6 Mei 2012

100 Kencan Buta [Bagian 9] Lelaki Ketujuh: Yo

Bagian 1.
Bagian 2.
Bagian 3.
Bagian 4.
Bagian 5.
Bagian 6. (Bagian ini ternyata lupa diposting, buat yang kelewatan dan nggak sadar silakan baca dulu ya, *eh)
Bagian 7.
Bagian 8.


Simak soundtracknya sambil baca.

Jika cinta bisa menunggu, cinta akan menjadi penantian yang paling tidak membosankan di dunia ini. - Maura, 25 tahun, merasa sedang jatuh cinta.

Aku datang lebih awal hari ini. Meskipun aku tahu aku tak akan bertemu dengan Taga. Perasaanku mengatakan aku harus menemuinya. Padahal dia tak lagi ada di sana. Tiga tahun berlalu sejak aku mengenalnya tapi tak pernah sekalipun terpikir olehku untuk sekadar meminta nomor ponselnya. Setidaknya itu bisa membantuku untuk mencarinya.

“Bisa minta alamat atau nomor ponsel Taga?”


Kalimatku serupa permohonan. Mataku aku tahu pasti sudah sangat terlihat putus asa. Perempuan yang selama ini hanya kukenal sebagai satu dari banyak pelayan yang ada di sini menatapku dengan senyuman yang manis seperti biasa.


“Maaf, peraturan di sini tidak mengizinkan. Ada pesan yang bisa saya sampaikan nanti?”


Aku mengeluarkan secarik kertas dari tasku dan menuliskan pesan di sana.


Kamu di mana? Bisa bertemu? Hubungi aku 08XXXXXXXXXX, Maura.


“Titip buat Taga.”


Langkahku menjauhi tempat minum kopi tersebut. Malam nanti aku berharap bisa menemukan pembuat kopi terbaik yang pernah aku temui di dalam kehidupanku. Aku akan datang lagi ke sini nanti malam. Kencan itu masih terus berlangsung bukan? Meskipun aku tak ada Taga. Janji adalah janji. Aku akan memenuhinya dan aku tak akan pernah kalah di dalam pertarungan kami.


Meja yang sama. Taplak meja putih susu yang sama. Cafe yang sama. Kursi masih ditata dengan cara yang sama. Wajah lelaki di depanku terlihat asing. Memang aku tak mengenalnya. Nama yang tertulis di daftar 100 nama yang aku pegang sekarang berada di urutan ketujuh. Yo. Nama yang cukup sederhana. Penampilannya juga sederhana. Kaos dan jeans. Sederhana tapi rapi. Wangi dan wajahnya terlihat baik. Jaketnya tak ia kenakan. Tersampir begitu saja di kursinya.


“Aku rasa kamu sudah banyak bertemu lelaki lain dalam beberapa hari ini. Aku tak tahu apa istimewanya aku dibandingkan dengan orang sebelumnya. Tapi aku berharap, sangat berharap, kamu mempertimbangkan keberadaanku.”


Kopi yang mengepul tak kusentuh lagi. Bukan Taga yang membuatnya. Aku tak ingin menghirup minuman itu kemudian kecewa. Mataku bertemu dengan sepasang mata Yo yang beralis tebal. Tak ada kekurangan yang mengganggu padanya. Tapi di sini, di dalam dadaku, tak ada tempat lagi untuk siapa pun. Aku tak pernah menyediakannya sebelumnya. Sulit bagiku untuk mencintai siapa pun sekarang.


“Aku mengencanimu bukan karena aku benar-benar butuh pacar atau aku ingin berkenalan dengan orang baru. Aku hanya memenuhi tantangan yang dibuat sahabatku. Sayangnya sekarang dia tak ada di sini. Kalau dia ada ingin sekali aku mengakhiri ini semua. Ini tak akan pernah berhasil.”


“Maura, kamu seorang perempuan yang sangat istimewa. Tentu saja sulit untuk menemukan pasangan yang sesuai untukmu. Seistimewa kamu.”


“Bagaimana jika aku malah menyukai seseorang yang biasa, seseorang yang bisa menghangatkan hatiku?”


“Banyak orang di dunia ini yang mau melakukan apa saja untuk membuatmu jatuh cinta pada mereka.”


“Aku tidak seistimewa itu Yo.”


“Mau jalan sebentar denganku?”


“Tapi kamu tak akan macam-macam denganku kan?”


“Tenang saja, kamu aman.” Laki-laki itu tersenyum manis memamerkan lesung pipinya.


Yo mengulurkan tangannya padaku saat aku menyambar dompet yang tadi kuletakkan di atas meja. Ragu-ragu kuletakkan tangan kiriku di tangan kanannya. Yo menggenggamnya erat. Menyalurkan detak kehangatan di sana.


“Seandainya setelah ini pun cintaku tak terbalas olehmu, setidaknya biarkan sehari saja aku merasakan menjadi seseorang yang paling istimewa di dekatmu.”


“Kamu mencintaiku?”


Mataku menatapnya tak percaya.

“Sejak pertama kali aku menemukanmu di sudut cafe itu, asyik menulis. Menghirup kopi. Makan apa saja yang ada di depanmu. Kadang-kadang bersin dengan kerasnya.”


“Kamu melihat itu semua?”


“Kamu sangat istimewa sampai-sampai kamu sendiri tidak menyadari betapa istimewanya perempuan yang sekarang aku genggam tangannya.”


Hatiku menghangat. Selama ini aku tak percaya diri dengan diriku sendiri. Aku tak merasa aku cantik. Tak menganggap aku istimewa. Bahkan aku merasa sangat biasa dengan diriku yang sekarang ini.


“Jangan terganggu dengan perasaanku sekarang, kamu cukup bersamaku hari ini aku sudah sangat senang.”


“Kamu pernah berpikir tidak kalau hati kita adalah benda paling hebat dan aneh di dunia ini?”


“Maura mau cerita?”


“Bisa jadi kita bertemu dengan orang yang pantas untuk kita cintai tapi hati kita entah mengapa tak mengizinkannya. Bahkan setelah patah hati berkali-kali pun hati kita tetap bisa berfungsi seperti biasa. Tak ada kanker hati gara-gara putus cinta bukan?”


“Kamu tahu, laki-laki yang melepaskanmu adalah laki-laki yang tak punya otak. Perempuan seistimewa kamu harusnya menjadi hal terakhir yang mereka tinggalkan.”


Aku, Maura. Menundukkan kepala. Aku tak sanggup mendengar pujian sebanyak itu. Setinggi itu. Membuatku sangat malu. Selama ini aku tersudut dalam kotak putus asaku dan menganggap diriku tak istimewa. Bukan seseorang yang bisa membuat orang lain jatuh cinta.


Yo membayar dua tiket film yang aku pilih. Di pusat perbelanjaan begini memang tak banyak pilihan hiburan. Aku tak mungkin mengajaknya ke toko buku di lantai dua dan tenggelam dalam buku-buku. Ruang bioskop itu tak kalah dingin dari tempat aku berdiri tadi. Yo meletakkan jaketnya di bahuku. Tubuhku hangat. Hatiku masih kalah hangat.


“Terima kasih.”

 “Aku juga punya sarung tangan jika kamu membutuhkannya. Ada di saku jaket itu.”


Genggaman tangan Yo sama sekali tak terlepas dari tanganku hingga kami duduk. Tanganku merogoh saku jaket yang aku kenakan. Menemukan sepasang sarung tangan tebal di sana. Dari mana dia tahu aku tak tahan dengan udara dingin begini?


Beberapa menit berlalu. Tubuhku sekarang terlindungi dengan aman. Tak akan bersin dengan keras di sini karena kedinginan. Semuanya hangat. Mata bening Yo tak pernah lepas dari mataku. Tak banyak yang bisa ia ucapkan tapi aku tahu ada cinta yang kecewa di sana. Aku ingin bilang aku tak bisa.


“Boleh aku minta sesuatu?”


Yo berbisik perlahan. Filmnya sudah dimulai. Ruangan itu remang-remang.


“Minta apa?”


“Sandarkan kepalamu di bahuku.”


Baiklah, aku, Maura, diminta untuk menyandarkan kepala di bahu seorang jejaka yang sedang menonton film di sampingnya. Aku tak melanjutkan pertanyaanku. Kepalaku langsung rebah di bahunya. Tangan kirinya bergerak menggenggam tangan kananku yang mengenakan sarung. Aku mendengar detak jantungnya yang lumayan keras dari kuping kiriku yang memang dekat dengan dadanya. Diam-diam aku mencuri pandang ke wajahnya dan menemukan wajahnya sedang terarah padaku. Mata kami bertemu beberapa detik.


Napas hangatnya menyapu wajahku dan dia bisa saja mendaratkan bibirnya di bibirku saat itu juga. Aku tak mungkin berteriak. Selain itu akan mempermalukan kami berdua, kami bisa diusir dari ruangan ini secara tidak hormat. Yo tidak memilih bibirku. Dia mengecup dahiku lamaaaaa. Aku memejamkan mataku. Membiarkan perasaan hangat itu masuk ke aliran darahku.


Film yang kami tonton berakhir tanpa ada satu hal pun yang melekat di dalam otakku. Seisi dadaku hampir runtuh diperlakukan selembut itu. Yo menarik tanganku dan membawaku keluar. Berdesak-desakan dengan banyak penonton lain yang ingin segera keluar dari ruangan. Aku bergerak lebih dekat pada Yo dan bergelayut di lengannya. Mata Yo memperlihatkan keterkejutan beberapa saat. Kemudian dia tersenyum dan membelai kepalaku.


“Jangan dipaksakan. Bisa memegang tanganmu yang bersarung begini saja aku sudah sangat senang.”


“Tidak terpaksa, aku senang sekali hari ini bisa bersama Yo.”


Yo tertegun. Aku menariknya ke parkiran yang berada paling atas. Tempat paling sepi di pusat perbelanjaan ini.


“Aku suka berada di sini kalau tak ada tempat buat menumpahkan kekesalanku.”


“Kamu sedang kesal?”


“Sekarang? Tentu saja tidak. Aku hanya ingin kita menjauh dari sesaknya manusia di bawah sana. Menikmati sunyi di sini.”


Yo maju beberapa langkah ke arahku. Aku berpegangan pada pagar yang menghalangi orang jatuh ke halaman pusat perbelanjaan dari parkiran atas ini.


“Mungkin aku serakah, tapi bisakah sekali saja berikan aku kesempatan untuk menjagamu? Aku tak bisa membayangkan kamu akan menjadi milik orang lain suatu hari nanti.”


“Yo, kita baru kenal hari ini.”


“Kamu yang baru melihatku hari ini Maura. Aku sudah melihatmu ratusan hari.”


“Maafkan aku Yo, aku senang bisa bersamamu hari ini. Tapi hari ini tak bisa dibandingkan dengan perasaan yang harus aku berikan padamu.”


“Selalu dia yang terlihat olehmu. Aku iri.”


“Siapa?”


“Laki-laki pembuat kopimu selama ini.”


“Maksudmu aku menyukai Taga?”


“Sangat jelas Maura.”


“Kami hanya berteman. Tidak ada perasaan lebih. Apalagi suka.”


“Selama ini kamu bukan tak bisa mencintai laki-laki yang kamu kenal Maura. Kamu telah mencintai seseorang yang ada di depanmu.”


“Tidak, bukan begitu.”


“Kalau memang kamu tidak mencintainya atau tidak mencintai orang lain mengapa kamu tak bisa memilihku? Aku kurang apa Maura?”


Aku terdiam. Tak ada yang salah denganmu Yo. Aku yang salah. Aku tak yakin dengan perasaanku sendiri. Aku bahkan tak tahu cara meyakinkannya. Toh sekarang aku tak tahu Taga berada di mana. Dia menghilang bagai ditelan bumi. Entah aku sendiri yang bodoh karena meneruskan kencan buta ini atau aku berharap dia akan muncul menjadi penyelamatku suatu hari apabila bertemu dengan lelaki yang kurang ajar. Entah dan beribu entah lainnya memenuhi rongga kepalaku.


Yo meraihku dan merapatkan dirinya padaku. Beberapa detik kemudian aku telah berada dalam pelukan hangatnya. Terlindungi dari dinginnya udara malam yang menyerbu kami. Dia menekan kepalaku ke dadanya. Aku tak bisa menolak. Dadanya yang bidang terasa di wajahku.


“Aku mengerti.”


Yo melepaskanku dan berlalu pergi. Suaranya yang penuh luka terus terngiang di telingaku hingga mimpi melelapkanku di dalam keindahannya. Bermimpi tentang taman bunga. Tentang kupu-kupu yang menghiasinya. Aku berlari dengan sepasang kaki mungilku. Tertawa. Pita yang menjalin rambutku menjadi satu melayang-layang tertiup angin.


Aku terjaga dan akhirnya aku kembali ke alam nyata.


Bersambung....

Related Posts

100 Kencan Buta [Bagian 9] Lelaki Ketujuh: Yo
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).