20 Mei 2012

100 Kencan Buta [Bagian 18: SELESAI) Satria Sitaga

Bagian 18
Satria Sitaga

Jika mencinta adalah awal dari saling melukai, aku siap melihat ceceran darah dari hatiku. - Maura, 25 tahun, masih di rumah sakit.

Aku melihat ruangan yang sama yang sebelumnya aku tinggalkan. Taga berdiri dekat pinggiran jendela menatapku. Aku membaui aroma bunga mawar putih di ruangan ini. Di meja bunga indah itu berdesak-desakan di dalam vas. Infus sudah terpasang lagi di lenganku.

“Bisakah jangan melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini lagi?”

Mata Taga yang bening menusuk hatiku. Aku membencinya. Sangat. Tapi kurasa paling menyakitkan aku mulai menyadari aku menyukainya. Dia telah ada di ruang kosong hatiku yang selama ini ditinggalkan lelaki yang menghuninya. Kemudian semuanya malah jadi seperti ini. Menyakitiku.

“Apa pedulimu?”

“Tentu saja aku peduli denganmu, Ra.”

“Kamu saja senang mempermainkanku.”

“Aku mempermainkanmu bagaimana sih Maura?”

“Untuk apa kamu kasih aku seratus kencan buta dan menjadikan aku pertaruhan? Darimana kamu dapat banyak uang untuk melakukan itu? Apakah dari pacarmu yang cantik itu?”

“Pertaruhan? Pacar? Kamu bicara apa, Ra?”

“Akui saja kalau kamu telah menganggap semua ini permainan.”

“Kamu tahu, Ra. Butuh bertahun-tahun buatku menemukan cara untuk menebak isi hatimu. Bahkan untuk mengumpulkan keberanianku sendiri. Berapa lama aku mencoba membohongi diriku sendiri bahwa aku tak pernah mencintaimu? Bahwa kamu sama saja seperti perempuan lain yang aku kenal? Bahwa tak akan ada yang bisa membuat aku tergila-gila.”

“Cukup Taga!”

“Aku belum selesai.”

Taga mendekatiku dan duduk di pinggir ranjang. Aku membuang wajahku ke samping. Tak ingin bertatapan dengannya.

“Aku hanya ingin tahu hatimu Maura. Apakah kamu selama tiga tahun ini hanya menganggapku pembuat kopi yang akan melayanimu setiap hari atau seorang lelaki yang istimewa di dalam kehidupanmu.”

“Untuk apa kamu pertaruhkan aku? Untuk apa?”

Perlahan air mataku mengalir. Membasahi bantal yang menopang kepalaku.

“Aku yang mempertaruhkan sejumlah uang untuk yang berhasil mendapatkan hatimu. Jangan salahkan Taga.” Suara seorang perempuan bergema.

Gadis cantik yang kemarin membuatku cemburu karena bergelayut di lengan Taga muncul di depan pintu. Selalu cantik dan anggun meskipun wajahnya sinis.

“Yuna, apa yang kamu lakukan? Kakak sudah bersusah payah menyusun 100 nama untuk kencan Maura. Kenapa harus ada pertaruhan segala macam?”

“Tidak ada yang boleh mengambilmu dariku, Kak.”

Kakak? Mereka saudara?

“Dia saudaramu?"

“Kembaran tepatnya.”

“Saudara kembarmu?”

“Pokoknya aku nggak mau tahu, Taga hanya milikku!”

Gadis itu mulai menangis kemudian berlari meninggalkan kami.

“Taga, dia tidak apa-apa?”

“Dia selalu begitu. Dia tak ingin ada yang mendekatiku. Apalagi perempuan. 
Dia akan sangat cemburu. Dia takut akan kehilanganku.”

“Dia membuat pertaruhan agar tak kehilanganmu?”

“Bisakah kali ini saja jangan membicarakan orang lain. Aku hanya ingin bertanya satu kali. Apakah kamu memiliki perasaan yang sama denganku?”

Taga mencintaiku? Bahkan tak pernah membuat pertaruhan apa pun untuk mempermainkanku?

“Kenapa kamu menyimpan namamu di nomor terakhir?”

“Karena aku takut, kamu akan menolakku. Aku tak pernah punya keberanian untuk mendekatimu lebih dulu.”

Aku bangkit dan duduk berhadapan dengannya. Aku sangat lelah. Aku langsung memeluknya. Menangis di bahunya.

Selesai...

Related Posts

100 Kencan Buta [Bagian 18: SELESAI) Satria Sitaga
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).