30 Juni 2012

Babak Baru

Besok adalah sebuah babak baru dalam kehidupan saya. Saya memulai kehidupan baru benar-benar sendirian. Saya sudah menyerahkan apa yang diinginkan kakak saya dengan jaminan dia tidak akan mengganggu kehidupan saya. Kehilangan laptop dan keluarga bukanlah hal yang paling mengerikan dalam hidup ini. Ketenangan yang saya inginkan memang sangat mahal harganya. Tapi saya pikir itu adalah nilai yang wajar untuk membayar sebuah kebebasan. Bebas dari semua tekanan dari kakak saya yang sakit jiwa itu.

Bagian paling penting adalah saya bisa menikah dengan siapa saja tanpa meminta persetujuan dari keluarga. Saya sekarang seperti anak yatim piatu yang tak punya keluarga dan tempat bernaung. Saya kuat! Saya pasti bisa!

29 Juni 2012

Saya Bingung

Saya Bingung


Hari ini saya harus menghadapi ibu saya yang dipaksa datang untuk menjemput Fahd karena kami bertengkar melalui pesan singkat. Saya sudah 26 tahun bersabar menghadapi keegoisannya dan semua siksaannya baik secara batin dan lahir. Apakah saya harus bersabar untuk kesekian tahunnya? Saya pikir sudah saatnya saya untuk berhenti menuruti semua perintahnya dan membiarkan dia menghadapi kenyataan di dunia ini bahwa semuanya tak akan berjalan sesuai maunya.

Sedari kecil dia memang sudah terbiasa untuk menuntut semua anggota keluarganya memenuhi apa yang dia inginkan. Tidak suka mendapatkan adik karena merasa mendapatkan saingan. Seiring bertambahnya usia tentunya tuntutannya semakin tinggi dan semakin tidak masuk akal. Apakah selamanya ibu saya akan menuruti apa yang dia mau? Menuruti semua inginnya? Apakah ibu saya akan bertahan?

Saya pikir seharusnya setelah 29 tahun menghadapi anak perempuan yang menjadi beban dan sama sekali tak mandiri, seenaknya dan kasar pada semua orang, ibu saya harusnya bisa bersikap tegas dan menghentikan semua kegilaan ini. Karena apabila ini terus-menerus terjadi, empat anaknya dikorbankan demi memenuhi hasrat seorang anaknya yang sakit jiwa dan suka menyiksa orang, ibu saya akan menghilangkan masa depannya sendiri.

Satu adik perempuan saya sudah hampir setahun tidak pulang dan tak tahu kabarnya bagaimana. Sekarang, hari ini adalah penentuan keberadaan saya, apabila ternyata ibu saya masih ingin bertahan, saya juga tak akan segan untuk menghapus semua ingatan tentang keluarga. Lebih baik saya menganggap diri saya sebagai anak yatim piatu yang dibuang ke tong sampah karena lahir dengan cara yang tidak baik.

Saat orang lain berpikir indahnya memiliki keluarga, kenangan saya tentang keluarga seperti mimpi ngeri yang tak ada habisnya. Saya pikir saya memang harus menikah dengan seseorang. Punya keluarga baru yang lebih normal. Saya tidak berkata lebih baik, setidaknya bukan keluarga yang membuatmu benci dengan kata ‘keluarga’ itu sendiri.

Jika saya merasa benci dengan kehidupan ini tentunya itu hanya karena keberadaan seseorang yang sampai sekarang tak mati-mati juga. Sebelas tahun yang lalu saat saya memutuskan untuk tinggal jauh dari keluarga besar saya, saya kira penderitaan dan ancaman kematian batin saya menghilang. Ternyata semuanya masih saja berlangsung. Tuhan semestinya tahu bagaimana beratnya saya menjalani ini semua.

Bahkan Tuhan melihat betapa cepatnya saya menuliskan postingan ini.

Sekarang saya harus bersiap menghadapi ibu saya yang sudah berada di depan rumah bersama kakak saya yang sakit jiwa itu. Memutuskan bagaimana masa depan Fahd seharusnya. Apakah pulang ke rumah yang akan membuat dia disiksa kakaknya lagi? Atau tetap bersama saya di Pontianak dan menjalani kehidupan yang sedikit berat karena kehilangan kasih sayang orang tua.

Seandainya saya punya lampu ajaib, saya akan menggosoknya dan membuat Jinnya keluar. Kemudian meminta satu permintaan saya. Lenyapkan kakak saya detik ini juga. Satu permintaan itu adalah permintaan yang paling saya inginkan di dunia ini. Setidaknya dengan demikian keluarga kami bisa utuh lagi. Ibu saya tidak akan seperti kerbau dicocok hidungnya seperti 29 tahun yang telah lewat ini.

Saya bingung, apakah sekarang saya harus lari atau menghadapi mereka berdua yang sudah berada di kosan saya?

28 Juni 2012

Ponsel Saya Pintar?

Ponsel Saya Pintar?

Di saat semua orang sudah menggunakan smartphone atau ponsel pintar untuk berselancar di dunia maya. Termasuk aktivitas ngeblog dan sekadar eksis di media sosial. Awalnya yang merajai pasaran ponsel pintar dan booming sebagai ponsel yang super keren tentu saja blackberry dengan BBM-nya yang sebenarnya tak jauh berbeda dengan akun chat biasa. Bedanya pastinya harus punya blackberry dulu baru punya Blackberry Messenger (BBM).

Kalau sudah punya blackberry tuh kesannya keren banget!

Seiring berjalannya waktu, ponsel pintar keluaran blackberry tentu saja segera mendapatkan saingan yang tidak sedikit. Baik dari sesama blackberry atau ponsel pintar lainnya. Misalnya android. Sekarang sih punya blackberry tidak sekeren punya blackberry 3-4 tahun yang lalu. Apalagi dengan tarif yang dikenakan berbagai operator yang bersaing memberikan pelayanan dengan harga paling miring.

Lunturlah sudah keistimewaan blackberry itu sendiri bagi saya. Meskipun sebenarnya tidak terpikir sekali pun untuk punya.

Nah berbeda dengan muncul android yang masih saudaranya Linux. Saya naksir seketika. Tapi tak juga memutuskan untuk membelinya karena ponsel saya yang entah pintar atau tidak ternyata cukup cerdas bagi saya. Hampir semua hal yang saya butuhkan masih terpenuhi oleh Nokia 6120classic yang saya miliki sejak awal 2008.

Memang ada beberapa aplikasi yang harus saya unduh dari sumber luar untuk membuatnya menjadi ponsel yang memenuhi kebutuhan saya sebagai seorang blogger dan pengguna media sosial. Seperti screen snap untuk memotret layar ponsel yang memang tidak tersedia langsung di ponsel saya. Kemudian saya harus melakukan beberapa pengaturan untuk mengaktifkan pengiriman dan penerimaan e-mail pada kotak pesan sehingga mengirim e-mail semudah mengirim pesan singkat atau pesan multimedia.

Selain itu saya juga membutuhkan opera mini dan ebuddy messenger. Semuanya diunduh belakangan. Setelah semuanya lengkap saya merasa nokia yang saya miliki masih mampu memenuhi kebutuhan saya untuk berselancar di blog, facebook, dan twitter. Tapi tentu saja ponsel saya bukanlah ponsel pintar. Masih ponsel biasa.

Dengan kemudahan yang bisa saya dapatkan dari ponsel biasa saya, saya bisa memotret apa saja kemudian mengunggahnya baik ke facebook, twitter, atau blog. Hampir tak ada momen yang terlewatkan bagi saya untuk dibagi dengan ponsel saya itu. Promosi berbentuk gambar pun dengan mudah saya bagikan dengan orang lain di jejaring sosial dan blog.

Tak jarang saya membagi sesuatu yang tak akan ditemukan orang kecuali di Pontianak, Kalimantan Barat sehingga meskipun kualitas gambar masih standar dan cara pengambilan yang kadang serampangan tak membuat informasi berbentuk foto yang saya bagikan menjadi sesuatu yang tak layak konsumsi.


Belum lagi ada Paket bundling Indosat Mobile dan Nokia berisi Kartu Indosat Mobile dan handset Nokia kini hadir untuk para Wanita Indonesia dengan benefit GRATIS paket Hebat Keluarga Selama 30 Hari dan Layanan Info Wanita. Selain bisa berbagi informasi dengan ponsel yang ditanamkan kartu dari Indosat yang memberikan tarif yang cukup terjangkau untuk semua kalangan, sebagai perempuan kita juga mendapatkan layanan info wanita yang pastinya bermanfaat untuk diri kita dan perempuan lainnya.

Hingga hari ini saya masih setia dengan nokia dan Indosat. Dua-duanya seperti dua sisi mata uang yang tak bisa dipisahkan.

Saya masih menggunakan nokia dan Indosat, bagaimana dengan kamu?

Photobucket

Tulisan ini diikutsertakan dalam Kontes 'Ponsel Pintar untuk Perempuan Indonesia' yang diselenggarakan oleh EmakBlogger

27 Juni 2012

Ulang Tahun Haruskah Dikerjain?

Ulang Tahun Haruskah Dikerjain?


Kemarin saya berulang tahun dan hari-hari tentu saja berjalan seperti biasa kecuali hari itu saya menerima lebih banyak ucapan selamat dari teman-teman saya. Baik yang di facebook, twitter, dan pesan singkat. Sebenarnya saya tidak pernah merayakan ulang tahun saya sebelumnya. Begitu juga tahun ini, saya tidak membuat perayaan yang berarti. Lebih pada rasa syukur saja kepada Allah karena masih memberikan kesempatan kepada saya untuk menghirup udara dunia lebih lama lagi.

Tetapi berbeda dengan seseorang yang saya tidak tahu namanya. Dia berulang tahun pada hari yang sama dengan saya. Kemarin. Dia disiram dengan air blau yang berwarna biru. Dipecahin telur kepalanya. Ditaburi tepung dan bahkan tak ketinggalan diikat di tiang bendera. Kejadiannya di Mega Mall A. Yani. Saya waktu itu lewat dan menyangka dia orang gila. Lima detik pertama saya tak begitu memikirkannya hingga saya hampir tiba di parkiran untuk memarkirkan sepeda motor saya.

Sepanjang perjalanan menuju halaman parkir, saya berpikir keras. Lelaki itu siapa? Mengapa dia terikat di tiang bendera? Pakaiannya rapi dan tentu saja saya keliru menganggapnya orang gila. Saya beranggapan demikian karena keadaannya yang serupa orang gila. Kemudian saya sadar pasti ada sesuatu yang menyangkut lelaki itu yang bisa menjelaskan segalanya.

Dia berulang tahun! Tentu saja seperti itu.

Saya yang tadinya sudah jauh berputar, berbalik. Berkali-kali lelaki itu menolak bantuan saya karena merasa malu dengan keadaannya yang bau dan basah. Saya tak peduli meskipun semua teman kantornya menyoraki kami. Saya pasang wajah tegas untuk meminta gunting. Siapa yang akan menolak jika saya dengan yakin memintanya.

Butuh beberapa menit untuk melepaskan lelaki itu dari tiang. Saya hampir menangis. Membayangkan saya yang terikat di sana. Ditertawakan. Basah dan bau. Keterlaluan. Ini sama sekali tidak lucu. Saya bahkan tak peduli banyak yang merekam aksi saya. Saya pikir mereka terlalu lebay dan punya masalah dengan simpati. Seenaknya saja memperlakukan orang lain. Harusnya ulang tahun dapat hadiah bukan dipermalukan.

Arggghhhh ini postingan marah sebenarnya.

26 Juni 2012

Selamat Ulang Tahun Amoy

Selamat Ulang Tahun Amoy


Setahun yang lalu saya masih berusia 25 tahun. Hari ini, usia saya menginjak 26 tahun untuk yang pertama. Saya bersyukur masih diberikan usia oleh Allah untuk menghirup udara dan menginjak dunia ini.


Entah saya akan mendapatkan hadiah yang saya butuhkan atau tidak saya tidak tahu. Tapi yang jelas saya berbahagia bisa menjadi diri saya yang sekarang, hari ini, detik ini.

25 Juni 2012

Besok Saya 26 Tahun

Besok Saya 26 Tahun

Ini adalah hari terakhir saya berusia 25 tahun. Besok usia saya sudah menginjak 26 tahun. Apa yang sudah saya lakukan untuk menjelang usia 30 tahun? Sepertinya kehidupan saya masih jauh dari teratur. Sangat tidak sistematis. Masih banyak impian yang belum terwujudkan. Masih banyak hal yang belum saya capai.

Paling penting saya sama sekali belum punya kekasih apalagi calon suami. Aggghhhh!

Maaf, ini hanya mengeluh.

24 Juni 2012

Ternyata Saya Masih Mencintai Lelaki Itu

Ternyata Saya Masih Mencintai Lelaki Itu


Bedanya mantan dengan orang yang pernah kita cintai adalah kita pernah berbagi cinta dengan mantan tetapi tidak dengan orang yang pernah kita cintai. Apalagi jika cinta itu bertepuk sebelah tangan. Sebenarnya hingga hari ini, sampai detik tulisan ini diposting saya tidak akan pernah tahu jawabannya.

Mengapa saya ingat dengan luka lama itu?

Karena baru saja saya membaca dinding facebook teman baik saya semasa SMA. Ada pesan dari lelaki itu yang memanggilnya 'sayang'. Saya berharap dia memanggil diri saya sayang bukan sahabat saya. Kisah cinta ini adalah kisah absurd yang muncul pada tahun 2004. Saat saya mendapat datang bulan pertama saya. Saya jatuh cinta di bangku SMA. Saya bersahabat baik dengannya. Dia selalu bersama kami. Saya dan sahabat sebangku saya. Saya pikir dia pasti punya maksud mendekati kami. Gede rasa, saya pikir dia datang untuk saya. Ternyata bukan. Dia sama sekali bukan mendekati saya untuk mendapatkan hati dan cinta yang sudah ingin saya serahkan bulat-bulat.
Aqudb0l_0la_large
Dia mendekati saya karena dia mencintai perempuan yang sahabat baiknya adalah diri saya. Teman sebangku semasa SMA saya yang sangat baik. Dia sudah seperti saudara kembar saya. Banyak yang mengatakan wajah kami mirip. Bisa jadi karena kerudung dan postur tubuh yang memang serupa.

Saya? Seperti tokoh melodrama, berbaik hati mengulurkan bantuan untuk membuat mereka bersatu. Sayangnya ternyata sahabat saya masih ragu untuk menjadi kekasihnya. Saya tak tahu alasan pastinya apa. Saya sedikit kecewa karena ada orang yang menyia-nyiakan sesuatu yang ingin saya miliki tapi tak mungkin saya gapai. Waktu itu kami sudah naik kelas dua, kami berdua sekelas lagi, duduk di meja yang sama lagi, tetapi terpisah dengan lelaki itu.

Saya sedikit bersyukur karena tak perlu bertemu dengan lelaki itu. Lelaki itu.

Tamat SMA saya pikir semuanya berakhir. Kami bertiga terpisah. Bahkan lelaki itu kuliah di Jogja dan kami berdua di Pontianak. Kampus bersebelahan. Sempat beberapa tahun satu kos. Saya sama sekali tidak benci dengan sahabat saya. Bahkan hingga saya menuliskan ini pun saya masih menganggap dia sahabat baik saya.

Bertahun-tahun berlalu, saya punya kekasih, putus, punya kekasih lagi. Sahabat saya malahan selama tiga tahun setia dengan kekasihnya (ini lelaki yang lain, bukan lelaki yang 'itu'). Hingga facebook membuat semuanya jadi mudah. Saya kemudian membuat mereka berdua bertukar nomor ponsel dan dalam sekejap mata semuanya menjadi semakin jelas. Perkuliahan lelaki itu selesai. Dia kembali ke kabupaten kami. Lelaki itu cintanya yang di Jogja kandas. Dia mengejar cinta masa SMA-nya yang sempat hilang. Sahabat saya yang dikecewakan kekasihnya setelah menyembuhkan lukanya beberapa tahun menyambut cinta yang pernah dia sia-siakan dulu.

Hari ini saya hanya bisa membaca semua kisah jalinan cinta mereka yang sebentar lagi terikat di pelaminan. Kisah cinta yang indah buat mereka. Saya pikir saya sudah melupakan perasaan saya delapan tahun yang lalu. Sejatinya tidak. Perasaan itu hanya mengendap sementara saat saya tidak bertemu dengan lelaki itu. Ketika saya membaca tulisan lelaki itu di dinding facebook sang perempuan, hati saya ternyata terasa sakit. Saya terluka. Entahlah.

Saya akui, masih mencintai lelaki itu.

23 Juni 2012

Semoga Lekas Sembuh

Saya demamnya semakin parah. Tenggorokkan mengalami pembengkakan. Jadi tadi periksa ke dokter. Tapi debaran jantung saya tak bisa berhenti karena adegan pemeriksaannya terasa sangat menyenangkan. Dokter muda yang sangat ganteng memegangi tangan saya lumayan lama. Mendengarkan dekat jantung saya. Mendengarkan bunyi perut saya. Lama tak ada yang memegang tangan saya, tadi saya merasa itu pegangan tangan yang sangat indah. Seperti cerita komik saja. Ah! Saya memang kebanyakan baca komik. Saya menyesal tidak mengenakan make up sama sekali. Saya terlihat seperti anak sekolah dan manut saja dipanggil adek oleh semua petugas dan dokter muda tersebut.

Doakan saya cepat sembuh ya!

22 Juni 2012

21 Juni 2012

Feromon [Bagian 9] TAMAT

Feromon [Bagian 9] TAMAT

Kamu yakin Elena?”

Aku tak bisa terus-terusan berbohong sama Zacky tentang perasaanku yang sebenarnya, selain itu, aku tak hanya membohonginya tetapi membohongi diriku sendiri.”

Meskipun sebenarnya Namo juga tak menginginkanmu?”

Mungkin sedikit absurd kalau aku katakan jodoh tak akan lari ke mana. Aku tak berharap banyak Namo akan mendatangi suatu hari dan memintaku jadi pendamping hidupnya. Tapi aku percaya, feromon yang benar-benar tercipta untukku akan datang padaku dan bisa kumiliki selamanya.”

Kamu gila Elena.”

Aku bisa jadi telah kehilangan kewarasanku Jen. Tapi aku masih punya hati. Hati yang tak ingin kusiksa dengan bersama orang yang tidak aku cintai.”

Kalau begitu harusnya kamu mengejar Namo.”

Semuanya mungkin terlihat sangat sederhana bagimu. Sayangnya tidak untuk Namo dan aku.”

Mengapa harus begini Elena? Kamu mengecewakan orang yang mencintaimu demi orang yang kamu bilang mencintaimu tak mau bersamamu. Bagaimana mungkin ada cinta aneh seperti itu. Cinta pasti ingin memiliki orang yang dicintainya.”

Aku tak lagi menjawab pertanyaan Jenny. Haruskah kukatakan bahwa Pak Sunarya yang membuat semua ini menjadi rumit? Pak Sunarya menjodohkan perempuan yang dicintai keponakannya kepada tangan kanannya? Lelaki tua itu sama sekali tak pernah tahu itu. Tapi tentu saja keberadaanku akan memperumit hubungan keluarga mereka. Zacky akan marah besar pada adik ayahnya itu dan bisa jadi merusak reputasi Namo. Lagi pula Namo sendiri yang tak ingin memperjuangkan cintanya bukan? Aku tak mungkin memaksakan kehendakku padanya.

***

Aku tak mendengar kabar Namo sedikit pun sejak dua tahun yang lalu dia mengakui perasaannya padaku. Aku juga yang tak berusaha cari tahu. Aku selalu percaya luka hati itu bisa sembuh seiring berjalannya waktu. Air mata akan menghapus semua perih yang tertanam. Tak perlu tenggelam dalam duka selamanya.

Padang rumput di belakang Bandara Supadio ini menjadi tempat aku menghalau gundah gulanaku setiap sore yang tahu berapa banyak air mata yang kutumpahkan di sini.

Butuh sapu tangan?”

Sebuah suara asing menyapaku. Ternyata air mataku jatuh tanpa kusadari. Aku yang duduk di rumput mendongak dan melihat sepasang mata bening mengulurkan sebuah sapu tangan merah jambu. Aku menerimanya ragu-ragu.
Lelaki yang kutaksir berusia 28 tahun itu ikut duduk di sampingku.

Tepat dua tahun sejak aku pertama kali melihatmu di sini dan hingga hari ini pun kamu masih saja menangis. Kamu bisa cerita padaku jika kamu mau.”

Dua tahun? Bagaimana kamu tahu?”

Rumahku di sana.”

Dia menunjuk sebuah rumah bertingkat yang jendelanya menghadap ke arah tempat kami berada.

Itu jendela kamarku. Aku selalu duduk di sana setiap sore. Aku suka dengan matahari terbenam dan dua tahun yang lalu aku melihatmu di sini. Menangis. Meraung jika tak ada orang. Meloncat-loncat bahkan.”

Aku tersenyum malu sambil mengeringkan air mataku.

Untuk pertama kalinya aku memberanikan diri mendatangimu. Aku pikir dua tahun harusnya sudah mengubahmu banyak, tapi ternyata tidak. Aku Galih.”

Dia mengulurkan tangannya. Aku menyambutnya hangat. Dia menatapku lama sekali. Laaaaaamaaaaaaa...
Kamu suka parfum apa?”

Parfum?”

Galih mendekat dan menghirup udara yang mengitariku.

Aku tidak menggunakan parfum sama sekali.”

Ini feromonmu?”

Aromaku? Mungkin, aku tak tahu.”

Mungkin ini terdengar gila. Aku rasa aku jatuh cinta dengan feromonmu.”

Aku menunduk malu. Seseorang yang baru kutemui tiba-tiba mengatakan jatuh cinta dengan aroma tubuhku. Saat aku mengangkat wajahku aku baru sadar sekarang Galih terlalu dekat padaku. Dia tanpa permisi memelukku erat.

Aku janji tak akan membuatmu menangis sampai bertahun-tahun. Apa kamu mau jadi pacarku?”

Kamu bahkan belum tahu namaku Galih.”

Elena, aku tahu namamu Elena. Aku tahu kamu kerja di mana. Aku tahu semuanya. Aku hanya baru tahu, feromonmu-lah yang aku cari selama ini.”

Bisakah kita pelan-pelan dulu? Setidaknya biarkan aku mengenalmu?”

Bukankah kamu mengenali orang berdasarkan baunya? Menurutmu apa aromaku?”

Aku berkonsentrasi pada penciumanku dan mengabaikan semua yang menggangguku. Menghirup dengan perlahan aroma tubuh Galih. Aku tak tahu aroma apa ini. Apakah cinta? Baunya sangat menenangkan berbeda dengan aroma Namo yang membuatku mabuk. Baunya hangat dan nyaman.
24754951_large
Baunya enak.”

Aku tersenyum. Apakah ini aroma yang aku cari selama ini? Entahlah. Kita tak akan pernah tahu kapan waktu yang sebenarnya kita tunggu hingga akhirnya menjalaninya sampai di bagian akhir.

20 Juni 2012

19 Juni 2012

Memamah Jantungmu Ganti Sampul

Novel thriller horor pertama saya (Rohani Syawaliah). Harga Rp55.000. Masih promo GRATIS ongkos kirim ke seluruh Indonesia. Tebal 180 halaman. Ditujukan pada remaja dan dewasa. Bercerita tentang perjuangan seorang perempuan, GILDA, menyelamatkan penemuan ayahnya 10 tahun yang lalu. Penemuan apakah yang sebenarnya sedang ayahnya perjuangkan hingga rela berkorban harta, nyawa, dan keluarga?

Pemesanan: 085654626686 (SMS) Rohani Syawaliah.

18 Juni 2012

Cara Menyatukan (Merge) File di Ubuntu: HJsplit, LXSplit, atau Gnome Split?

Cara Menyatukan (Merge) File di Ubuntu: HJsplit, LXSplit, atau Gnome Split?

Beberapa hari yang lalu sempat dipusingkan dengan film Easy A yang saya minta dari teman satu komplek dan teman siaran, Febi. Film hanya berjalan hingga menit ke-22. Selanjutnya tidak ada. Terputus. Waktu itu memang ada peringatan dari VLC Player yang sudah menjadi sahabat terbaik saya untuk menonton film di laptop yang tak lagi memiliki Windows, bahwa VLC tidak bisa memutar file yang berekstensi 'undf'. Pertama karena 'undf' sendiri bukan format file.

Jadi waktu itu saya baru membuka folder film 'Easy A' yang saya kirim dari laptop Febi dan menyadari bahwa file yang formatnya 'mkv' tersebut terpecah menjadi 4 bagian. Formatnya menjadi 'EasyA.mkv.001', 'EasyA.mkv.002', 'EasyA.mkv.003', dan 'EasyA.mkv.004'. Memang sering terjadi begini, ada tempat pengunggahan yang tak mengizinkan file yang terlalu besar untuk diunggah sehingga sang pemilik memecah (split) filenya menjadi beberapa bagian. Jadi untuk menontonnya saya harus menyatukan semua file tersebut.

Untuk Febi sendiri tidak mengalami masalah karena VLC-nya langsung bisa memutar film tersebut langsung. Tidak seperti saya yang sampai mengopi dua kali film tersebut dan ternyata masih saja sama. Kemudian saya mencari tahu tentang 'undf' yang terbaca di VLC. Saat itu saya mendapatkan pencerahan untuk membuat 4 file tersebut menjadi satu. Masalahnya saya yang masih baru menggunakan Ubuntu sangat kewalahan untuk mencari tahu aplikasi yang sesuai. Bahkan untuk menginstallnya saja saya masih sedikit kebingungan. Baca banyak tutorial sampai pusing.

Kemudian beberapa jam saya menemukan 3 aplikasi yang bisa digunakan.

  1. HJSplit
  2. LXSplit
  3. Gnome Split

Lalu? Saya sendiri menggunakan yang mana? HJSplit dan LXSplit saya gagal. Entah terinstall atau tidak. Saya berhasil menggunakan Gnome Split. Sangat mudah. Buat teman-teman yang masih baru menggunakan Ubuntu seperti saya bisa membuka 'Ubuntu Software Center'. Tinggal ketikkan kata kunci 'Gnome Split' dan tinggal tekan 'install'. Daripada membuka terminal dan mengetikkan perintah yang kita baca dari tutorial. Masih banyak aplikasi lainnya yang menggunakan kata 'Gnome' sepertinya memang 'Gnome' adalah kata yang sangat dekat Ubuntu. Bahkan untuk aplikasi twitternya menggunakan 'Gwibber'. Lucu ya?

Gnome Split sendiri tidak hanya diperuntukkan bagi orang yang ingin memecah file (split) menjadi ukuran yang lebih kecil, ini juga berlaku untuk kita yang mengunduh file yang terpecah dan ingin menyatukannya (merge). Menggunakannya juga sangat mudah kok. Selamat mencoba!

17 Juni 2012

Seandainya Adik Saya Bukan Fahd

Seandainya Adik Saya Bukan Fahd

Sudah lebih dari setahun kami melewati hari-hari tanpa berada di sisi orang tua. Sampai hari ini pun saya merasa sangat beruntung adik saya adalah Fahd.

  1. Fahd sangat mandiri


  2. Fahd sangat cerdas


  3. Fahd sangat lucu

  4. Fahd sangat baik

Tak dapat saya bayangkan apabila adik saya bukan Fahd. Dia hari ini tidak mengeluh ketika hanya bisa saya belikan nasi seharga Rp5.000 untuk kami berdua. Maklum uang habis buat dibelikan dagangan. Isinya hanya sepotong tahu, sebutir telur goreng, dan beberapa potong pacri nanas. Padahal setiap harinya dia sangat suka makan telur asin dan malamnya makan pecel lele. 


Tadi dia bilang besok pengen makan nasi kayak tadi siang. Mungkin dia takut makan nasi dengan telur asin membuat uang saya cepat habis. Padahal nasi dengan telur asin, sayur, dan tahu/tempe hanya Rp6.000. Beda seribu saja dari nasi yang tadi dia makan. Seandainya saya diberikan adik yang lain. Saya tak bisa membayangkan bagaimana reaksinya menghadapi kehidupan yang harus dia jalani. Saya sekarang mungkin mendapatkan adik yang terbaik di dunia untuk menemani kehidupan sepi saya.

16 Juni 2012

4 Cara Menghilangkan Notifikasi dari Teman yang Baru Ditambahkan

4 Cara Menghilangkan Notifikasi dari Teman yang Baru Ditambahkan

Beberapa bulan ini saya seperti dipermainkan oleh facebook. Apa pasal? Saya kadang suka kesal dengan notifikasi yang masuk ke akun saya. Ini biasanya terjadi pada saat kita menambahkan seseorang sebagai teman. Semua pembaharuan yang dia lakukan akan masuk ke akun kita. Menyebalkan juga kalau puluhan notifikasi isinya hanya pembaharuan dari status atau foto yang baru diunggah.


Berbulan-bulan saya hanya bisa membersihkan puluhan pemberitahuan ini setiap hari. Lalu tadi saya akhirnya mengerti cara menghilangkan notifikasi atau pemberitahuan dari orang yang baru kita tambahkan sebagai teman.

Langkahnya sangat mudah.

  1. Buka profil teman yang setiap pembaharuan masuk pemberitahuannya ke akun kamu.



  2. Ada tombol 'friend' yang harus kamu perhatikan, apabila ada tanda bintang menyala itu artinya kamu berlangganan semua pembaharuan dari dia. Saatnya untuk melakukan pembersihan.



  3. Cara menghilangkan nyala bintang tersebut sangat mudah.



    Dekatkan kursor atau poin tetikus anda ke arah 'friend' tersebut dan klik. Akan muncul daftar yang ada di akun anda.


  4. Pilih 'close friend' yang dicek-list, klik untuk menghilangkan


    Begitu 'close friend'-nya hilang tanda cek-listnya, bintang menyala itupun lenyap, semua pembaharuan yang dia lakukan tidak akan masuk lagi ke akun kamu. Hanya di berandalah tempat pembaharuan mereka berada. Gampang kan?


14 Juni 2012

Feromon [Bagian 8]

Feromon [Bagian 8]



Aku tidak tahu kapan jatuh cinta itu terjadi. Semuanya muncul begitu saja saat aku sekelas dengannya di kampus. Semester satu aku hanya bisa menjadi seorang teman kuliah yang apabila beruntung akan duduk di sampingnya sekali-kali. Aku tak pernah berani menyatakan perasaanku yang sebenarnya. Kemudian kamu tak melakukan apa-apa selama ini dan dia langsung jatuh cinta denganmu.”

Aku menelan ludahku beberapa kali. Aku tak tahu harus berkata apa.

Aku tak menyalahkanmu Elena, tidak ada yang salah dengan cinta. Kamu berhak menentukan cinta yang kamu inginkan. Ini hidupmu. Setidaknya kamu harus bahagia dulu baru bisa membahagiakan orang lain.”

Mengapa kamu tidak mengatakannya sejak awal? Tentang perasaanmu? Setidaknya aku bisa lebih jujur pada Zacky.”

Bagaimana mungkin aku mengatakannya jika aku melihat Zacky begitu bahagia di sampingmu.”

Dia bahagia?”

Menurutku dia bahagia bisa menjadi kekasihmu.”

Sampai sekarang aku masih terus belajar untuk mencintainya.”

Terima lamarannya Elena. Dia akan membahagiakanmu.”

Aku belum yakin. Ini terlalu cepat.”

***

Namo masih tak menunjukkan sebuah kemajuan. Apakah memang ini hanya sebuah cinta yang bertepuk sebelah tangan? Seandainya aku bisa membaca semua pikiran Namo. Tak akan begini jadinya. Aku tak akan kebingungan.

Apa?”

Namo menyadari tatapanku yang sejak tadi ke arahnya. Tumpukan kertas di meja tak berani bergerak melihat ketegangan di wajahku. Aku harus menanyakannya. Aku harus tahu.

Aku mau tanya sesuatu denganmu.”

Tanya saja.”

Sebenarnya perasaanmu...”

Namo melepaskan kaca matanya dan menatapku dalam. Beberapa detik hanya helaan napasnya yang terdengar di ruangan ini.

Aku tidak ingin membicarakan ini.”

Mengapa?”

Karena ini hanya akan melukaimu saja.”

Jujur saja Namo. Aku tak bisa menabak.”

Bisakah kita selesaikan ini dan kembali pada kehidupan kita masing-masing?”

Benarkah memang kamu sama sekali tak punya perasaan apa-apa padaku?”

Namo tak menyahut. Dia menarik napas semakin panjang. Sofa yang kami duduki membeku. Jarak kami sangat dekat. Aku bisa melihat dengan jelas matanya. Mata yang seakan-akan menyembunyikan sesuatu. Aku meraih tangannya dan mengenggamnya. Mata kami bertemu. Alisnya yang tebal menghiasi wajahnya. Aku meraih rahangnya dan melabuhkan bibirku di sana. Namo ragu membalasnya. Namun detik berikutnya kami sudah tenggelam dalam ciuman yang memabukkan.

Kamu menyukaiku, tapi mengapa kamu tak mau jujur dengan perasaanmu sendiri?”

Pulanglah Elena.”

Aku hanya ingin tahu perasaanmu. Aku tak minta kamu untuk menjalin hubungan denganku.”

Lantas apa gunanya kamu tahu perasaanku jika kamu tak meminta status apa-apa denganku?”

Ini memang bodoh, maaf. Aku harus pulang.”

Aku menyambar tasku dan berlalu. Langkahku tertahan ketika Namo menarik lenganku dan memelukku erat. Dadaku sesak. Air mataku mengalir deras. Mengapa cinta demikian kejam menyiksaku? Aku hanya ingin mencintai dan dicintai satu orang saja. Hanya Namo.

Iya, aku mencintaimu. Jika memang hanya itu yang ingin kamu dengar. Tapi maaf, aku tak bisa memberikan status apa-apa untukmu. Hanya seseorang yang mencintaimu.”

Detak jantungnya terdengar keras. Telingaku terbenam di dada kirinya. Aku tak ingin menanyakan apa pun padanya. Cukuplah aku tahu tentang perasaannya padaku yang sesungguhnya.

Sejak pertama aku melihatmu di studio Radio Volare aku sudah jatuh cinta padamu. Bahkan aku tak pernah melewatkan program yang kamu bawakan setiap Senin sampai Jumat. Tapi waktu itu aku sadar, kamu telah memiliki kekasih. Zacky bukan?”

Aku mengangkat wajahku dan melihat mata Namo. Tetap tak terbaca apa-apa. Aromanya saja yang terus mengikuti penciumanku.

13 Juni 2012

Feromon [Bagian 7]

Feromon [Bagian 7]


Menikahlah denganku.” 

Zacky mengulurkan kotak cincin yang ia keluarkan dari sakunya. Aku terpana. Beberapa detik berlalu dalam diam. Suara air mendidih membuatku bangki. Menjauhi meja makan dan mengambil gelas. Mengisinya dengan kopi dan air panas. Mengaduk gula. Ingin menggaruk kepalaku sendiri.

Kamu tidak mau menikah denganku Elena?”

Aku membawa gelas kopi dan kembali duduk di tempatku semula. Menatap mata Zacky yang teduh. Cinta sedalam itu. Aku malah mengabaikannya dan membuat diriku terperangkap dalam aroma tubuh Namo. Lagi-lagi Namo, Namo yang tak peduli sama sekali denganku. Aku yakin Namo bisa membaca wajahku. Sayangnya dia tidak memenuhi inginku.

Kusesap kopi dalam gelas, perlahan. Membiarkan kepalaku yang berbicara. Mulutku masih terkunci. Seandainya sekarang ada Jenny pasti dia sudah berteriak padaku untuk menerima lamaran ini. Bisa jadi dia pula yang memberikan saran pada Zacky untuk melakukannya.

Dua minggu ini kamu ke mana?”

Aku mengalihkan topik pembicaraan Zacky.

Menenangkan diri. Aku merasa ada sesuatu yang mengubahmu. Kamu bukan Elena yang aku kenal sebelumnya. Kamu tiba-tiba menjadi orang lain. Seakan-akan tidak pernah mencintaiku, Elena.”

Aku menarik napas pelan. Apabila aku dibolehkan jujur dan tak mau memikirkan perasaanmu Zacky, aku sudah mengatakan perasaanku yang sebenarnya. Bagaimana bisa kita menjalin hubungan selama ini. Bukan karena aku mencintaimu, melainkan karena aku ingin belajar untuk menyayangimu.
Kubiarkan kopi dalam gelas itu mendingin tanpa aku sentuh lagi. Aku kehilangan selera.

Elena, apakah kamu tak mau menerima lamaranku?”

Apa tidak terlalu cepat untuk kita, Zacky?”

Wajah Zacky mengeras. Dia menahan amarah yang bercokol di kepalanya. Aku tahu ini menyakitkan Zacky. Tapi akan lebih menyakitkan jika kita menikah kemudian ragaku bersamamu dan pikiranku bersama orang lain.

Tidak pernah ada kata terlalu cepat jika menyangkut memilikimu Elena.”

Kata-kata Zacky yang lembut. Seandainya aroma tubuhmu menyamai Namo, akankah aku memilihmu? Sekuat itukah bau yang Namo letakkan di dalam rongga hidungku? Hingga akal sehatku tak lagi mampu bekerja.

Beri aku waktu, tidak secepat ini.”

Sekerjap kecewa membayang di wajah Zacky. Dia mengambil kotak yang tadi dia ulurkan. Menutupnya dan memasukkannya ke saku celana.

Jangan memaksakan perasaanmu untukku Elena, jika itu tidak pernah ada.”

Zacky meninggalkanku dengan segelas kopi yang semakin dingin.

***

Jenny menatapku dengan tajam. Dia kesal setelah aku ceritakan semuanya. Matanya menyala. Aku tahu dia ingin mengomel. Aku siap mendengarkan apa pun yang akan dia ucapkan. Dia sahabatku. Dia pasti tahu cara menyelesaikan masalah ini.

Elena gunakan otak kamu. Cinta bukan hanya masalah bau apalah itu namanya. Zacky orang terbaik yang bisa kamu miliki tanpa usaha apa-apa. Apalagi kurangnya?”

Aku bingung Jen, hatiku memaksaku untuk menolak Zacky.”

Jenny menarik napas panjang.

Hidup ini memang aneh, kita mencintai seseorang dengan sepenuh hati. Tapi kenyataannya cinta kita tak berbalas. Lebih menyakitkan lagi saat kita tahu orang yang kita cinta tersebut mencintai orang lain. Dan bagian paling menyedihkan cintanya juga ditolak oleh orang yang dicintainya. Apakah itu yang disebut orang sebagai karma? Atau hanya sebuah perjalanan hidup yang akan mengantarkan kita pada orang yang seharusnya kita miliki.”

Jen, kamu mencintai Zacky?”

Jenny duduk di sampingku. Sofa yang tersentuh tubuhnya berubah bentuknya. Ia langsung menggenggam tanganku. Matanya berkaca-kaca. Aku melihat seseorang yang sedang menahan berat sakit hati di dalam dadanya. Aku tak tahu harus berkata apa lagi. Aku memeluknya erat dan membelai rambut panjangnya.

Bersambung...

12 Juni 2012

Feromon [Bagian 6]

Dia pasti gay.” 

Jenny mengulang pernyataannya setelah aku menceritakan tentang Namo.

Masalahnya adalah aku tak bisa menahan diriku. Aroma tubuhnya itu membuatku gila, Jen.”

Elena, itu hanya perasaan yang muncul sebentar. Nanti juga hilang. Kamu hanya perlu melupakannya dan kembali pada Zacky. Apa kamu tega mengecewakan Zacky?”

Aku menghempaskan tubuhku ke ranjang. Ikut berbaring di samping Jenny.

Seumur hidupku aku selalu percaya Jen, bahwa suatu hari aku akan bertemu dengan seseorang dengan feromon yang benar. Feromon yang akan memuatku nyaman. Jatuh cinta.”

Elena, cinta tidak hanya masalah feromon. Kita tidak butuh feromon untuk hidup.”

Jenny, kamu tak mengerti rasanya.”

Aku memang tak mengerti apa yang kamu rasakan. Tapi aku mengerti bagaimana rasanya jika aku berada di posisi Zacky.”

Jenny...”

Semuanya terserah sama kamu Elena. Tapi setiap orang selain punya feromon juga punya perasaan.”

Jenny ada benarnya juga. Tapi aku tak bisa menghilangkan aroma yang terlanjur aku hirup itu. Aku ingin menghirupnya lagi. Lagi dan lagi. Bau yang membuatku lupa siapa aku sebenarnya. Setiap kali aku melihat dada Namo aku pasti hanya ingin bersandar di sana. Tak ada lagi yang aku inginkan selain bersamanya. Apakah cinta seperti ini? Kegilaan tiada henti menghantuiku.

***

Namo menarikan jemarinya di atas papan ketik. Wajahnya masih datar seperti pertama kali aku bertemu dengannya. Mengapa tak bisa dia sedikit memberikan tanda yang lebih jelas? Setidaknya biar aku tahu di mana dunia yang aku pijak sekarang ini. Apakah rasa ini sama? Atau hanya berada di satu pihak saja?

Aroma indah itu menyeruak menghangatkan suasana di antara kami berdua. Seandainya aku bisa memilih, ingin kutinggalkan hidungku di rumah. Agar tak perlu kubaui semua aroma Namo. Pak Sunarya selalu saja membuatku tak berkutik dengan memintaku menyelesaikan tulisan ini bersama Namo. Mengapa harus bau Namo yang menggodaku? Tak adakah orang lain dengan aroma yang lebih baik dari ini sehingga aku tak terjebak di sini dengan hati yang kelu.


Sekarang kamu bisa melanjutkannya Elena. Aku mau mandi.”

Tapi...”

Kamu sudah lihat caraku mengerjakannya bukan?”

Namo tak menunggu jawabanku dan segera menghilang ke kamarnya. Aku termangu di depan layar laptop. Bagaimana aku bisa menyelesaikannya? Sejak tadi pikiranku sama sekali tidak tersambung ke sini. Aku memikirkanmu Namo. Menatap pori-pori wajahmu bahkan menghitung dengus napasmu setiap menit.

Perlahan kuketukkan jemariku. Menuliskan apa saja yang terlintas di kepalaku sebagai cara yang benar menyelesaikannya. Namo sama sekali tak membantu. Dia hanya membuyarkan semua pikiranku untuk menuntaskan pekerjaanku. Ponselku berdering. Ada pesan masuk, kulirik sedetik dan membaca nama pengirimnya. Zacky. Sudah dua minggu berlalu dan sekarang dia menghubungiku?

Kamu di mana Elena, aku ingin bertemu.

Aku menimbang-nimbang ponselku. Bingung membalas pesan dari Zacky. Apakah aku harus menolak permintaannya atau mengajaknya bertemu? Kuketikkan beberapa kata sebagai balasan.

Nanti malam, di rumahku.

Segera kulupakan sejenak tentang Namo. Aku harus menyelesaikan semua pekerjaan ini jika aku ingin bebas dari aroma tubuh yang menghipnotisku. Menjauh darinya secepat mungkin. Namo juga tak memberikan sinyal apa-apa yang menunjukkan bahwa ada sesuatu yang istimewa di antara kami berdua. Aku tak bisa menunggu bukan?

Bersambung...

11 Juni 2012

Feromon [Bagian 5]

Feromon [Bagian 5]


Nyenyak?” 

Satu kata itu muncul dari bibir Pak Sunarya. Aku tak memahami maksud pertanyaan tersebut mengarah ke mana. Namo mengaduk kopinya. Tak membantuku sama sekali.

Nyenyak kok Pak.”

Maaf jika Elena harus sekamar dengan Namo, semua kamar sudah terisi dengan penuh dan memang saya tidak memperkirakan akan meminta kamu ikut menginap di sini.”


Bukan masalah kok Pak. Namo malah banyak membantu menyelesaikan tugas saya.”

Aku meneguk susu yang mulai mendingin. Sarapan pagi ini terasa sedikit kaku. Aku hanya memperhatikan dari ujung mataku bagaimana ekspresi Namo yang menyesap kopinya perlahan. Roti yang tadi ia ambil masih tak disentuhnya.

Kalian harus bekerja sama agar semuanya bisa berjalan sempurna, saya tidak mau ada kesalahan kecil yang merusak semuanya.”

***

Ucapan Pak Sunarya terus terngiang di telingaku. Namo pasti sangat tertekan dengan segala tuntutan yang diberikan untuknya selama ini. Sejak kapan dia bekerja di perusahan Pak Sunarya? Melihat kemampuannya memang tak ada yang perlu diragukan. Tapi kesalahan tak mungkin tak pernah terjadi bukan?

Tubuhku kelelahan saat ini. Acara memang sudah selesai. Tapi pekerjaan yang harus aku selesaikan kemudian menanti setinggi gunung.

Aku melihat pantulan wajahku di kaca mata Namo. Kami berpandangan begitu lama dalam diam. Aku berharap dia mau mengatakan sesuatu untuk menyenangkanku. Setidaknya agar aku lupa bahwa Zacky sekarang sedang kesal padaku. Aku bahkan tidak akan tahu bagaimana Zacky akan menuntaskan rasa kesalnya padaku.

Aroma tubuh Namo menguap lagi. Menjalar hingga rongga dadaku. Menghangatkan sekeping hati yang ada di dalamnya. Membuatku tenang dan percaya bahwa semuanya akan baik-baik saja. Dari jendela kamar hotel ini aku menatap ke Jalan Imam Bonjol. Sudah waktunya untuk kemacetan terjadi di sana. Tidak terlalu macet sebenarnya. Kendaraan hanya bergerak lebih lambat di beberapa titik tapi kemudian melaju lagi dengan kecepatan tinggi.

Kamu tahu, aku selalu membayangkan bagaimana rasanya menjadi orang yang lain. Bukan menjadi diriku yang sekarang.”

Namo memecah kebekuan di antara kami. Aku mengalihkan pandanganku padanya. Aku baru bertemu dengannya kemarin. Sekarang dia terlihat berbeda dari yang aku bayangkan sebelumnya. Dia sangat rapuh. Entah mengapa. Aku tak bisa menebak isi pikirannya. Apa yang ia simpan di dalam kepalanya?

Selama ini aku sering juga membayangkan menjadi orang lain, menjadi seorang yang sempurna. Cantik, terkenal, punya banyak teman, penggemar juga, banyak sih maunya. Tapi hidup bukan proses untuk menjadi sempurna. Hidup itu perjalanan. Apa pun isinya, seberapa kuat kita untuk bertahan menjadi diri kita yang sekarang.”

Namo berdiri dan melangkah ke arahku. Berhadapan. Aroma itu menyeruak lagi. Menghentikan akal sehatku. Aku tak bisa menahan diriku saat Namo berada sedekat itu denganku. Tanganku bergerak menyentuh pipinya. Namo tak memberikan reaksi apa-apa. Aku juga lelah, sama seperti dirinya. Acara memang sudah selesai. Tapi pekerjaanku belum. Masih banyak yang harus aku susun dalam bentuk tulisan.

Aku ingin menyentuh bibir Namo dengan bibirku saat ini. Detik ini juga. Tapi aku ragu untuk maju lebih dulu. Ada dinding yang memisahkan antara aku dan dia. Napas kami memang sangat dekat. Aku bahkan bisa melihat hingga ke dalam pupil matanya. Namo tak melepaskan pandangan matanya dari bola mataku. Dia mematung. Seakan menunggu aku yang maju lebih dulu.

Aku mengerut dan mundur. Aku tak bisa membaca apa-apa di wajahnya. Aku hanya bisa mencium aroma tubuhnya. Tak ada yang lebih dari itu. Namo tak menunjukkan keinginan yang sama dengan yang aku mau. Aku salah mengerti. Bukan, bukan salah mengerti sebenarnya. Aku yang terlalu memaksakan pikiranku untuk menjadi sebuah kenyataan. Padahal fakta yang ada di depanku sekarang tidak ada yang seperti itu. Ge-er sendiri. Namo adalah Namo. Bukan Zacky. Apa yang aku harapkan tidak semaunya bisa terjadi begitu saja.

Tidak ada lagi yang harus kerjakan. Berarti aku boleh pulang dong?”

Semua terserah kamu Elena.”

Hasil tulisanku nanti akan aku serahkan lewat e-mail saja ya?”

Aku mengemasi tasku dan berjalan menuju pintu. Tangan Namo menahanku. Dia menarikku hingga aku tenggelam di dadanya. Detak jantungnya terdengar olehku. Debarannya memenuhi gendang telinga. Lamat-lamat aku mendengar suara yang diucapkan Namo.

Pulanglah, istirahat yang cukup, Elena.”

Namo kemudian melepaskan pelukannya. Dia hanya memelukku walaupun aku berharap lebih dari itu yang aku dapatkan.

Bersambung...