17 Mei 2012

100 Kencan Buta [Bagian 16) Taga

Bagian 16
Taga

Setiap inci hatiku perlahan melangkah menuju pintu hatimu, aku hanya butuh kunci untuk membukanya. Akankah kamu berikan anak kunci itu? -
Maura, 25 tahun, pindah profesi jadi tukang reparasi.

Mataku membuka, melihat cahaya mentari yang menyusup melalui gorder yang ditiup angin perlahan. Jendela terbuka sedikit. Aku melihat ruangan yang aku tempati. Putih. Semuanya putih. Seorang perawat tersenyum padaku. Dia sedang memeriksa infus yang terhubung di lenganku. Aku di rumah sakit?

“Saya panggilkan dokter dulu ya Mbak Maura.”

Bayangan kecelakaan itu bekelebat di kepalaku. Sebuah truk. Beberapa sepeda motor. Suara rem. Kemudian semuanya menjadi gelap. Kepalaku masih nyeri. Saat tanganku bergerak memegangnya ada perban melilit di sana. Pusing. Sudah berapa lama aku di sini?

Seorang dokter masuk disertai beberapa perawat. Termasuk perawat yang tadi memeriksa infusku.

“Sekarang tanggal berapa?” aku menatap dokter yang memeriksaku.

“Tujuh belas.”

“Tujuh belas Mei?”

“Tujuh belas Juli.”

“Juli?”

Aku mengumpulkan ingatanku sementara mereka melakukan tugas mereka sebagai dokter dan perawat. Aku masih ingat sebelumnya aku berada di bulan April. Bukan Juli. Bagaimana mungkin sekarang aku sudah berada di bulan Juli?

“Anda koma lebih dari dua bulan.”

Aku mendengar ucapan dokter yang kemudian berlalu dari hadapanku. Dia berusaha menjawab pertanyaan yang ada di dalam kepalaku. Aku hanya tersenyum pahit. Telah dua bulan aku berada di kamar ini? Koma?

“Meskipun Mbak Maura koma, selalu saja pacar Mbak setia menunggu Mbak bangun. Padahal dua bulan lebih itu waktu yang panjang.”

“Pacar?”

“Saya pikir dia pacar Mbak Maura soalnya dia yang selalu menunggu Mbak setiap hari.”

“Setiap hari?”

“Biasanya dia datang pukul 1 siang. Sebentar lagi juga dia datang.”

Aku tak bertanya lagi. Sudah cukup banyak yang aku tanyakan. Terlalu banyak informasi yang aku terima. Aku lelah mengumpulkan informasi yang aku lewatkan lebih dari dua bulan ini.

Perawat itu meninggalkanku setelah merasa semua pertanyaanku terjawab. Aku membiarkannya pergi. Jendela di sebelah kananku memperlihatkan bunga-bunga yang bermekaran. Saat aku menoleh ke arah pintu kamarku mataku bertumbuk dengan wajah Taga. Apakah perawat itu menceritakan tentang Taga?

“Kamu bangun juga akhirnya.”

Taga mendekat dan meletakkan bunga mawar putih di mejaku.

“Kamu datang setiap hari untukku?”

“Siapa lagi yang akan mendatangimu, Ra?”

Aku tersenyum getir. Taga benar. Tak akan ada satu orang pun yang akan datang untuk menjengukku di rumah sakit. Teman? Hampir tak punya. Hanya beberapa kenalan yang tak begitu dekat. Aku baru sadar. Hanya Taga yang benar-benar menjadi sahabatku.

“Aku rindu dengan kopimu.”

“Kamu harus sehat dulu.”

Banyak yang ingin kutanyakan tapi semuanya buyar ketika Taga benar-benar sudah ada di sini. Tidak ada yang ingin kudengar lagi. Cukup Taga saja.

“Kok lama?”

Seorang perempuan muncul di depan pintu. Cantik. Rambut panjang bergelombang. Mata besar dan hitam. Gaunnya manis. Dia melangkah ke arah Taga dan langsung bergelayut manja di lengannya. Pacarnya?

“Aku harus pergi. Maaf kemarin tak memberikan nomor ponselku padamu. Besok aku datang lagi. Kalau butuh apa-apa hubungi aku ya.”

Taga meletakkan sebuah kertas yang bertuliskan nomor ponselnya di meja. Aku tak sanggup melihat kemesraan mereka. Air mataku hampir mengalir. Aku tahan. Tahan. Tahan terus hingga Taga berlalu di hadapanku.

***
Aku berdiri dan mendekati kalender yang bergantung di dinding. Infus sudah kulepas dari lenganku. Aku mulai menghitung hari pertama kali aku kencan hingga hari ini. Aku harus tahu lelaki ke berapa yang akan aku temui hari ini. Butuh beberapa lama untuk menghitung hari-hari 100 kencan tersebut.
Hari ini ke-100?

Aku melangkah hati-hati. Aku harus pergi. Aku tak mau di sini. Malam ini malam terakhir kencan buta yang Taga susunkan. Aku harus bertemu dengan lelaki yang bernama Satria itu. Dia harus mempertanggungjawabkan semua kencan yang harus aku jalani sekarang. Aku butuh penjelasan darinya. Mengapa dia lakukan semua ini padaku?

Tubuhku masih sangat lemah tapi aku tak punya pilihan lagi. Aku hanya bisa menemui Satria hari ini.

Related Posts

100 Kencan Buta [Bagian 16) Taga
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).