4 Mei 2012

100 Kencan Buta [Bagian 7] Lelaki Kelima: Bagas

Simak soundtracknya sambil baca.



Singel itu bisa bermakna dua arti, lajang karena bingung memilih atau lajang karena tak punya pilihan sama sekali. - Maura, 25 tahun, terlalu lajang dan bingung memilih yang mana, pilihannya belum ada.
          Tumblr_m3dhewuuko1rsddljo1_500_large
 Namanya Bagas, perawakannya sedang. Sangat sopan. Cara berbicara yang lembut. Hampir membuatku tersedak. Bagaimana mungkin dia lebih lembut dari aku? Gerakannya saat makan juga sangat teratur. Bagaikan pangeran yang memiliki tata krama. Sedangkan aku tak lebih dari rakyat jelata yang bersikap semaunya.
          
 “Selama ini saya pikir kita tidak akan pernah berada di meja yang sama. Makan makanan yang sama. Berbicara secara langsung seperti ini.”
         
Aku mengangkat wajahku yang sejak tadi aku benamkan ke bawah. Mata kami bertemu. Alisnya yang tebal seakan-akan disisir dengan rapi. Apakah memang ia menyisirnya? Beberapa pasang mata yang melirik kami kutatap sekilas. Aku baru sadar, sadar sesadar-sadarnya. Bahwa semua orang memperhatikanku. Aku saja yang tak menyadarinya dan sibuk dengan duniaku sendiri.
         
“Aku pikir aku hanya seseorang yang biasa minum kopi di sini tak ada yang berbeda denganku dibandingkan dengan orang lain.”
         
 “Kamu berbeda Maura, kamu istimewa. Saya ingin tahu lebih banyak tentang kamu.”
         
 “Tentangku?”
         
 “Tentang apa yang kamu pikirkan. Dengan siapa kamu akan berbagi kesedihan.”
         Tumblr_m2yn7evbke1qbjwv0o1_500_large
 Jika ini adalah hari tergombal di dunia, Bagas tentunya akan menjadi pemenang utamanya. Dia berhasil menghamburkan kalimat yang sangat gombal tapi sangat manis. Semanis senyuman yang menghiasi wajahnya.
          
 Aku hampir tersedak ketika tangannya terulur dengan tisu. Membersihkan sisa makanan yang ada di pinggiran bibirku.
          
 “Kamu selalu makan seperti ini ya?”
          
Pipiku merona. Aku pasti sekarang terlihat bagai seekor kepiting rebus. Memerah. Aku menghirup kopi yang tak seenak biasanya untuk menyembunyikan jengah di wajahku. Taga tidak hadir lagi. Apakah dia dipecat? Aku sudah tahu dia akan dipecat akhirnya. Sikapnya sama sekali tak mencerminkan seorang karyawan yang baik. Dia selalu menomorsatukan aku. Aku heran dia bisa dipertahankan tiga tahun.

“Kamu sangat cantik.”
          
Lamunanku tentang Taga buyar seketika. Bagas ada di depanku. Bagaimana mungkin aku memikirkan orang lain?
          
 “Makasih.”
          
Selama ini tak ada yang memujiku seperti ini. Semanis ini. Ternyata aku salah menilai diriku sendiri. Terperangkap pada doktrin bahwa orang yang tak punya pacar adalah orang yang tak laku dan tidak cantik.
         
“Sudah larut, saya pikir saya harus mengantarkan kamu pulang.”
         
“Rumahku dekat, aku bisa pulang sendiri.”
          
“Jalan kaki malam-malam untuk orang secantik kamu harusnya tidak sering dilakukan. Bagaimana jika ada yang berniat jahat padamu?”
           
Akhirnya aku ditemani Bagas menuju jalan pulang ke rumah. Dia tak menggenggam tanganku atau berusaha untuk menyentuhku. Sebuah pertanda yang sangat baik bukan? Aku merapatkan jaket yang aku kenakan. Malam ini lumayan dingin.
          
 Langkah kami terhenti di depan rumah berwarna kuning gading. Rumah kontrakanku. Aku meremas tas kecil yang tergantung di bahu kiriku. Tak tahu harus bersikap apa. Mata kami bertatapan beberapa detik. Bagas mengusap pipiku pelan. Aku kaku. Menunggu.
          
“Masuklah, dingin di luar sini.”
          
 Bagas berbalik dan meninggalkanku yang merasakan debar yang sangat kencang di dadaku. Untuk pertama kalinya di dalam hidupku ada yang menyadarkanku bahwa di dunia ini masih banyak orang yang mau masuk ke dalam kehidupanku dan Bagas akan menjadi nama pertama yang tidak akan aku coret dari 100 nama lelaki di dalam daftar Taga.

          561854_354340997963409_164372666960244_952532_2028349601_n_large
Aku menatap langit-langit kamar. Lampu tak menyala. Hanya cahaya bulan yang menyelusup masuk ke jendela kaca yang tirainya tidak menutup rapat. Malam ini aku menuliskan nama Bagas di buku catatan harianku. Orang pertama yang membuatku merasakan indahnya menjadi seorang Maura. Aku, Maura.

Related Posts

100 Kencan Buta [Bagian 7] Lelaki Kelima: Bagas
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).