1 Mei 2012

100 Kencan Buta[ Bagian 3] Lelaki kedua: Fahd

Simak soundtracknya sambil baca.
Rihanna11a_large

Perempuan mana yang suka memiliki tubuh ceking jika bisa memiliki tubuh sintal dan semua mata memandangnya takjub? - Maura, 25 tahun, selalu gagal menaikkan berat badan meskipun makan 10 kali sehari.

Taga mengenakan seragam yang berbeda hari ini. Berwarna putih susu. Dia meletakkan segelas kopi ke mejaku. Aku menarik tangannya. Memberikan isyarat agar ia duduk di depanku. Dia menyimpan baki yang tadi ia pegang di mejaku.

“Apa dia tidak berniat mencari penari balet seperti Dani?”

Taga menjawab dengan gelengan kepalanya. Meyakinkanku bahwa hari ini tak akan sama dengan kemarin. Beberapa pelanggan masuk. 

Menduduki kursi yang kosong.

“Tugasmu menanti. Aku akan menunggunya di sini.”

Taga mengedipkan matanya dan meninggalkanku. Aku menyesap kopi yang masih mengepul itu perlahan. Kenikmatan yang tak akan bisa digantikan dengan minuman yang lain. Seorang lelaki berperawakan tinggi besar langsung duduk di depanku. Berparas oriental. Mata sipitnya tersembunyi di balik kaca matanya yang tebal. Apakah ini pertanda baik? Bahwa dia sama-sama penggila buku sepertiku?

“Maaf aku terlambat.”

Aku menilik jam di dinding. Dia hanya terlambat dua menit. Akulah yang terlalu awal datangnya. Aku memang sengaja. Aku tak mau ditunggu. Lebih suka menunggu. Setidaknya aku bisa berbicara dengan Taga sebelum bertemu dengan Fahd. Seorang pengusaha makanan yang lumayan sukses. Aneh tidak memiliki pasangan.

Image_large

Cinta memang penuh rahasia. Uang ternyata tak mampu meruntuhkan dinding penutupnya. Seorang jejaka tampan, muda, berhasil, dan menarik seperti Fahd pun tak mudah menemukan rahasia yang disimpan Tuhan di dunia. Diberi nama sebagai cinta.

“Pelayan.”

Fahd melambaikan tangannya pada Taga yang satu-satunya sedang santai. Tergopoh ia mendekati kami. Membawa catatan kecil dan pulpen di tangan kirinya. Bersiap menuliskan pesanan Fahd. Baru aku tahu Taga ternyata kidal. Selama ini dia memang tak pernah mencatat pesananku. Paling sering hanya kopi. Kalaupun ada tambahan lainnya hanya sepiring roti panggang atau kentang goreng.

“Nasi goreng spesial dua, susu hangat gelas besar satu, satu lagi kopi.”

Taga menuliskannya tanpa banyak bicara.

“Tambah juga dua roti panggang dan es krim. Roti sama es krimnya bisa diantar dulu kan?”

Taga menganggukkan kepalanya. Kemudian pergi setelah Fahd tidak menyebutkan pesanan yang lain.

“Memangnya siapa yang mau datang? Pesan makanannya banyak banget.”

“Tidak ada yang akan datang. Itu untukmu.”

“Aku tidak lapar.”

“Kamu butuh makan. Eh kita belum berkenalan. Namaku, Fahd. Meskipun kamu sudah tahu pastinya dari Taga.”

“Aku sebenarnya sudah makan sebelum kamu datang.”

“Cewek sekarang sukanya badan kurus ceking ya? Tidak sehat diet yang membuat tubuh kerempeng begitu. Apalagi minum kopi, kamu harusnya minum susu.”

Taga, ini menyebalkan. Aku ingin menendang muka lelaki di depanku sebelum dia berbicara lebih lanjut lagi. Untung saja ini kali pertama aku bertemu dengannya. Jika tidak... Aku hanya bisa mengepalkan tinjuku.

Taga membawakan es krim dan roti panggang untuk kami berdua. Ujung matanya melirik ke arahku. Aku hanya memberikan isyarat bahwa aku sebal dengan lelaki yang ini. Dia menghinaku karena tubuhku kurus. Siapa juga yang menginginkan tubuh seperti tulang dibalut kulit begini. Tanpa daging yang berarti. Taga hanya satu menit mampir di mejaku. Setelah itu menghilang.

“Aku memang kurus tapi bukan berarti aku kurang makan.”

Sendok yang aku pegang ingin aku patahkan, sayangnya aku bukanlah gadis yang bisa melakukan keajaiban seperti itu. Aku memelototkan mataku yang memang pada dasarnya sudah besar.

“Semua perempuan di dunia ini kebanyakan nonton film Korea. Mana cantik perempuan dengan tubuh yang kerempeng?”

“Masalahmu apa?”

“Perempuan harusnya berisi agar bisa menghasilkan banyak keturunan. Badan kurus itu tak subur.”

Aku meremas taplak meja dan menariknya dengan keras. Tersentak. Semua isi meja berhamburan. Entah minuman yang mana yang kena wajahnya. Bajunya basah. Dadanya kuyup. Baiklah, aku keterlaluan. Aku memang meledak seketika.

Dia melemparkan lembaran uang ke meja dan meninggalkanku. Tanpa ucapan selamat tinggal. Aku terduduk kembali ke kursi. Aku ingin memuntahkan makian detik itu juga tapi tak bisa kulakukan. Terlampau banyak orang di sini. Taga tergopoh datang padaku.

“Kamu tidak apa-apa?”

“Aku sudah bilang ini tidak akan berhasil. Semuanya menyebalkan! Kamu juga sama!”

Aku menyambar tasku dan berlalu. Berjalan terburu-buru menuju pintu keluar. Semua mata yang menatapku tak kuperdulikan. Aku lelah. Aku hanya ingin pulang dan larut dalam tidurku malam ini juga. Semoga mimpi bisa menghapuskan semua kekesalan yang terjadi. Tidak ada yang salah denagan tubuh kurusku. Lelaki mana pun tak ada yang berhak memaksaku banyak makan seperti dia. Dia pikir dia siapa?

Related Posts

100 Kencan Buta[ Bagian 3] Lelaki kedua: Fahd
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).