3 Mei 2012

100 Kencan Buta [Bagian 5] Lelaki Ketiga: Bayu

Simak soundtracknya sambil baca.

Kamu tahu, aku tak meminta cinta untuk datang padaku, cinta yang memelukku dengan lengannya, apakah itu kamu? - Maura, 25 tahun, penulis dengan sejuta nama pena karena ingin semua karyanya terbit di berbagai media.

Sekilas, dari jarak 2 meter tak ada masalah yang aku bayangkan di antara kami. Aku, masih bernama Maura. Bayu, nama laki-laki yang malam ini berkencan denganku. Lelaki ketiga. Berperawakan sedang. Tapi masih lebih tinggi dariku. Semuanya terlihat baik. Tak ada masalah. Dia tak begitu membosankan. Pertanyaannya menunjukkan dia menyukaiku. Bahkan dia tak segan memujiku. Anehnya aku tidak muntah dengan semua gombalannya meskipun aku bisa membuat gombalan yang lebih baik lagi.

“Perempuan mandiri itu seksi sekali. Aku suka.”

“Aku hanya berusaha untuk bertahan hidup.”

“Perempuan seperti kamu yang harusnya diperebutkan oleh semua lelaki di dunia. Tidak membuat masalah, malah kamu adalah solusi yang tepat untuk rumah tangga mana pun.”

Kalian dengar itu? Kurang apalagi bahasa yang dia gunakan untuk membuatku suka. Sedikitpun dia tak menunjukkan bahwa sebenarnya perempuan di depannya ini penuh kekurangan. Baik secara fisik maupun perilaku. Entah apakah dia melihat itu semua atau tidak. Aku senang jika dia melihat tapi tak mempermasalahkannya.

Dari balik meja kasir Taga memberikan kode dengan jempol kedua tangannya. Apakah Bayu ini laki-laki yang akan aku terima ke jenjang perkencanan selanjutnya atau aku simpan dulu saja? Aku masih punya 97 lelaki yang siap aku kencani. Taga pasti sudah membuat perencanaan yang matang dengan semuanya. Mungkin aku harus mengencani semuanya dulu baru memutuskan pilihan. Aih, aku ini egois atau perempuan yang ingin mendapatkan rayuan maut dari banyak lelaki sih?

“Kita akan sangat cocok berada di rumah yang sama. Aku akan senang sekali bisa minum kopi bersamamu setiap hari.”

“Kamu terlalu memuji. Aku melayang nih.”

“Aku hanya ingin jujur.”

Jika kamu bisa melihat wajahku sekarang. Aku hanya ingin menaik-turunkan sebelah alisku sebagai tanda padamu bahwa pendapatku selama ini salah. Bahwa ada lelaki di luar sana yang memang tercipta untukku. Bisa jadi Bayu orangnya. Aku sama sekali tak tahu.

Satu gerakan Bayu membuat semuanya berubah jadi mimpi ngeri. Lengan bajunya di bagian ketiak mengapa basah? Apakah itu burket? Bau apa ini? Rasanya ada udara berwarna hijau yang masuk ke paru-paruku. Napasku sesak. Ini bau dari ketiaknya? Sedikit saja sudah membuatku berkunang-kunang.

“Maura kegiatan sehari-harinya apa?”

“Selain menulis aku juga jual deodorant.”

Beberapa detik kami terdiam. Aku menyadari kesalahanku. Sejak kapan aku menjual deodorant? Itu hanya akibat udara hijau yang menguap dari ketiaknya yang terus-menerus terhirup olehku. Paru-paruku pasti berwarna hijau sekarang.

“Kamu pakai deodorant apa biasanya?”

Aku semakin tak mampu menahan lidahku sendiri. Seakan-akan aku bukan diriku sekarang. Aku mabuk darat karena udara hijau itu mengganas. Semakin banyak. Rasanya satu ruangan cafe ini dipenuhi oleh udara hijau yang berasal dari ketiak Bayu yang banjir keringat.

“Aku tidak suka deodorant. Memangnya ada apa?”

“Kamu tidak suka? Alasannya?”

“Ribet sekali sih deodorant itu. Dioles-oles ke ketiak. Itu menggelikan.”

“Ribet?”

Aku ingin sekali mengambil deodorant yang ada di kamarku sekarang. Sayang aku tak membawanya. Aku mengedarkan pandanganku ke bagian pelayan cafe mencari Taga. Dia sedang sibuk rupanya. Aku butuh napas buatan saat ini. Setidaknya ingin menghilang.

“Deodorant adalah benda yang sama sekali tidak ingin aku gunakan sepanjang hidupku. Ribet dan sedikit menjijikkan. Benda yang diciptakan untuk ketiak, coba bayangkan. Siapa sih yang punya ide untuk mewujudkan benda semacam itu. Benda khusus untuk ketiak.”

“Kamu punya parfum?”

“Nah kalau parfum aku sangat suka menggunakannya.”

Ah tak ada gunanya menggunakan parfum jika ketiakmu basah begitu. Baunya tetap akan tercium hingga ke Roma sana. Udara hijau terkutuk.

“Tahu tidak, dibandingkan parfum, deodorant jauh lebih penting.”

Wajah Bayu sekarang tak kalah hijau dari udara yang masih tak berhenti keluar dari ketiaknya. Aku menggigit belahan bibirku bagian bawah. Menunggu reaksi yang akan ia tunjukkan.

“Kamu tahu ada berapa banyak orang di luar sana yang tidak menggunakan deodorant.”

“Setidaknya memakan daun kemangi bisa membantu mengganti deodorant yang kita butuhkan.”

“Maura, jangan berputar-putar. Langsung ke bagian yang paling penting saja.”

“Kamu tahu tidak Bang Bayu, dari balik pakaian yang sekarang kamu kenakan, menguap segumpal udara berwarna hijau yang sangat tidak enak baunya? Seharusnya deodorant bukanlah menjadi benda haram yang bisa digunakan untuk menghalanginya.”

“Perilaku seburuk apa pun tidak akan bisa dihapuskan oleh sebotol deodorant. Deodorant tidak akan mengubah jati diri kita Maura. Saya tetap saya dengan atau tanpa deodorant.”

“Memang benar, tidak ada bagian dari jati diri kita yang akan berubah dengan menggunakan atau tidak menggunakan deodorant. Satu hal yang jelas, bau tidak enak akan segera hilang apabila kita menggunakannya.”

“Jadi?”

Aku menarik napas perlahan. Menghalangi udara hijau yang ingin segera masuk ke rongga hidungku.

“Kencan ini cukup sampai di sini saja. Sumpah saya mabuk darat sekarang.”

Aku segera berlari ke kamar mandi dan muntah di sana. Taga menyusulku dan memberikan sapu tangannya padaku. Dia hampir tergelak melihat wajahku yang tak kalah hijau dengan udara yang tadi masuk ke paru-paruku.

“Maaf, aku tidak tahu jika dia begitu menjijikkan bagimu Maura.”

“Lelaki macam apa yang tidak menggunakan deodorant di ketiaknya? Itu menjijikkan.”

Aku mengumpat sebelum keluar dari kamar mandi diikuti Taga. Kami duduk di meja yang tadi. Aku masih memegang sapu tangan Taga dengan tangan kiriku. Aku masih merasa sedikit pusing dan mual. Ini bukan reaksi yang berlebihan. Dari banyak lelaki di dunia ini aku tidak pernah tahu mengapa harus mengencani seseorang yang anti terhadap deodorant.

“Kamu sengaja menyimpan namanya di bagian awal ya? Supaya aku kalah dalam pertaruhan ini.”

Mataku menatap mata Taga tajam. Berharap dia mengakui akal bulusnya mempermainkanku. Tawanya yang renyah terdengar beberapa detik. Dia mengangkat alisnya sebentar. Menurunkannya kembali.

“Maura, bagaimana mungkin aku sengaja membuatmu berkencan dengan lelaki itu? Dia yang memintanya. Kamu memang menarik. Banyak yang tertarik denganmu. Kamu saja yang selalu merasa ada yang salah dengan dirimu. Padahal tidak ada yang namanya manusia sempurna. Semuanya punya kekurangan masing-masing. Jangan menyalahkan diri sendiri apabila kekuranganmu terlihat oleh orang lain. Itu bukan salahmu, Maura.”

“Setidaknya jangan membuatku berkencan dengan lelaki tanpa deodorant. Kepalaku pusing.”

“Kalau kamu tak bisa pulang sendiri aku akan mengantarmu.”

“Memangnya kamu tahu di mana rumahku?”

“Aku tahu, rumahmu dekat dari sini. Kamu jalan kaki kan ke sini?”

“Kamu menakutkan, jangan-jangan kamu selalu mengintaiku kalau aku pulang.”

“Jangan disebut mengintai, aku hanya ingin melihatmu pulang dengan selamat.”

“Aku bisa pulang sendiri, lagi pula kamu masih harus bekerja.”

“Aku izin mengantarmu.”

“Taga...”

Taga membuka celemek yang ia kenakan dan berbicara sebentar dengan pelayan yang lain. Pelayan perempuan itu hanya menganggukkan kepalanya dan memberiku seulas senyuman. Aku membalasnya dengan kikuk.

***

Taga berjalan di samping kananku. Aku memeluk dadaku dengan kedua tanganku yang kurus. Berharap dingin yang menusuk tulang segera lenyap. Namun tetap saja aku kedinginan. Aku terkejut saat Taga meletakkan jaketnya di bahuku. Ada aroma tubuhnya di sana. Membuat hatiku menghangat.

“Kamu selalu bekerja seperti itu ya?”

“Seperti apa?”

“Semau kamu, kamu sama sekali tak peduli dengan jam kerja, peraturan atau apa pun yang ada di sana. Seakan-akan kamu tidak takut dipecat. Banyak orang yang butuh pekerjaan di dunia ini. Jaga baik-baik pekerjaanmu.”

“Kamu peduli dengan aku?”

“Meskipun selama ini kita hanya bertemu di cafe itu dan posisi kita hanya sebatas pelayan dan pelanggan, aku rasa aku peduli jika kamu dipecat dari sana. Tidak ada yang bisa memberikan kopi yang nikmat lagi untukku kalau kamu tak ada. Tentu saja aku ingin kamu tetap di sana.”

Taga tersenyum. Senyuman yang sampai detik ini belum mampu kuterjemahkan maknanya. Sepanjang perjalanan pulang, di bawah temaram lampu jalanan yang kami lewati kami hanya bercerita tentang hal-hal buruk. Tentang betapa anehnya Taga di mataku dan tentang lucunya cara makanku yang diketahui Taga. Banyak hal yang kadang tak pernah terpikir ada pada diriku direkam oleh Taga. Seseorang yang aku pikir akan sangat sibuk hingga tak sempat untuk melihat detil diriku. Sejenak aku merasa bahagia, ternyata di dunia ini ada yang melihatku dari sisi itu. Selama ini aku berpikir tak ada yang memperhatikanku. Bahkan aku merasa tembus pandang. Sama sekali tak ada yang peduli kapan aku menggosok hidungku, kapan aku bersin, dan kapan aku akan menandaskan kopiku yang mulai dingin.

“Kamu tahu Taga, di dekatmu aku merasa sangat nyata. Kamu benar-benar melihatku. Selama ini aku berpikir tak ada yang akan memperhatikan apa yang aku lakukan.”

“Pantas saja kamu suka makan dengan berantakan. Kadang suka ngupil sembarangan. Bahkan bersinmu itu bisa menerbangkan seisi meja. Kamu benar-benar menganggap dirimu tidak kelihatan? Padahal satu cafe selalu sadar ada seorang gadis aneh di meja sudut yang sibuk dengan laptop dan kopinya.”

“Bersinku keras sekali ya?”

“Sangat. Jika terdengar bunyi bersin dari meja sudut itu semua orang tahu siapa yang melakukannya. Kamu satu-satunya orang yang menjadi pusat perhatian di sana, Maura. Sayang kamu sama sekali tidak menyadari daya tarikmu itu.”

“Kamu pikir bersinku satu-satunya hal yang menjadi daya tarik dalam diriku?”

“Bukan begitu.”

“Terdengar begitu bagiku.”

“Kamu harus percaya, suatu hari akan ada seseorang yang datang untuk masuk dalam kehidupanmu dan melihat sisi dirimu yang selama ini kamu simpan sendiri.”

“Apakah ada bagian diriku yang tak terlihat olehmu Taga?”

“Aku tak pernah melihatmu tidur, aku juga tak tahu apakah kamu akan mendengkur atau tidak. Masih banyak yang aku tak tahu tentangmu Maura.”

Langkahku terhenti di depan sebuah rumah berwarna kuning gading. Ini rumah yang mampu kusewa sebagai tempat tinggalku.

“Sudah sampai.”

“Aku harus kembali ke tempat kerjaku.”

“Terima kasih sudah mengantarku pulang.”

Aku menunggu Taga memberikan ucapan selamat tinggal yang biasa aku lihat di film-film. Biasanya seorang lelaki akan mengecup pipi perempuan yang dia antar pulang. Tapi aku tak melihat tanda-tanda Taga akan melakukannya. Dia hampir berbalik ketika aku mendaratkan ciuman di pipinya.

“Hati-hati, Taga.”

Taga tak menoleh lagi. Ia melanjutkan langkahnya menjauh dari rumahku. Aku membuka pintu dengan anak kunci yang tergantung di leherku. Masuk dan menguncinya kembali.

Related Posts

100 Kencan Buta [Bagian 5] Lelaki Ketiga: Bayu
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).