28 Mei 2012

TEATER: HARUSKAH VULGAR?


Saya sejak tahun 2005 sudah suka sekali dengan yang namanya pementasan teater. Hampir tiap bulan saya akan menonton teater dan pulang dengan perasaan senang. Bagaimana tidak? Saya menonton pementasan secara langsung. Seperti anda yang pernah nonton OVJ secara langsung pula. Sensasinya pasti beda jauh dengan nonton dari kotak segi empat yang tak pernah saya miliki di Pontianak sini. Apabila disuruh memilih nonton film di bioskop atau nonton pementasan teater, saya lebih memilih yang kedua.

Beberapa teater terakhir yang saya tonton saya merasakan bahwa dialog yang digunakan dalam pementasan terasa vulgar. Baiklah, saya memang berusia 25 tahun tak ada masalah bagi saya untuk mendengar kalimat seperti itu. Tapi, hey, saya selalu membawa adik saya Fahd yang berusia 6 tahun untuk menyaksikan pementasan sejak tahun kemarin.

Vulgar di sini tidak hanya kalimat yang menurut saya menceritakan tentang aktivitas ranjang baik dengan lawan jenis atau sesama jenis, tetapi juga kalimat makian yang digunakan. Bahasa Melayu Pontianak itu sangat banyak menyediakan diksi yang bisa digunakan untuk memancing tawa penonton.


Gemes Bond N Cat Woman, Demo Para Hantu

Itu judul pementasan terakhir yang saya tonton. Saya tidak akan membahas pementasan sebelum-sebelumnya. Beberapa kali, bisa jadi belasan atau puluhan kali saya mendengar kalimat makian: “Perempuan laknat.”

Lucu sih memang karena cara menyampaikannya dengan ekspresi yang mendukung. Tetapi tak dapat dibayangkan ya apabila saat seseorang yang baru pertama kali menonton sebuah pementasan dan tidak melihat dengan jelas ekspresi pemain yang menyebutkan kalimat makian tersebut. Apa yang akan bersarang di kepala mereka?

Terus bagian yang paling mengganggu adalah kostum yang dikenakan oleh Lee Minh Ho (benarkah penulisannya seperti ini?). Bagian celananya terlalu sempit sehingga bagian kejantanannya menyembul. Tak perlu saya sebutkan perkiraan ukurannya karena memang terlalu jelas terbentuk di sana. Entah itu ukuran 'tidur' atau 'bangun' saya juga tidak tahu. Sayang, harusnya penonton lebih fokus pada pemain tersebut jadi beralih melihat bagian 'bawah'. Saya tidak mengatakan semua pemain melakukan itu, tetapi saya akui jujur, beberapa kali saya jadi tidak konsentrasi dibuatnya. Maklum posisi saya di bangku baris kedua dari depan, di tengah.

Belum lagi obrolan seputar 'lendir' dan main belakang. Sekali lagi saya tegaskan, saya pribadi tidak terganggu, cuma saya tak bisa membayangkan dengan remaja-remaja yang masih di bawah umur. Apakah mereka memahami maksud candaan tersebut? Atau malah merasa bingung?

Apakah lucu itu harus vulgar?

Saya beruntung karena beberapa pemain sempat mampir ke Radio Volare untuk promosi pementasan teater ini. Sehingga saya tahu bahwa bagian-bagian yang vulgar atau kasar biasanya adalah bagian dari improvisasi pemain sendiri. Bukan asli dari naskah. Tetapi tak dapat dibedakan sih mana yang improvisasi sama yang dari naskah. Semuanya dibawakan dengan penghayatan. Apakah saya harus ambil bagian di bagian penulisan naskah?

Jadi ingat dulunya pernah beberapa tahun ikut bergabung di Sanggar Kiprah, sanggar teater anak Untan (Universitas Tanjungpura), khususnya anak FKIP. Pernah berman di beberapa pementasan. Terakhir pementasan di Taman Budaya dan hanya menjadi bagian pengisi suara. Prolog. Hadeh, kurang menarik buat dijadikan pemain utama sepertinya. Ujung-ujungnya diberdayakan sebagai penulis naskah.

Satu hal yang selama ini selalu saya kagumi dari pemain teater bahwa mereka selalu bisa bermain hingga selesai tanpa kesalahan. Saya yakin pasti ada dialog yang terlupakan atau yang lain tetapi bisa langsung mereka improvisasi dengan hal yang lain. Sehingga melakukan kesalahan pun tak terlihat ada yang salah. Itu bedanya pementasan teater dengan pemain film.

Akhir kata hanya bisa bilang, selamat ulang tahun yang ke-14 buat Teater Topeng. Semoga semakin eksis dan jaya selalu.

Related Posts

TEATER: HARUSKAH VULGAR?
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).