2 Mei 2012

100 Kencan Buta [Bagian 4] Taga Lagi

Simak soundtracknya sambil baca.

Jika aku bisa membeli cinta, akan kubiarkan sepanjang hidupku kuhabiskan untuk membayar harganya. - Maura, 25 tahun, penulis yang selalu gagal mengoleksi pacar, semuanya hanya mantan dan tidak dikoleksi, itu terpaksa dikoleksi.

Aku menghenyakkan pantatku di kursi yang sama seperti biasa. Kursi yang menemani hari sepiku. Sama seperti kemarin, aku masih tak punya kekasih atau cinta. Segelas kopi langsung datang ke mejaku. Taga membawanya. Dia kemudian duduk di depanku. Menarik tanganku dan menggenggamnya.

“Aku rasa kita harus menghentikan pertaruhan ini. Perasaan bukanlah untuk dimainkan. Maafkan aku, Maura.”

“Bukan kamu yang harus meminta maaf, Ga. Aku yang salah karena marah denganmu semalam. Harusnya aku tidak perlu marah begitu. Kamu sudah berbaik hati untuk mengatur ini semua. Bagaimana mungkin kamu yang aku salahkan?”

“Maura...”

“Taga, malam ini atur saja orang yang ingin kencan denganku. Aku masih sanggup kok. Masih kuat.”

Taga tersenyum. Senyum anehnya itu. Senyum yang tak pernah bisa kutebak maknanya. Tapi aku tak pernah bertanya tentang apa yang sebenarnya dia pikirkan di dalam sebuah senyum aneh itu.

“Siang ini kamu mau jalan denganku?”

“Kamu mengajakku?”

“Hitung-hitung sebagai permintaan maaf karena membuat 100 harimu kedepan tidak semenyenangkan biasanya. Bagaimana? Hanya makan siang biasa.”

“Di mana?”

“Aku tak bisa pergi jauh, kita ke Food Court aja di lantai atas mau?”

“Mau.”

Baiklah, aku menerima ajakannya. Seorang pelayan yang sudah kukenal selama tiga tahun. Seorang laki-laki yang biasanya hanya mengantarkan segelas kopi untukku. Sekarang aku akan bersamanya untuk makan siang. Aku merasa ini juga hal yang cukup aneh untuk dilakukan. Apa yang akan kami bahas di sana?

***

Taga memesankan makanan yang mirip dengan makanan yang biasa aku pesan di cafe tempatnya bekerja. Sepiring kentang goreng, ayam, dan semangkuk sup kentang. Masih mengepul. Dia ingat makanan kesukaanku. Makanan yang selalu tersedia di gerai makanan cepat saji mana pun. Seharusnya aku tak sekurus ini karena bukan tipikal perempuan yang susah dicarikan makanan yang akan dihabiskan dalam waktu kurang dari sepuluh menit.

“Buru-buru sekali makannya?”

Taga belum menghabiskan nasi uduk yang dia pesan. Sedangkan aku sudah tuntas makan siang. Aku tersenyum malu. Aku lupa sekarang aku bukan makan sendirian. Sekarang aku bersama Taga. Tidak sopan sekali.

“Maaf, sudah kebiasaan.”

“Sekarang kamu bantu aku menghabiskan nasi uduk ini ya? Aku kurang suka.”

“Makanannya pasti tidak enak kan?”

“Enak itu relatif Maura.”

“Lalu mengapa tak kamu habiskan sendiri Taga?”

Taga tak menjawab. Dia malah menyendok nasi dan mendekatkan sendok ke mulutku. Aku langsung membuka mulutku dan membiarkan nasi itu masuk. Rasanya tidak seburuk yang aku pikirkan. Eh, barusan dia menyuapiku? Di makan siang pertama kami? Aku menatap matanya. Tak ada perubahan yang berarti di sana. Bisa jadi dia sudah terbiasa memperlakukan semua temannya seperti ini ya? Aku saja yang tidak pernah mendapatkan perlakuan begini. Sedikit jengah. Pipiku pasti merona merah jambu.

“Kamu habiskan ya?”

Taga terus saja menyuapiku yang memang pada dasarnya bisa menghabiskan makanan dengan sangat cepat. Dia sama sekali tak peduli dengan beberapa pasang mata yang melihat ke arah kami. Apakah ada yang mengenaliku? Apakah ini terlihat aneh? Makan siang yang sebenarnya jauh dari romantis tapi dia masih menyuapiku.

“Kamu tidak berpikir bahwa tubuhku terlampau kurus kan? Aku cukup makan kok, Ga.”

Taga menyuapkan nasi terakhir dari piringnya. Senyumnya mengembang. Kepalanya menggeleng. Senyumannya hampir melebar dan berubah menjadi tawa. Apakah ucapanku terdengar lucu? Aku sama sekali tak berniat untuk melucu sebenarnya.

“Kamu memang kurus, Ra. Tapi aku tidak menganggapmu kurang makan. Aku hanya tak mampu menghabiskan makananku. Sesederhana itu. Jangan terlalu dipikirkan. Nikmati saja. Jangan mendetil. Ini bukan tenggat yang harus kamu penuhi.”

Tangan Taga sekarang mendekatkan tisu ke pipiku. Dia membersihkan sisa makanan yang sempat mampir di sana. Dadaku gemuruh lagi. Ada apa denganku? Aku sudah mengenali Taga tiga tahun. Mengapa sekarang dia terlihat tak sama?

“Mau nonton?”

“Bukannya kamu harus kerja? Nanti kamu dicariin lo.”
Kita bisa mampir sebentar di tempat bermain, kamu tak mau main sesuatu?”

“Kita jalan saja yuk, keliling.”

Taga menganggukkan kepalanya. Tiba-tiba tangannya yang kokoh itu memegang tangan kananku. Menggenggam jemariku.

“Taga...”

Langkah kami terhenti di depan lift. Dia menoleh ke arahku. Sejak tadi aku hanya berani berada sedikit di belakangnya. Memperhatikan punggungnya yang tegap. Taga yang biasanya hanya terlihat sebagai pelayan cafe entah mengapa sekarang benar-benar kulihat sebagai lelaki. Seorang lelaki. Manusia yang lain jenisnya denganku.

“Ada apa? Kamu haus?”

“Kamu menggenggam tanganku.”

Taga mengangkat tanganku yang masih dalam genggamannya sambil tersenyum. Sama sekali tak berniat melepaskannya. Aku terlalu berdebar untuk menatap matanya. Untuk melihat ada apa di sana.

“Kamu selalu kedinginan kan? Aku tak punya sarung tangan untukmu. Aku tak mau kamu bersin dan demam karena dingin. Aku cuma punya tangan buat menghangatkan tanganmu. Jadi, bisakah biarkan aku menggenggamnya.”

Aku benar-benar malu. Taga hanya bermaksud menghangatkan tanganku? Aku yang tidak masuk akal mengalami badai di dadaku. Meskipun Taga lelaki, dia tetap orang yang aku kenal tiga tahun yang lalu, pelayan yang selalu memberikan apa yang aku butuhkan. Mengapa aku sampai berpikiran sejauh ini. Membiarkan debaran ini menggelora di jantungku. Tidak ada yang harus membuatku merasakan keanehan. Bagaimanapun juga kami sudah sedemikian lama saling kenal. Jika memang akan ada sesuatu yang istimewa terjadi di antara kami tak perlu menunggu selama itu untuk berputik. Bisa jadi getaran ini ada karena aku merasa butuh seseorang untuk berbagi. Seseorang yang akan mendengarkan semua ceritaku. Keluh kesahku.

“Masuk yuk.”

Taga menarik tanganku ke sebuah toko pernak-pernik untuk cewek. Biasanya aku hanya melintasi, sekarang aku benar-benar masuk. Menyentuh semua benda yang dijual di sana. Anting. Bando. Gantungan kunci. Cincin. Masih banyak yang lainnya. Taga mengambil sepasang anting dan langsung memasangnya di telingaku. Sudah lama aku tak mengenakan anting di sana. Setiap kali aku mengenakan anting, selalu menghilang dalam hitungan hari. Tak ada yang bertahan lama. Serupa dengan semua hubunganku selama ini.

“Bagus. Mau?”

“Tidak usah, palingan juga hilang lagi. Sudah banyak anting yang terlepas dari telingaku.”

“Aku rasa model yang ini tidak akan lepas lagi. Sudah terkunci di sana. Jangan dibuka-buka lagi ya?”

Aku tersenyum dan menganggukkan kepalaku. Hari ini harinya Taga. Selama dia menginginkan sesuatu yang bisa aku berikan, tak ada salahnya menuruti maunya. Taga menarikku ke kasir dan membayarkan anting yang sudah dipasangnya di telingaku. Beberapa pasang mata menatap iri padaku. Mereka menatap Taga dan aku bergantian. Aku, Maura.

Aku tahu, cewek-cewek yang melihat Taga memasangkan anting di telingaku pasti iri. Meskipun Taga mengenakan seragam cafe tempatnya bekerja, kuakui, dia lelaki yang lumayan gagah. Kumis tipisnya yang sering dicukur menambah manis senyumannya. Tidak terlalu buruk untuk membuat perempuan klepek-klepek.

“Sekarang mau ke mana?”

“Jalan lagi aja.”

Taga menggenggam tangan kiriku sekarang. Tangan yang hampir beku. Pendingin di pusat perbelanjaan ini memang benar-benar membuat suhu tubuh menurun. Suhu hatiku saja yang meningkat sejak tadi karena jantungku semakin tak karuan. Hampir satu jam kami berkeliling dengan tangan tetap berpegangan. Hingga akhirnya langkah kami tiba di cafe tempat Taga bekerja.

“Kembali ke dunia yang sebenarnya, Maura, kamu siap?”

Aku menganggukkan kepalaku untuk ke sekian kalinya. Kami sama-sama tersenyum. Senyum yang sama sekali tak bisa dibaca. Aku tak bisa membaca senyuman Taga. Entah Taga bisa membaca senyumanku atau tidak. Aku tak tahu. Hatiku berbunga-bunga, itu saja arti senyumku.

Related Posts

100 Kencan Buta [Bagian 4] Taga Lagi
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).