11 Mei 2012

Ubuntu 12.04

Mohon maaf apabila cerbung Maura belum ada lanjutannya, hari ini saya benar-benar tak punya waktu untuk menulis. Postingan ini sendiri adalah tulisan saya beberapa hari yang lalu. Sewaktu saya selesai mengupdate Ubuntu di laptop saya.

Belum genap setahun menggunakan Ubuntu 11.10 eh sekarang sudah diperbaharui menjadi Ubuntu 12.04. Untungnya saya nginap di rumah Dian atau yang biasa akrab kami panggil Tarjo. (kami: Sella dan saya). Di rumah Tarjo memang ada fasilitas internetan tanpa kabel sehingga saya bisa langsung memperbaharui Ubuntu yang saya gunakan. Dari siang saya berkutat hingga malam. Tengah malam akhirnya semuanya selesai.

Lama tidak menulis cerita tentang Ubuntu. Biasanya saya memang menuliskan sesuatu karena menghadapi suatu masalah di dalamnya. Misalnya mengapa ini begini mengapa ini begitu. Tetapi pilihan saya untuk benar-benar hanya menggunakan satu OS adalah pilihan yang sangat tepat. Saya bisa mempelajarinya lebih baik dibandingkan memiliki dua OS. Saya tahu itu adalah keputusan yang sangat besar risikonya.

Banyak yang mengatakan jangan dihapus dulu windowsnya. Nanti kalau sulit menghadapi Ubuntu kan bisa balik lagi ke windows. Masalahnya adalah saya memang tak ingin kembali lagi ke windows. Sejak pertama menginstall Ubuntu, saya sudah jatuh cinta padanya. Sangat. Bahkan saya sangat menyukai font 'DejaVu Serif'. Memang saya tak akan menemukan 'garamond' di sini. Font favorit yang sangat sering saya gunakan untuk menulis di blog. Tapi 'DejaVu Serif' tak kalah lucu jenisnya dibandingkan 'garamond'.

Netbook yang saya gunakan memang netbook yang sangat sederhana dengan prosesor intel atom yang kecepatannya sangat rata-rata. Tetapi dengan menggunakan Ubuntu saya merasa kecepatannya jadi lebih berlipat ganda dibandingkan dengan saat menggunakan windows. Paling terasa saat menyalakan atau mematikan netbook.

Bisa jadi sih apabila tidak menggunakan windows bajakan kecepatannya tidak akan selambat itu. Tetapi windows yang asli emang mahal ya dan kalau ada yang asli dan gratis mengapa harus menggunakan yang asli dan mahal. Bahkan mengapa harus menggunakan yang bajakan?

Sering teman-teman bertanya pada saya bagaimana rasanya menggunakan Ubuntu. Saya hanya bisa bilang, alah bisa karena biasa. Kalau sudah setiap hari menggunakan OS yang sama dan tidak menggunakan dua atau bahkan tiga OS dalam satu netbook saya rasa tak ada cerita tidak bisa menggunakannya. Soalnya waktu saya benar-benar melepas windows, saya hanya punya Ubuntu dan waktu itu saya berpikir bahwa saya harus bisa menggunakan Ubuntu. Bukan saya yakin saya bisa. Yakin tidak yakin saya memang harus bisa menggunakannya.

Related Posts

Ubuntu 12.04
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).