12 Mei 2012

100 Kencan Buta [Bagian 14) Lelaki Kedua belas: Ivan

Bagian 14
Lelaki Kedua belas: Ivan


Kamu tahu aku tak pernah meminta cinta untuk datang padaku, cinta yang memelukku dengan sayap-sayapnya. Apakah itu kamu? - Maura, 25 tahun, sedang bimbang tingkat dewi.

Aku menatap Rendy yang menyetir mobilnya dengan wajah tenang. Dia bahkan sempat menggodaku dengan mengatakan bisa jadi lelaki yang datang nanti akan membuatku jatuh cinta. Sama sekali tak memperlihatkan wajah cemburunya. Apakah memang dia sama sekali tidak ada perasaan semacam itu? Berharap dia cemburu. Normalkah itu?

“Kamu bilang kamu mencintaiku.”

Suaraku memecah kesunyian yang tadinya hanya diisi deru mobilnya membelah jalan raya. Mata Rendy membesar. Menatapku. Tangan kirinya bergerak menggenggam tanganku.

“Sangat Maura, apakah kamu tak bisa melihatnya?”

“Lantas mengapa sekarang kamu tenang saja membawaku untuk kencan dengan lelaki berikutnya? Bagaimana kalau aku jatuh cinta dengannya?”

“Memangnya sekarang perasaanmu bagaimana?”

Rendy menusukku tepat di jantung dengan pertanyaannya. Apa yang harus aku katakan? Apakah harus kukatakan aku mencatat nama Bagas? Bahwa aku sedang dipusingkan oleh Aji yang melamarku? Lalu aku juga memberikan harapan pada Anas? Kemudian cinta menjadi sesuatu yang rumit untuk didefinisikan.

“Kamu hanya perlu tanya hatimu sendiri untuk mendapatkan jawabannya.”
Rendy melepaskan genggaman tangannya dan berbicara tanpa menatapku lagi.

“Kalau aku tak punya akal sehat sekarang ini, kamu tak akan pernah keluar dari rumahku Maura. Akan aku tahan hingga hari terakhir 100 kencan ini. Tak akan aku biarkan satu orang pun menyentuhmu. Tertawa bersamamu. Melihat lucunya kamu.”

Aku tersentak. Rendy terlihat sangat kesal dan marah. Dia benar-benar cemburu?

“Maaf telah bertanya seperti itu padamu Ren. Itu sangat tidak pantas. Padahal aku tahu kamu mencintaiku.”

“Sekarang katakan padaku bagaimana perasaanmu padaku?”

“Tidak adil untuk orang yang akan kencan denganku berikutnya Ren. Tapi tiap detik yang aku lewati bersamamu adalah detik-detik yang akan aku catat sebagai hari yang paling menyenangkan di dalam kehidupanku.”

Mobil itu berhenti dan aku segera turun. Masih penampilan yang sama. Rambut yang dicepol ala balerina. Tubuh yang kurus serupa dengan tubuh perempuan penari yang anggun itu. Langkahku tegas. Tak ada keinginan untuk menoleh ke belakang. Aku harus profesional. Tak adil untuk lelaki berikutnya jika aku memutuskan sekarang.

“Hai, maaf aku terlambat.”

Seorang lelaki sudah duduk di sana. Aku lupa dengan daftar nama lelaki yang mengencaniku. Siapa ini?

“Hai, belum terlambat. Aku yang terlalu awal. Ayo duduk. Kenalkan aku Ivan.”
Dia menyalamiku. Wajahnya berbentuk telur rebus yang sempurna. Senyumnya dihiasi gingsul di bagian kiri dan lesung pipi di bagian kanan. Dunia ini ternyata masih sangat luas, masih sangat luas. Baru pertama kali aku menemukan lelaki semacam ini. Apakah memang selama ini aku terlalu banyak menulis dan lupa dengan manusia lainnya?

“Kamu cantik.”

Baru lima menit duduk di meja yang sama dia sudah merayuku. Baiklah. Mari kita lanjut!

“Makasih.”

Kemudian lelaki itu mulai sibuk dengan ponsel pintar yang tak pernah lepas dari genggamannya. Memencet tombol-tombolnya dengan wajah sumringah. Aku yang ada di depannya hanya bisa menghirup kopi perlahan-lahan dalam diam.

Mataku melirik bagian kasir. Mesin pembuat kopinya masih ada di sana. Tapi lelaki yang aku cari lenyap entah ke mana. Aku rindu kopi buatannya. Senyum anehnya. Lebih tepatnya senyum sok misteriusnya. Cara dia melayaniku. Cara dia bekerja. Semuanya tak bisa aku singkirkan dari kepalaku. Apakah benar yang dikatakan Yo? Bahwa aku mencintainya?

Tidak! Tidak! Tidak! Tentu saja tidak. Bagaimana mungkin aku punya perasaan seperti itu pada Taga? Dia memang seseorang yang penting tapi bukan karena aku punya perasaan cinta padanya.

Kencan ini memang tak ada enaknya sama sekali. Kami sibuk dengan diri kami masing-masing. Dia tak menatapku sama sekali. Aku senang dia tak menunjukkan ketertarikan terhadapku. Setidaknya aku tak perlu menambah daftar nama orang yang harus aku pikirkan untuk menjadi pelabuhan terakhirku.

“Kalau memang rindu padanya datangi saja rumahnya.”

“Siapa?”

“Kamu merindukan lelaki pembuat kopi itu kan?”

“Eh?”

“Sejak tadi kamu melihat tempat dia biasanya berada. Dia kan yang ada dalam kepalamu sekarang?”

“Bagaimana...”

“Cara berpikirmu sangat sederhana Maura.”

“Tapi...”

“Aku memang hanya ingin duduk di sini memperhatikanmu. Meskipun aku sambil menjawab semua pesan di ponselku.”

Aku, Maura. Membeku. Dia tahu.

“Kalau memang menyukainya, datangi saja rumahnya.”

“Kamu tahu rumah Taga?”

“Tidak. Tentu saja aku tak tahu. Aku hanya memberikan ide. Siapa tahu kamu tertarik dengan ideku.”

“Aku sudah mencari tahu tapi di sini semua informasi karyawannya dirahasiakan.”

“Kamu harus berusaha lebih keras kalau begitu.”

“Kamu berkencan denganku hanya untuk mengatakan itu?”

“Maura, dari semua yang mengencanimu tentu saja aku sama seperti mereka. Menyukaiku dan berharap bisa menjadi seseorang yang istimewa di sisimu. Tapi bagaimana mungkin aku menanyakan cinta pada seorang perempuan yang telah memberikan hatinya pada lelaki lain? Bahkan ketika lelaki itu tak ada di sini pun, kamu tetap saja lebih menginginkannya daripada aku.”

“Ivan.”

“Tak perlu menampiknya. Aku berada di daftar itu hanya karena ingin memastikan bahwa aku benar-benar tak ada kesempatan untuk masuk dalam kehidupanmu Maura. Aku benar. Tak ada tempat lagi di hatimu. Bahkan jika Tuhan memberikan sepuluh hati padamu, aku tak tahu bisakah aku berteduh di sana.”

“Ivan...”

Mata kami bertatapan beberapa lama. Dia tersenyum. Perih. Aku bisa merasakan duka di matanya.

“Kamu tahu apa yang paling menyebalkan di kencan kita hari ini?”

“Apa?”

“Aku sama sekali tak bisa mengalahkan seorang lelaki yang bahkan tak ada di sini.”

“Lantas maumu sekarang apa?”

“Pergi dari sini bersamamu.”

“Ke mana?”

“Suka menyanyi? Aku butuh teriak-teriak sekarang ini.”

Ivan membawaku ke pusat karaoke di tingkat atas. Bernyanyi dengan suara sumbang hingga serak. Beberapa jam kami lalui tanpa peduli dengan apa pun.
Langkahku ringan. Di sampingku Ivan ikut berjalan dengan kecepatan yang sama. Dia ingin mengantarku pulang. Remang cahaya lampu yang sama. Malam yang dinginnya juga sama. Hanya lelaki berbeda yang mengantarku. Tapi aku tak akan pernah lupa malam itu. Malam aku melabuhkan ciuman selamat malam di pipi Taga. Dia tak mengatakan apa-apa. Tak ada reaksi apa-apa. Dia hanya diam.

“Kamu memikirkannya lagi?”

“Eh?”

“Taga lagi kan?”

“Kamu paranormal ya?”

“Maura, selama ini hanya dia yang dekat denganmu. Sekarang dia tak ada di sisimu. Wajar jika kamu memikirkannya. Aku pasti akan melakukan hal yang sama apabila ada di posisimu saat ini.”

“Dia hanya teman baikku. Seseorang yang paling mengerti apa yang aku butuhkan selama beberapa tahun ini.”

“Dan dia satu-satunya laki-laki yang memberikan kesempatan kepada laki-laki lain untuk mendapatkan perempuan yang sangat berharga di dunia ini.”

“Terima kasih untuk hari ini. Kencan yang menyenangkan.”

Langkah kami terhenti di depan rumah berwarna gading itu.

“Kejar cinta yang kamu inginkan.”

Ivan mengatakannya sambil berlalu. Aku terdiam di depan pintu.

Related Posts

100 Kencan Buta [Bagian 14) Lelaki Kedua belas: Ivan
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).