3 Mei 2012

100 Kencan Buta [Bagian 6] Lelaki Keempat: Raka


Aku tak menemukan Taga. Rekan kerjanya hanya memberikan selembar pesan untukku. Dari Taga. Tentang seseorang yang harus aku kencani lagi malam ini. Taga ke mana? Aku ingin meminta nomor ponselnya pada rekan kerjanya tapi terlalu malu untuk melakukannya. Apa kata mereka jika tahu aku memintanya?
Kopi yang masih mengepul belum aku sentuh juga. Aku tak yakin rasanya akan sama dengan yang biasa dibuat oleh tangan Taga. Aku jatuh cinta pada kopi buatannya. Tak ada yang bisa menggantikan rasa hangatnya di tenggorokanku. Aku hanya memasukkan gula dan mengaduknya. Aku telah membaca nama keempat yang akan datang padaku. Raka.
“Kamu penulis yang sangat berbakat. Selama ini saya tidak pernah berpikir akan berkencan dengan seorang penulis.”
Awal yang baikkah ini? Isi kepalaku masih saja dipenuhi oleh sosok Taga. Satu hari tanpanya rasanya ada yang kurang. Kopi yang setengah dingin masih tak tersentuh bibirku.
“Maura, panggil saja Maura.”
“Iya, saya akan memanggilmu Maura. Kamu boleh memanggil saya Raka.”
“Kamu tahu, Ra, hampir setiap minggu saya datang ke cafe ini hanya untuk melihat kamu sibuk menyelesaikan tulisanmu. Kadang melihat wajahmu yang kesal dan terburu-buru mengetik. Kamu di meja ini benar-benar tenggelam dalam duniamu sendiri.”
Taga, harusnya kamu ada di sini. Aku pikir lelaki yang sekarang ada di depanku ini bukanlah sosok yang pantas untuk aku tolak. Dia mempesona. Coba kamu ada di sini. Melihat wajah gembiraku karena mendapatkan kembali yang namanya percaya diri. Bahwa aku bukanlah kaca yang tembus pandang. Aku terlihat oleh banyak orang. Bahkan tak sedikit yang memperhatikan dengan seksama.
“Kamu suka kopi, tapi mengapa sekarang tak menyentuhnya?”
“Belum, nanti saja.”
“Kamu sudah makan?”
“Belum, tapi aku tidak sedang ingin makan.”
“Bagaimana kalau kita nonton?”
Ini sudah naik tingkat kencannya. Tak hanya sebatas berada berseberangan di sebuah meja. Dia ingin mengajakku meninggalkan tempat ini dan pindah lokasi kencan. Taga tak pernah menyebut batasan pertaruhan ini sih. Tapi kalau aku memang mau nonton dengannya tak menjadi masalah yang besar bukan?
***
Aku memasukkan beberapa butir popcorn ke dalam mulutku sambil mulai menikmati film yang ditayangkan di layar lebar. Raka duduk di sebelahku dengan segelas minuman di tangan kirinya. Beberapa kali ia menyedot minumannya baru meletakkannya. Aku menonton dengan asyik. Jarang-jarang melakukan aktivitas seperti ini. Aku lebih nyaman berada di dalam kamarku dengan tumpukan buku fiksi dibandingkan menonton tayangan seperti ini.
Beberapa puluh menit berlalu dan aku mulai merasakan sesuatu yang bergerak di pahaku. Dalam remangnya cahaya aku bisa melihat tangan Raka sekarang bertengger di sana. Membelai lembut paha kiriku.
“Maaf Raka, tangan kamu bisa dipindahkan?”
“Lama-lama kamu juga bakalan suka kok, nikmati saja.”
“Kamu pindahkan sekarang atau aku keluar?”
Raka menarik tangannya dengan wajah mengkerut. Aku sekarang merasa sangat tidak aman di dalam sini. Ingin segera keluar dan menikmati udara bebas. Taga di mana? Seandainya ada dia di sini dia pasti sudah menggampar wajah Raka. Tak pernah ada yang berani kurang ajar begini denganku.
Akhirnya film yang kami tonton itu selesai juga. Terasa seperti berabad-abad lamanya. Aku tak menoleh lagi pada Raka. Terburu-buru ingin kembali ke rumah. Aku takut Raka akan melakukan lebih banyak hal yang tak aku inginkan. Aku tak ingin dia menyentuhku begitu. Di kencan pertama lagi! Bisa-bisanya dia kurang ajar!
“Maura, mau pulang? Biar Raka antar ya?”
“Aku bisa pulang sendiri. Rumahku dekat.”
“Ini kencan kita, sebagai lelaki yang bertanggung jawab aku harus mengantarmu pulang hingga selamat.”
“Aku tidak butuh bantuanmu. Kamu pulang saja ke rumahmu.”
Langkahku semakin cepat. Setengah berlari aku menuruni eskalator. Raka tak menyerah. Dia mengejarku. Bahkan hingga pintu keluar dia tetap ada di belakangku. Aku sudah tak peduli lagi. Aku hanya ingin cepat pulang dan beristirahat. Aku masih sangat terkejut dengan perlakuannya yang kurang ajar tadi.
“Cukup! Tinggalkan aku sekarang! Kamu membuatku takut!”
Sebelum masuk gang aku masih khawatir dengan keberadaannya. Raka memang mengikutiku dari belakang. Jaraknya tidak begitu dekat. Tapi rasa takut membuatku bimbang. Aku sudah cukup sering mendengar perempuan yang kencan kemudian digagahi oleh teman kencannya. Aku tak mau berakhir seperti itu.
“Saya minta maaf karena telah memperlakukanmu kayak tadi Maura. Saya hanya tak bisa menahan diri saya. Kamu sangat cantik dan saya ingin miliki kamu.”
“Bukan begitu caranya Raka. Sekarang pergilah.”
Raka berbalik arah dan melangkah menjauh dariku. Saat mengunci pintu depan akhirnya aku bisa mengeluarkan napas lega. Aku masih baik-baik saja. Ternyata belum ada lelaki yang bisa aku pilih sekarang. Raka juga tinggal aku coret dari daftar.

Related Posts

100 Kencan Buta [Bagian 6] Lelaki Keempat: Raka
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).