15 Mei 2012

100 Kencan Buta [Bagian 15] Satria?

Bagian 15
Satria?


Kamu tak butuh cara untuk belajar mencintaiku, kamu hanya butuh alasan untuk terus mencintaiku. - Maura, 25 tahun, sedang ingin dicintai.


Jujur, aku sedang uring-uringan. Aku sudah beberapa hari tak bertemu Taga dan itu tak menyenangkan. Aku tak bisa minum kopi. Harusnya aku sekarang sakau karena tak menikmati tetesan hitam itu. Semua ini salah Taga. Dia benar-benar menghilang ditelan bumi. Aku harus tahu alasannya.

Aku memutuskan untuk bertemu dengan Rendy. Setidaknya dari banyak lelaki yang mengencaniku dia yang paling bisa kupercaya. Siapa tahu dia bisa membantuku untuk menemukan lelaki yang telah membuatku ketergantungan dengan kopi buatannya. 




Aku menghentikan sepeda motor di halaman rumah Rendy.  Mataku menatap sepeda motor yang ada di sana. Mungkin waktu itu keadaan tak seterang sekarang. Tapi aku masih sangat ingat sepeda motor yang meninggalkanku dalam keadaan tak berbusana di semak-semak belakang Bandar Udara Supadio. Ini sepeda motor Jaka. Mengapa ada di sini?

Kakiku melangkah menuju pintu depan yang terbuka sedikit. Lamat-lamat kudengar suara dua orang lelaki yang sempat mengencaniku.

"Sekarang aku mau bayaranku. Aku sudah melakukan apa yang kamu minta."

"Tapi kita harus menunggu sampai 100 kencan itu berakhir."

"Aku butuh uangnya sekarang."

"Aku sudah dapat memastikan kita menang, tapi kita harus bersabar untuk menunggu uangnya cair. Maura masih akan berkencan dengan banyak orang. Tugas kita sekarang adalah memastikan kencan berikutnya tak ada yang berhasil."

Aku berdiri mematung di belakang Jaka. Mata Rendy bertatapan dengan mataku. Wajahnya berubah menjadi kaku.

"Apa maksud semua ini? Kalian bekerja sama untuk mendapatkanku? Untuk apa? Uang apa?"

"Dengarkan aku."

"Kamu jelaskan denganku sekarang."

Jaka terdiam. Tak berani menatapku sama sekali.

Rendy menarikku ke kursi tamu. Memegangi tanganku. Ingin sekali saat itu juga aku menamparnya. Dia bekerja sama dengan Jaka untuk menelanjangiku di semak-semak? Untuk apa?

"Aku minta maaf karena telah melakukan ini, aku hanya butuh uang yang akan diberikan untuk lelaki yang memenangkan kencan ini. Laki-laki yang akan kamu pilih."

"Siapa saja yang tahu tentang ini?"

"Semua pesertanya mengincar uang hadiah kemenangan ini Ra."

"Jadi selama ini kamu tak pernah mencintaiku? Bahkan semua orang yang sebelumnya juga?"

"Maafkan aku, Ra. Aku butuh uang itu untuk pengobatan ibuku."

"Siapa yang membuat pertaruhan seperti ini? Siapa yang akan memberikan hadiahnya?"

"Satria. Dia yang membuat kencan ini ada. Dia yang akan memberikan hadiahnya. Namanya juga ada di nomor terakhir. Kamu akan mengencaninya juga."

"Aku dipertaruhkan oleh seorang lelaki yang tidak aku kenal? Untuk apa?"

"Aku tak tahu."

"Kamu juga menggunakan cara yang curang untuk membuatku suka denganmu."

"Tapi..."

"Seandainya kamu memang menang dan aku akan memilihmu apa yang akan terjadi denganku? Apakah kamu akan menganggap tak pernah terjadi apa-apa di antara kita dan melupakanku setelah mendapatkan semua uang itu?"

"Maura..."

"Aku memang bodoh, percaya begitu saja dengan semua omong kosong ini. Aku akan perlihatkan pada Satria aku tidak akan kalah pada siapa pun."

"Maura, tak bisakah kita mencoba dari awal?"

"Jangan bilang kamu mencintaiku."

"Maura..."

"Aku hanya memberikan kepercayaan pada orang satu kali. Kamu telah menghilangkannya. Aku minta jangan pernah temui aku lagi."

Aku berlari keluar. Air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya menghambur. Kusambar sepeda motorku dan melaju di jalan raya. Di mana kamu sekarang Taga? Kamu pasti mengenal Satria bukan? Kamu pasti tahu tentang pertaruhan ini semua. Jelaskan padaku. Jelaskan. Air mata menghalangi pandanganku. Aku mendengar bunyi klakson yang sangat panjang. Kemudian semuanya menjadi gelap. Pekat. Tak terlihat apa-apa lagi.

Related Posts

100 Kencan Buta [Bagian 15] Satria?
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).