19 Mei 2012

Fahd: Bahagia Itu Sederhana

Usia 6 tahun bukan berarti Fahd susah memahami keadaan. Sering dia menginginkan mainan ketika jalan ke pusat perbelanjaan tetapi saya bisa membuat dia mengurungkan niatnya untuk membeli mainan, bahkan apa pun. Saya tidak perlu marah atau membentak. Cukup bicara baik-baik.

"Fahd tahu uang kakak tidak banyak. Kita bisa beli mainan yang Fahd mau. Tapi Fahd mau makan apa kalau uangnya tidak digunakan buat beli beras? Apa mainannya bisa dimakan kalau Fahd lapar?"

Fahd kecewa. Tidak menangis. Dia diam beberapa saat kemudian melupakan mainan yang dia inginkan.

Itu cara saya.

Beberapa hari ini dia menginginkan burger. Harganya tidak mahal. Hanya Rp6.000. Tapi beberapa kali saya lupa menarik uang di ATM sehingga tak bisa membelikannya. Saat dia melihat isi dompet saya, Fahd tak banyak tanya mengapa "crabby patty" yang dia inginkan tak datang-datang. Dalam pikirannya dia menganggap saya sedang tak punya uang.

Malam ini saya sudah membelikannya karena malam ini mau tinggal di rumah dengan menonton film di laptop saya. Fahd baru 6 tahun tapi lancar menggunakan ubuntu. Tiga jam dia bersabar menunggu. Segelas jus buah naga juga saya bawakan. Dia sangat senang. Kebahagiaannya malam ini bisa saya bayar dengan Rp11.000. Jusnya pun masih harus berbagi dengan saya. Fahd tetap senang.

Sudah setahun lebih kami hidup bersama. Semuanya karena kekacauan di keluarga kami. Sepuluh tahun yang lalu saya telah mengambil keputusan yang paling tepat dengan meninggalkan semuanya. Saya tidak kuat lagi hidup bersama ayah yang tidak pernah memberi nafkah untuk keluarganya. Suka menang sendiri. Tak pernah bisa disalahkan. Saya tidak mampu melihat ibu saya harus berjuang memberi kami makan. Mengajar pagi hari. Jual bakso dan mie ayam di sore hari. Menjadi tukang pijat. Bahkan membuka usaha agen minyak.

Belum lagi kakak saya yang menggerogoti keluarga. Sejak kecil dia selalu ingin jadi orang kaya dan gaya hidupnya seperti itu. Tidak dipenuhi? Dia akan mengacaukan seisi rumah dan tak ada yang bisa menghalangi keinginannya.

Keluarga saya seperti bukan keluarga. Tak ada ketenangan di sana. Jangankan buat saya, buat Fahd pun tak ada. Saya membawanya ke sini karena saya tidak ingin kakak saya menyiksa Fahd, seperti dia menyiksa saya dulu. Cukuplah tubuh dan jiwa saya yang terluka. Jangan Fahd.

Jadi di sinilah kami berdua. Makan seadanya dengan bahagia. Saya jarang sekali pulang. Bahkan tiap saya tanya pada Fahd apakah dia ingin pulang, dia akan menjawab dengan gelengan kepalanya. Cukup kenangan buruknya tentang ayah dan kakak yang suka menyakitinya.

Di sini, dia bahagia bersama saya yang terus belajar mendidiknya. Bahagia itu sederhana.

Related Posts

Fahd: Bahagia Itu Sederhana
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).