tubuh Namo.

Bersambung
Share:

Posting Komentar

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).

Designed by OddThemes | Distributed by Blogger Themes