5 Mei 2012

100 Kencan Buta [Bagian 8] Lelaki Keenam: Sonny

Simak soundtracknya sambil baca.


 
Cinta bukanlah barang obral yang akan kamu temukan di pusat perbelanjaan. - Maura, 25 tahun, sedang mencari cinta yang diobral.

          Satu nama telah tercatat di buku harianku. Apakah Sonny akan mengikuti langkah Bagas? Menjadi nama berikutnya yang akan aku pertimbangkan sebagai orang yang akan menjadi pengisi ruang kosong di dalam kehidupanku? Sudah ada satu nama, tapi mengapa ruang itu masih saja terasa kosong. Di mana aku menempatkan Bagas? Apakah di relung hati yang lain?
          “Aku orangnya tak suka basa-basi. Dari awal aku sudah suka sama kamu. Bahkan sangat suka. Sekarang semakin suka lagi. Menurutku kamu orang yang tepat untuk menjadi seseorang yang penting dalam kehidupanku.”
          “Tapi kita kan belum saling mengenal? Kita baru saja duduk di sini 15 menit.”
          “Aku tak meminta jawaban sekarang, aku hanya ingin kamu tahu itu, Maura.”
          Aku menghela napas panjang. Masih sedikit terkejut dengan kalimat yang ia keluarkan barusan. Dia sangat terbuka. Tidak ada sesuatu yang aku pikir menjadi alasan aku menolaknya. Setiap orang punya kekurangan. Sonny juga punya tapi aku tak begitu terganggu dengan kalimatnya yang terbuka.
          Aku hanya merasakan masih ada yang kurang. Masih ada ruang yang kosong yang tidak dimasuki oleh siapa pun di dalam dadaku. Kemistri yang aku harapkan muncul di antara kami berdua, baik antara aku dan Bagas, atau antara aku dengan Sonny benar-benar kosong.
          “Aku ingin pulang. Aku tak enak badan. Bisa antar aku sekarang?”
          “Kamu marah?”
          Aku hanya menggelengkan kepalaku perlahan. Bukan kamu yang menjadi masalahku Sonny. Tapi hatiku yang sekarang berontak. Ada sesuatu yang kurang, yang aku tak tahu apa itu.
          “Kamu tahu Sonny? Selama ini aku sudah sangat terbiasa untuk sendiri. Meskipun aku akui ada yang kosong di bagian kecil hatiku. Aku butuh seseorang. Semua orang pasti menginginkan cinta di dalam kehidupannya. Cinta sejati. Sekarang, aku sadar aku sama sekali tidak siap untuk cinta. Aku belum siap menjadi bagian dari kehidupan orang lain. Kehidupanku terlalu kacau untuk dibagikan. Kamu tidak mengenalku sejauh itu untuk memahami bagaimana rasanya menjadi aku. Suatu hari saat kamu benar-benar mengenalku, kamu akan sadar bahwa aku bukanlah orang yang tepat untuk kehidupanmu.”
          Aku menarik dompetku dan berlalu dari hadapan Sonny. Aku tak bisa melakukan ini. Menggenggam cinta orang lain yang menusuk hatiku sendiri. Tak ada satu orang pun yang benar-benar mengenalku. Tak ada yang akan mau masuk ke dalam kehidupanku jika mereka tahu isinya seperti apa.
          Langkahku setengah berlari menuju rumah berwarna kuning gading itu. Rumah tempat aku menumpahkan segala keluh-kesahku akan dunia, akan segala masalah yang harus aku hadapi sendiri. Jutaan air mata telah banjir di sana. Semalaman aku hanya tenggelam dalam air mata. Aku, Maura, hanya kesepian di dalam kehidupannya.

Related Posts

100 Kencan Buta [Bagian 8] Lelaki Keenam: Sonny
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).